Advertisement
Protes Iran Memanas, Khamenei Dikabarkan Siapkan Pelarian
Bendera Iran.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan menyiapkan rencana darurat meninggalkan Iran ke Rusia jika protes massa tak terkendali.
Informasi tersebut diungkapkan oleh seorang sumber intelijen kepada The Times, sebagaimana dilaporkan oleh Independent pada Rabu (7/1/2026). Langkah ini disebut sebagai upaya terakhir untuk menyelamatkan diri dari potensi kejatuhan rezim.
Advertisement
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Khamenei, yang kini berusia 86 tahun, akan meninggalkan Teheran bersama sekitar 20 orang dari lingkaran terdekatnya. Kelompok ini mencakup anggota keluarga dan ajudan senior. Keputusan evakuasi akan diambil jika terjadi pembelotan massal atau kegagalan total dalam barisan tentara dan pasukan keamanan.
"Rencana B ini disiapkan untuk Khamenei dan lingkaran terdalamnya, termasuk putranya, Mojtaba, yang kerap disebut-sebut sebagai calon penerus," ungkap sumber tersebut.
BACA JUGA
Beni Sabti, pakar intelijen yang telah memantau Iran selama puluhan tahun, menilai Rusia sebagai tujuan pelarian yang paling realistis. Menurutnya, kedekatan hubungan politik antara kedua negara menjadi faktor kunci.
"Ia mengagumi Vladimir Putin, dan secara budaya Iran merasa lebih dekat dengan Rusia. Jika harus kabur, Moskow adalah satu-satunya opsi realistis," kata Sabti. Rencana pelarian ini dikabarkan juga mencakup pengamanan aset luar negeri dan jalur evakuasi khusus dari Teheran.
Gelombang unjuk rasa di Iran saat ini dipicu oleh krisis ekonomi yang parah serta anjloknya nilai mata uang Rial. Kelompok hak asasi manusia mencatat sedikitnya 17 orang tewas dalam bentrokan hingga Senin (5/1/2026).
Meskipun awalnya dipicu isu ekonomi, tuntutan massa kini berkembang menjadi isu politik. Teriakan "Turunkan Republik Islam" dan "Matilah diktator" yang merujuk langsung pada Khamenei mulai menggema di berbagai kota besar.
Situasi di Iran semakin kompleks dengan adanya pernyataan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan dukungannya terhadap para demonstran. Hal ini memicu kekhawatiran akan adanya campur tangan asing dalam kedaulatan Iran.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berusaha meredam ketegangan dengan menyerukan dialog nasional. Pezeshkian menjanjikan reformasi untuk menstabilkan sistem moneter dan melindungi daya beli masyarakat.
Namun, masyarakat sipil menilai upaya tersebut belum membuahkan hasil nyata. Masalah mendasar seperti inflasi tinggi, ketimpangan ekonomi, dan tudingan korupsi sistemik terus menjadi bahan bakar yang membakar kemarahan publik di seluruh negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
10 Destinasi Terfavorit di Sleman Selama Libur Nataru, Ini Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Top Ten News Harianjogja.com Hari Ini: X-Men Sampai Profil Bek PSS
- Trump Teken Perintah Eksekutif, AS Keluar dari 66 Organisasi Global
- 18,45 Kg Sabu Digagalkan di Bandara Auckland, Nilai Rp68,5 M
- Jadwal DAMRI ke Bandara YIA, Kamis 8 Januari 2026
- Jenderal Iran Peringatkan AS, Klaim Militer Kini Lebih Kuat
- Jadwal SIM Keliling di Kulonprogo, Kamis 8 Januari 2026
- Geely Galaxy V900 Meluncur, Penantang Alphard Rp700 Jutaan
Advertisement
Advertisement




