Advertisement

Iran Sebut AS Minta Bantuan Negara Regional Amankan Selat Hormuz

Newswire
Minggu, 15 Maret 2026 - 18:07 WIB
Abdul Hamied Razak
Iran Sebut AS Minta Bantuan Negara Regional Amankan Selat Hormuz Kapal patroli milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) di Selat Hormuz. ANTARA/Xinhua - aa.

Advertisement

Harianjogja.com, ISTANBUL—Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Amerika Serikat meminta bantuan negara-negara regional untuk mengamankan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Melalui unggahan di platform media sosial X pada Sabtu (14/3/2026), Araghchi menilai kerangka keamanan yang dibangun oleh Amerika Serikat di kawasan tersebut tidak efektif. Menurutnya, sistem keamanan regional yang dipayungi Washington justru terbukti memiliki banyak kelemahan.

Advertisement

Ia menulis bahwa kerangka keamanan Amerika Serikat di kawasan itu “terbukti penuh celah dan malah mengundang masalah daripada mencegahnya.”

Araghchi juga mengeklaim Washington bahkan meminta bantuan negara lain, termasuk China, untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia.

Ia pun mendesak negara-negara tetangga di kawasan tersebut untuk mengusir “agresor asing”. Dalam pernyataannya, Araghchi menyebut satu-satunya kekhawatiran utama Iran di kawasan itu adalah Israel.

Situasi di Selat Hormuz sendiri dilaporkan memanas setelah Iran secara efektif menutup jalur pelayaran tersebut sejak sekitar 1 Maret 2026. Penutupan ini terjadi di tengah meningkatnya permusuhan antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel.

Gangguan terhadap pengiriman melalui selat tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dan pupuk di pasar global serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu menyatakan bahwa negara-negara yang menerima pasokan minyak melalui jalur strategis tersebut seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanan jalur maritim itu.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap akan memberikan dukungan dalam upaya pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Sebelumnya, Trump juga menyampaikan bahwa pengawalan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz dapat dimulai “segera”.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Amerika, MS Now TV, Araghchi menyebut jalur perairan tersebut masih terbuka bagi kapal-kapal yang tidak berasal dari Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu mereka.

"Kapal-kapal lain bebas untuk lewat," tambahnya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang di Iran, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Teheran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta memicu gangguan pada pasar global dan aktivitas penerbangan internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

109 Pedagang Pantai Sepanjang Terima Kekancingan Tanah SG

109 Pedagang Pantai Sepanjang Terima Kekancingan Tanah SG

Gunungkidul
| Minggu, 15 Maret 2026, 19:37 WIB

Advertisement

Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul

Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul

Wisata
| Sabtu, 14 Maret 2026, 10:32 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement