Advertisement

Pergerakan Tanah Masih Terjadi di Lokasi Sinkhole Situjua Sumbar

Newswire
Selasa, 06 Januari 2026 - 13:57 WIB
Abdul Hamied Razak
Pergerakan Tanah Masih Terjadi di Lokasi Sinkhole Situjua Sumbar Sejumlah warga melihat dari jauh fenomena sinkhole yang terjadi di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (6/1/2026). Antara - Fandi Yogari

Advertisement

Harianjogja.com, SUMBAR— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menyebut pergerakan tanah masih terus terjadi di lokasi fenomena sinkhole atau tanah ambles di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.

Komandan Regu Tim Reaksi Cepat BPBD Limapuluh Kota Alexandra mengatakan, untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, petugas telah memasang garis polisi di sekitar lokasi sinkhole.

Advertisement

“Hingga saat ini pergerakan tanah masih terus terjadi dan hal ini telah diantisipasi dengan pemasangan garis polisi di sekitar sinkhole,” kata Alexandra, Selasa.

Dari hasil pendataan awal, lubang tersebut memiliki panjang sekitar 10 meter, lebar tujuh meter, dan kedalaman mencapai 5,7 meter. BPBD bersama aparat kepolisian dan pemerintah setempat khawatir lubang dapat semakin melebar dan membahayakan keselamatan warga.

“Kami terus mengimbau masyarakat agar mematuhi peringatan dan tidak melintasi garis polisi di sekitar tanah yang berlubang,” ujarnya.

Sementara itu, ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi Ade Edward menjelaskan, fenomena sinkhole lazim terjadi di kawasan batu kapur, termasuk di Nagari Situjua Batua, Kabupaten Limapuluh Kota.

Menurutnya, wilayah tersebut merupakan kawasan batu kapur yang tertutup material erupsi Gunung Sago, sehingga karakteristik batuan dasarnya tidak terlihat secara kasat mata. Lahan di kawasan ini dikenal subur dan banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai area pertanian.

“Batuan kapur mudah larut oleh air hujan. Proses pelarutan ini memicu terbentuknya rongga bawah tanah yang lama-kelamaan runtuh dan membentuk lubang besar atau sinkhole,” jelas Ade.

Ia menyarankan agar pemerintah daerah dan masyarakat segera melakukan penanganan darurat dengan menutup atau menimbun lubang menggunakan material tanah, pasir, dan batu, hingga dilakukan pengecoran untuk mencegah risiko kecelakaan.

“Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di Situjuah. Masyarakat setempat menyebutnya Sawah Luluih,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

DLH Sleman Siap Bangun Transfer Depo PSEL Piyungan 2026

DLH Sleman Siap Bangun Transfer Depo PSEL Piyungan 2026

Sleman
| Rabu, 07 Januari 2026, 22:57 WIB

Advertisement

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Wisata
| Rabu, 07 Januari 2026, 14:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement