Bantu Penanganan Covid-19, Batan Gunakan Iradiasi Gama untuk Lemahkan Virus

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan. - Ist/Dok.
08 Oktober 2020 09:37 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menggunakan iradiasi gama untuk melemahkan virus dalam membantu proses penanganan Covid-19. Melalui akademisinya di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), lembaga ini juga memfasilitasi dosennya untuk mengembangkan teknologi canggih dalam mengontrol ventilator dengan satu remote bagi pasien Covid-19.

Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan menjelaskan dari sisi keilmuan memang pihaknya tidak terlibat secara langsung terkait Covid-19. Namun Batan tergabung dalam konsorsium penanganan Covid-19 bentukan Kemenristek/BRIN terutama terkait dengan pengembangan vaksin. Dalam posisi ini Batan bertugas mengembangkan antiserum terkait dengan vaksin dengan memanfaatkan teknologi iradiasi gama untuk melemahkan virus.

BACA JUGA : Perpres Vaksin Corona Diteken Jokowi, Vaksinasi Hingga 2022

“Posisi kami lebih pada kerja yang mengembangkan antiserum dan vaksin dari sisi aplikasi iradiasi. Karena dalam proses pembuatan vaksin perlu dilemahkan virusnya. Ini salah satunya diperlukan iradiasi gama. Jadi keterlibatan kami dari Batan ada kelompok yang mengembangkan anti serum dan ada yang kelompok di pengembangan vaksin,” ungkapnya dalam dialog virtual di sela-sela Wisuda STTN-Batan, Kamis (8/10/2020).

Ia menambahkan menggunakan sejumlah dosis iradiasi gamma yang sesuai untuk menonaktifkan virus. “Melemahkan virus memang menggunakan berbagai macam cara, tetapi kami menggunakan iradiasi,” ujarnya.

Ketua STTN Batan, Edy Giri Rachman Putra menambahkan dalam penanganan Covid-19 ini pihaknya juga sedang mengembangan sebuah teknologi canggih untuk membantu mobilitas perawat pasien Covid-19 yang menggunakan ventilator. Selama ini perawat harus mengontrol satu per satu ventilator yang digunakan pasien Covid-19. Namun dalam teknologi yang dikembangkan akan menggunakan satu remote di satu ruangan sehingga mengurangi mobilitas perawat.

BACA JUGA : Awal Tahun Depan, Vaksin Corona Digunakan di Australia

“Mengontrol akurasi pasien covid bernafas dengan ventilator, perawat kan tidak selalu berada di ruang perawatan, ini dikendalikan dengan teknologi yang bisa mengontrol semua pasien dalam satu ruangan. Kalau saat ini kan satu ventilator satu pemantau, ini sekarang bisa diremote dari ruangan berbeda. Jumlah perawat bisa satu dua orang saja sehingga lebih efektif,” katanya.  

Di 2020 ini, bidang nuklir di Indonesia kembali mendapatkan pasokan tenaga muda dengan telah diwisudanya sebanyak 101 cendekiawan muda keilmuan nuklir di STTN Batan pada Rabu (7/10/2020). Terdiri atas 38 orang prodi Elektronika Instumentasi, 35 orang Elektro Mekanika dan 28 orang Teknokimia Nuklir. Pihaknya mengapresiasi para lulusan, mengingat sejak awal 2020 mahasiswa harus menyelesaikan studi dan tugas akhirnya dengan penuh perjuangan dan keterbatasan karena banyaknya perubahan kebijakan akademik akibat pandemi Covid-19.

“Tema penelitian tugas akhir yang sudah dibuat sebelumnya, harus disesuaikan kembali mengingat kegiatan penelitian tidak dapat dilakukan di laboratorium. Diskusi, bimbingan dengan dosen pembimbing serta ujian skripsi dilakukan secara daring, termasuk menyelesaikan pelatihan Petugas proteksi radiasi industri tingkat pertama,” ungkap Edy Giri.