Advertisement
Menteri Energi AS: Perang Lawan Iran Berakhir dalam Hitungan Pekan
Ilustrasi rudal Iran./ Frepik
Advertisement
Harianjogja.com, WASHINGTON—Pemerintah Amerika Serikat memberikan estimasi waktu paling konkret terkait durasi konflik bersenjata melawan Iran yang telah berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan bahwa perang gabungan yang melibatkan kekuatan militer AS dan Israel tersebut diprediksi akan tuntas dalam kurun waktu beberapa pekan ke depan.
Advertisement
Pernyataan Wright ini menjadi sinyal optimisme pertama dari kabinet pemerintahan AS sejak serangan dimulai pada 28 Februari 2026. "Konflik ini akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan," ujar Wright saat berbicara dalam program berita ABC News, Minggu (15/3/2026), bahkan ia menambahkan kemungkinan penyelesaian bisa terjadi lebih cepat dari perkiraan semula.
Meskipun optimis perang segera usai, Wright tidak memungkiri bahwa masyarakat Amerika Serikat masih harus menanggung beban kenaikan harga bensin dalam jangka pendek.
Namun, ia memproyeksikan stabilitas harga energi akan berangsur membaik begitu operasi militer dinyatakan selesai, walaupun ia tetap memberikan catatan bahwa dalam situasi perang tidak pernah ada jaminan kepastian yang absolut.
Gangguan pasokan energi dunia dan lonjakan harga di pasar global disebutnya sebagai risiko yang memang harus dihadapi demi mencapai tujuan strategis di kawasan tersebut.
Hingga saat ini, operasi militer yang diluncurkan sejak akhir bulan lalu itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Ketegangan semakin memuncak setelah Iran melancarkan serangan balasan menggunakan teknologi drone dan rudal balistik ke sejumlah titik strategis.
Serangan balasan tersebut menyasar wilayah Israel, Yordania, dan Irak, serta menyasar pangkalan-pangkalan militer di negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer Washington di Timur Tengah.
Situasi keamanan di jalur distribusi minyak internasional pun masih berada dalam level waspada tinggi mengingat aksi saling balas yang terus berlanjut di antara kedua belah pihak.
Masyarakat internasional kini menanti pembuktian dari klaim pemerintah AS tersebut, sementara fluktuasi harga komoditas energi masih menjadi perhatian utama bagi stabilitas ekonomi dunia yang terdampak langsung oleh krisis di jantung Timur Tengah ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Hujan Deras dan Angin Kencang Ganggu 15 Penerbangan di Juanda
- Iran Sebut AS Minta Bantuan Negara Regional Amankan Selat Hormuz
- WHO: 14 Tenaga Medis Tewas dalam Serangan Fasilitas Kesehatan Lebanon
- Trump Sebut Banyak Negara Siap Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
Advertisement
Daftar Tol Fungsional Lebaran 2026: Jogja-Solo hingga Japek II Selatan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- MotoGP Brasil 2026: Fermn Aldeguer Siap Comeback di Gresini
- Prediksi Idulfitri 2026 Jatuh 20 Maret, Ini Penjelasan Pakar
- Juventus Tekuk Udinese 1-0, Gol Jeremie Boga Bawa ke Empat Besar
- Iran Beralih ke BeiDou China, Tinggalkan Sistem GPS AS
- Maarten Paes Clean Sheet, Ajax Hajar Sparta Rotterdam 4-0
- Man City Ditahan West Ham 1-1, Arsenal Makin Kokoh di Puncak
- Apple Pangkas Komisi App Store di China Jadi 25 Persen
Advertisement
Advertisement








