Amien Rais: Moeldoko Ambil Alih Demokrat karena Kedipan Lurah

Mantan Ketua MPR Amien Rais - Youtube
15 Maret 2021 11:37 WIB Fitri Sartina Dewi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pendiri Partai Ummat Amien Rais menuding manuver politik Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko di Partai Demokrat mendapatkan dukungan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dia juga menyebut bahwa tindakan yang dilakukan Moeldoko ini merupakan sesuatu hal yang luar biasa dan sangat berani.

"Saya tidak yakin Moeldoko seberani itu tanpa kerlingan atau kedipan dari lurah kita," ujarnya seperti dikutip dari Youtube Amien Rais Official, Sabtu (13/3/2021).

BACA JUGA : Salim Said: SBY yang Pertama Mengkudeta Partai Demokrat

Adapun, istilah lurah ini seringkali digunakan merujuk untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Lebih lanjut, Amien mengatakan hingga saat ini Presiden Jokowi belum menyampaikan sepatah kata pun terkait persoalan Partai Demokrat yang melibatkan Moeldoko.

Mantan Ketua MPR RI ini menyebut sudah ada beberapa pihak baik dari kubu pendukung maupun oposisi yang meminta agar Jokowi segera mencopot Moeldoko dari jabatannya sebagai KSP.

Desakan itu, imbuhnya, bertujuan agar persoalan yang melibatkan Moeldoko ini tidak mengotori rezim Jokowi

"Tapi saya rasa kalau seseorang sudah sangat dekat itu, saling menutup dan mendukung, jadi kalau ada satu jatuh, temannya juga akan jatuh. Jadi memang ini dilema politik dan moral yang luar biasa," kata Amien.

BACA JUGA : AHY Ajukan Gugatan, Demokrat versi KLB: Kami Tunggu!

Seperti diketahui, Moeldoko ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatra Utara.

Adapun, upaya pengambilalihan Partai Demokrat ini sebelumnya telah disampaikan oleh Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dia menyatakan ada orang dekat di lingkaran pemerintah yang ingin merebut Partai Demokrat.

Politikus Partai Demokrat pun membeberkan bahwa sosok di lingkaran pemerintah yang dimaksud ialah Moeldoko. Namun, saat itu Moeldoko sempat membantah dan meminta agar Jokowi tidak dikait-kaitkan dengan persoalan Demokrat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia