Lagi, Enam Orang Demonstran Ditembak Mati oleh Aparat Myanmar

Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer
14 Maret 2021 13:37 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pasukan keamanan di Myanmar kembali menghadapi pelaku aksi protes kudeta dengan kekuatan mematikan dan menewaskan sedikitnya enam orang dengan menembakkan peluru tajam ke arah demonstran, menurut laporan saksi dan media lokal.

Empat kematian dilaporkan di Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu, dan dua di Pyay, sebuah kota di Myanmar bagian selatan. Media sosial turut melaporkan tentang kematian tersebut yang disertai foto orang yang tewas dan terluka di kedua lokasi.

BACA JUGA : Junta Militer Myanmar Coret Pemberontak Rakhine dari Daftar

Lebih dari 70 orang tewas di Myanmar dalam aksi protes yang meluas terhadap kudeta militer 1 Februari, menurut kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) dan ahli hak asasi manusia PBB independen untuk Myanmar, Tom Andrews seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (14/3/2021).

Aksi protes juga telah menyebar ke kota-kota kecil. “Kami juga melihat aksi protes menyebar secara luas. Tidak hanya di pusat kota besar
segera setelah kudeta, tetapi juga di kota-kota kecil di seluruh negeri,” katanya.

Di daerah dengan kelompok etnis minoritas juga disebutkan terjadi perlawanan. Masyarakat terus menunjukkan kesadaran yang sangat besar akan bahaya yang dihadapi dan benar-benar berkomitmen untuk menghadapi kudeta militer.

Semakin banyaknya kematian terjadi ketika para pemimpin Amerika Serikat, India, Australia dan Jepang berjanji untuk bekerja sama memulihkan demokrasi di negara Asia Tenggara itu.

BACA JUGA : Sejumlah Negara Tak Sepakat Soal Kudeta, DK PBB Hanya 

Aksi protes kemarin meletus setelah poster-poster menyebar di media sosial yang mendesak orang-orang untuk mengikuti peringatan kematian Phone Maw, yang ditembak dan dibunuh oleh pasukan keamanan pada 1988 di lokasi yang kemudian dikenal sebagai kampus Institut Teknologi Rangoon.

Diperkirakan 3.000 orang telah terbunuh ketika tentara menghancurkan pemberontakan pada 1988 sekaligus tantangan terbesar bagi pemerintahan militer sejak tahun 1962.

Aung San Suu Kyi muncul sebagai ikon demokrasi sejak itu setelah ditahan di rumahnya selama hampir dua dekade. Dia dibebaskan pada 2008 ketika militer memulai reformasi demokrasi dan Liga Nasional untuk Demokrasi memenangkan pemilihan umum pada 2015 dan sekali lagi pada bulan November tahun lalu.

Sumber : Aljazeera.com