Advertisement
Militer AS Kembangkan Teknologi Telepati, Baca Pikiran Orang di Medan Perang
Militer AS mengembangkan teknologi telepati untuk membaca pikiran tentara di medan perang - Reuters/Oleg Popov
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Laboratorium Penelitian Komando Pengembangan Kemampuan Tempur Angkatan Darat Amerika Serikat berhasil membedakan sinyal otak dan mengembangkan teknologi telepati.
Dipersenjatai dengan algoritma dan matematika yang kompleks, para peneliti dapat mengidentifikasi sinyal otak mana yang mengarahkan gerakan, atau sinyal yang relevan dengan perilaku, dan kemudian menghilangkan sinyal tersebut dari sinyal otak lain yang dianggap tidak relevan dengan perilaku.
Advertisement
Dr Hamid Krim, seorang manajer program di Kantor Riset Angkatan Darat berpendapat bahwa teknologi telepati ini pada akhirnya dapat memberi tentara AS keunggulan di garis depan. “Tujuan dari proyek AS-Inggris yang cukup besar ini disebut sebagai antarmuka mesin-otak," ujarnya seperti dilansir dari Express UK, Selasa (15/12/2020).
BACA JUGA : TNI AD Kirim Ratusan Prajurit ke Amerika Serikat
Dengan kata lain kata Krim, pihaknya mencoba untuk membuat otak manusia dan mesin terlibat dalam komunikasi dan dialog dupleks, sehingga jika mesin benar-benar dapat membaca 'pikiran', pada gilirannya dapat memberi sinyal umpan balik kepada seseorang untuk membuat pesanan.
“Apa yang dapat mereka lakukan adalah merancang metodologi dan sekarang algoritma matematika yang benar-benar dapat memisahkan perilaku yang relevan dan yang tidak relevan. Itu benar-benar luar biasa, karena di masa depan, potensi dampaknya pada banyak hal berbeda," jelasnya.
Dia menturkan, jika seorang tentara berada dalam situasi di mana mereka tidak dapat berbicara, atau tidak dapat berbicara dengan suara keras untuk melakukan percakapan, mereka dapat melakukan percakapan diam-diam dengan mesin, yang pada gilirannya dapat berkomunikasi dengan tentara lain. "Jadi, dalam arti tertentu, Anda dapat membangun komunikasi diam," imbuhnya.
Penelitian ini juga dapat memiliki konsekuensi untuk mendeteksi stres. “Katakanlah misalnya, orang tersebut mungkin mulai stres, lelah, atau terlibat dalam suatu aktivitas, terkadang Anda lupa atau Anda menolak untuk mengakui bahwa Anda mulai lelah. Mungkin, jika mesin dapat mengingatkan Anda tentang hal itu, atau mampu memberi umpan balik, dalam arti tertentu, maka lebih baik," tutur Krim.
BACA JUGA : Ada Tentara di Markas FPI, Refly Harun: Koopsus TNI Hanya
Adapun eksperimen tersebut juga melibatkan peneliti dari University of Southern California, Duke dan New York University, bekerja sama dengan para ahli dari Oxford University dan Imperial College London. Ini melibatkan pemantauan tindakan monyet yang meraih bola untuk memisahkan sinyal gerak otak dari aktivitas lain.
Mereka sekarang mencari sinyal lain untuk diidentifikasi, di luar gerakan.“Hasilnya sudah ada sekarang, apakah mereka berhasil untuk keperluan medis atau sesuatu seperti besok, mungkin tidak, itu akan memakan waktu. Tapi, salah satu aplikasi lainnya jelas untuk prostesis, bisa dibayangkan mungkin, prostesis yang lebih pintar dan lebih cerdas yang dapat bereaksi, seperti tangan kita akan bereaksi terhadap pikiran di otak kita," kata Krim.
Kapan akan tersedia? Krim mengatakan bergantung pada minat, ekonomi, dan faktor lainnya. Namun, meskipun kemajuan signifikan dibuat dengan antarmuka otak manusia, kemajuan teknologi terhambat oleh kerumitan otak yang membingungkan. Dasar neurologis untuk kondisi emosional masih jauh dari pemahaman.
BACA JUGA : Panglima TNI : Lihat Tentara Tidak Netral saat Pemilu
Selain itu, melatih otak untuk melakukan tugas yang paling sederhana sekalipun melalui antarmuka yang terhubung dengan komputer membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, Dr Krim yakin "komunikasi dupleks penuh" akan segera terjadi. "Ini bukan hanya kue di langit - ini mungkin, beberapa tahun, mungkin satu dekade atau sesuatu di masa mendatang, tetapi bagaimanapun, ini realistis," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- IAGI Ungkap Dua Penyebab Dugaan Sinkhole di Limapuluh Kota
- Indonesia Larang Impor Daging Babi dari Spanyol akibat Wabah ASF
- Bareskrim Selidiki Dugaan Kejahatan Lingkungan di Banjir Bandang Aceh
- Kim Jong Un Klaim Uji Rudal Hipersonik Respons Situasi Global
- Venezuela Bergejolak Usai Maduro Ditangkap Pasukan AS
Advertisement
DPRD DIY Tolak Pilkada Lewat DPRD, Dinilai Hilangkan Hak Rakyat
Advertisement
Korea Selatan Perpanjang Bebas Biaya Visa hingga Juni 2026
Advertisement
Berita Populer
- Experience Economy Diprediksi Menguat, Jogja Punya Modal Besar
- Warga Titip Sampah ke Pasar di Kulonprogo, Volume Melonjak 20 Persen
- Bhayangkara Presisi Lampung Tekuk Dewa United 1-0
- Ribuan Wajib Pajak Lapor SPT Lewat Coretax Awal 2026
- Wisata Klaten Tumbuh, Kunjungan 2025 Tembus 7,5 Juta
- Dua Dukuh Seloharjo Dicopot Seusai Terbukti Curi Gamelan
- Sekretariat Kabinet Jelaskan Pasal Krusial KUHP dan KUHAP Baru
Advertisement
Advertisement



