Iran Mulai Produksi Logam Uranium untuk Rancang Senjata Nuklir

Iran mulai mengembangkan produksi uranium. - Hurriyet Daily News
15 Januari 2021 23:17 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Iran memulai riset dan pengembangan bagi produksi logam uranium yang dapat digunakan untuk membuat material bagi senjata nuklir.

Menurut laporanĀ Nippon Hoso Kyokai/NHK pada Jumat (15/1/2021), Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) telah menyampaikan bahwa mereka telah menerima pemberitahuan tertulis dari Iran. Negara itu menyampaikan telah memulai pekerjaan di sebuah fasilitas nuklir di Provinsi Isfahan, Iran tengah, dengan menyiapkan peralatan baru.

Duta Besar Iran untuk IAEA, Kazem Gharib Abadi, menuliskan di Twitter bahwa logam uranium akan digunakan sebagai bahan bakar untuk Reaktor Riset Teheran yang diklaim Iran akan digunakan untuk tujuan damai.

Langkah terbaru Iran ini diyakini melanggar kesepakatan nuklir 2015 dengan negara-negara besar dunia yang melarang riset, pengembangan, serta produksi logam uranium untuk periode waktu tertentu.

Sebelumnya bulan ini, pemerintah Iran telah memulai kembali pengayaan uranium hingga tingkat kemurnian 20 persen di sebuah fasilitas nuklir di Fordow, Iran tengah. Tindakan ini melanggar kesepakatan nuklir tersebut.

Para analis menyatakan bahwa dengan langkah Iran menuju produksi logam uranium, negara itu kemungkinan mencoba memberikan tekanan kepada pemerintahan Presiden Amerika Serikat berikutnya, Joe Biden, sebagai upaya agar sanksi-sanksi atas Iran dicabut.

Adapun pekan lalu, IAEA telah mengonfirmasi bahwa Iran memulai proses menuju pengayaan 20 persen. Langkah terbaru ini dipandang sebagai upaya oleh pemerintah Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden agar secepatnya mencabut sanksi atas Iran.

"Iran hari ini mulai memproduksi uranium yang telah diperkaya hingga 4,1 persen U-235 ke dalam enam kaskade sentrifugal di Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordow untuk pengayaan lebih lanjut hingga 20 persen," demikian pernyataan IAEA dalam laporan yang dikirim ke negara-negara anggotanya.

Meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS akibat pengayaan uranium yang dilakukan oleh Iran tentunya menimbulkan kekhawatiran bagi banyak negara di dunia. Pasalnya, hal tersebut menunjukkan ancaman terjadinya perang nuklir di kemudian hari yang melibatkan dua negara dan akan berdampak bagi kehidupan jutaan manusia di dunia.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia