Lebih Kuat, Strain Covid-19 Asal Afrika Kebal Antibodi

Ilustrasi-Tes virus Corona - Antara
22 Januari 2021 21:17 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah studi yang diterbitkan di platform pracetak bioRxiv mengindikasikan strain virus Corona asal Afrika Selatan lebih kuat dibandingkan jenis lainnya.

Mereka menyebut strain yang diberi nama 501Y.V2 ini lolos dari antibodi penawar pasien yang pulih dari Covid-19.

Sejauh ini para ilmuan menyatakan strain virus corona asal Afrika tersebut digadang-gadang lebih menular dan dapat menyebabkan beberapa hambatan dalam keefektifan vaksin Covid-19.

BACA JUGA: Pegawai Terpapar Covid-19, Disdukcapil Sleman Batasi Pelayanan

Namun menurut penelitian studi terbaru 501Y.V2 memiliki mutasi pada sembilan bagian protein lonjakannya, yang membuatnya lebih efisien dalam memasuki dan menginfeksi sel manusia.

Melansir dari Times of India, Jumat (22/1/2021), setelah mengambil antibodi penawar dari pasien yang pulih dari Covid-19, para peneliti mengujinya terhadap varian baru. Mereka menyimpulkan bahwa 21 dari 44 sampel tidak memiliki aktivitas penetralan yang terdeteksi terhadap varian ini.

"Virus mutan menunjukkan pelarian substansial atau lengkap dari antibodi penawar dalam plasma pemulihan Covid-19," kata para ilmuan yang melakukan penelitian ini.

Mereka lebih lanjut menyoroti peningkatan kemungkinan infeksi ulang. Meski begitu, penelitian tersebut telah mengklaim bahwa varian baru mungkin menunjukkan penurunan kemanjuran vaksin berbasis lonjakan saat ini.

Strain 501Y.V2 ditemukan di wilayah metropolitan Nelson Mandela Bay di provinsi Eastern Cape, Afrika Selatan.

Strain virus baru ini mencakup mutasi genetik pada protein lonjakan yang dapat menjadi penyebab penyebaran virus secara cepat dan mudah di antara manusia.

Protein lonjakan inilah yang menyebabkan virus corona masuk ke dalam sel manusia. Menurut para ilmuwan, varian tersebut dapat memasuki sel manusia dengan lebih mudah karena tiga mutasi pada reseptor-binding domain (RBD) pada lonjakan glikoprotein virus.

Sumber : Bisnis.com