Mudik Berbahaya karena Faskes di Daerah Belum Memadai

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo - Antara
05 Mei 2021 17:37 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta masyarakat tidak mudik pada Lebaran tahun ini. Dia mengingatkan masyarakat bahwa fasilitas kesehatan di daerah belum memadai.

Menurutnya, fasilitas pelayanan kesehatan dan medis di sejumlah daerah tidak cukup memadai sehingga dapat memperparah risiko ketika terpapar Covid-19.

“Di setiap daerah belum tentu memiliki rumah sakit yang memadai, belum tentu ada dokter yang merawat, akibatnya mereka yang terpapar Covid-19 bisa menjadi fatal, bisa mengakibatkan kematian dan banyak daerah yang mengalami peristiwa seperti itu pada tahun yang lalu,” katanya, Rabu (5/5/2021).

Dia mengajak semua kalangan bekerja sama melaksanakan kebijakan peniadaan mudik yang telah diputuskan pemerintah. Adapun pemerintah menetapkan pelarangan mudik pada 6 - 17 Mei 2021.

“Mari bekerja keras untuk mengingatkan masyarakat kita, jangan mudik, jangan mudik, jangan mudik,” terangnya saat menjadi pembicara pada forum merdeka barat itu.

Berdasarkan hasil survei masih terdapat tujuh persen masyarakat yang hendak mudik pasca diumumkannya kebijakan peniadaan mudik yang diputuskan pemerintah.

Angka tersebut sama dengan 18,9 juta orang dari 270 juta populasi penduduk Indonesia. Untuk itu, Ketua Satgas meminta agar semua unsur di daerah dapat melakukan sosialisasi setiap saat terkait kebijakan peniadaan mudik ini.

Sementara itu, dia menilai keputusan pemerintah sudah sangat tepat untuk melarang mudik demi menekan angka penularan.

“Berkaca pada perjalanan kita sudah setahun lebih menghadapi Covid-19, setiap libur panjang pasti akan diikuti dengan kenaikan kasus aktif dan juga akan diikuti dengan bertambahnya angka kematian,” jelasnya.

Angka peningkatan dalam rentang 46-75 persen untuk angka kematian, sedangkan peningkatan angka kasus aktif pada 70-119 persen. “Jadi sangat tinggi sekali. Setiap habis libur panjang diikuti dengan kenaikan kasus aktif,” tutur Doni.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia