Varian Corona N439K Masuk Indonesia, Ini Peringatan Ahli yang Tak Boleh Diabaikan

Ilustrasi mutasi virus corona B117 - JIBI/Bisnis.com
13 Maret 2021 17:17 WIB Oktaviano DB Hana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Guru Besar Universitas Indonesia Profesor Zubairi Djoerban mengingatkan masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat setelah ditemukan kasus virus Corona atau Covid-19 berupa mutasi N439K di Indonesia.

Melalui akun Twitternya, @ProfesorZubairi, Sabtu (13/3/2021) 11.42 WIB, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Pengurus Besar IDI (Satgas Covid-19 PB IDI) itu mengatakan bahwa 48 kasus mutasi N439K telah terdeteksi di Indonesia.

Ahli ilmu penyakit dalam itu pun meminta masyarakat untuk tetap awas dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat sebagai langkah antisipasi.

"Pesan saya. Tetap jaga jarak, pakai masker dan hindari kerumunan, apalagi di dalam ruangan. Jangan bosan saling ingatkan. Pandemi belum usai," tegasnya dalam sebuah utasan di Twitter.

Zubairi pun memberikan gambaran mengenai varian virus Corona tersebut. Menurutnya, varian N439K diduga muncul dua kali secara terpisah yakni pertama kali di Skotlandia saat awal pandemi Covid-19.

Kemudian, varian N439K muncul kedua kalinya di Eropa dengan jangkauan lebih luas dan bahkan telah sampai di Indonesia.

"N439K ini awalnya dianggap menghilang saat lockdown diberlakukan di Skotlandia. Tapi justru muncul di Rumania, Swiss, Irlandia, Jerman dan Inggris. Dus, mulai November tahun lalu, varian ini dilaporkan menyebar secara luas," ujarnya dalam sebuah utasan di Twitter.

Zubairi memerinci bahwa sifat varian N439K yang tahan atau tak mempan terhadap antibodi itu menjadi sorotan. Varian tersebut tahan baik terhadap antibodi dari tubuh orang yang telah terinfeksi, maupun antibodi yang telah disuntikkan ke tubuh seseorang.

Menurutnya, Amerika Serikat telah mencoba untuk mengantisipasi N439K dengan mengeluarkan emergency use authorization (EUA) untuk dua jenis obat antibodi monoklonal dalam pengobatan Covid-19. Namun, jelas dia, N439K ternyata tidak mempan diintervensi oleh obat tersebut.

"Dikatakan Gyorgy Snell, Direktur Senior Biologi Struktural di Vir Biotechnology California, N439K punya banyak cara mengubah domain imunodominan untuk menghindari kekebalan (tubuh manusia)—sekaligus mempertahankan kemampuannya untuk menginfeksi orang," tulis Zubairi.

Namun, Zubairi mengatakan bahwa berdasarkan catatan epidemiolog, penyebaran N439K tidak secepat varian Covid-19 lainnya, yakni B117 yang penyebaran awalnya terdeteksi di Inggris. Dia pun berharap hal itu tetap berlaku ke depannya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia