Makam Korban Covid-19 Digali Beberapa Bulan Setelah Meninggal

Pemakaman di Irak - JIBI
14 September 2020 17:47 WIB Yudi Supriyanto News Share :

Harianjogja.com, NAJAF—Panas terik matahari tidak menyurutkan usaha Mohammad al-Bahadli menggali pasir gurun di Irak dengan tangan kosong untuk mendapatkan mayat ayahnya yang dikubur di makam khusus korban meninggal Covid-19.

"Sekarang dia akhirnya bisa bersama orang-orang kami, keluarga kami, di pemakaman tua," kata Bahadli.

Dilansir dari Straits Times, pria berusia 49 tahun tersebut adalah satu dari banyak warga Irak yang memutuskan untuk memindahkan makam keluarga mereka ke makam keluarga setelah pemerintah melonggarkan kebijakan penguburan korban Covid-19.

Selama berbulan-bulan, mereka tidak diperbolehkan membawa jenazah keluarga mereka yang meninggal akibat virus Corona baru tersebut karena ada kekhawatiran jenazah dapat menyebarkan virus tersebut.

Guna memakamkan korban meninggal akibat Covid-19, otoritas membuka makam khusus di sebidang gurun. Di tempat ini, para sukarelawan dengan alat pelindung diri mengubur para korban meninggal Covid-19 dengan jarak hingga 5 meter antara satu dengan lainnya.

Hanya satu kerabat yang diizinkan menghadiri pemakaman, yang biasanya dilakukan di tengah malam.
Namun pada 7 September, pihak berwenang Irak mengumumkan bahwa akan mengizinkan mereka yang meninggal setelah tertular Covid-19 dipindahkan ke pemakaman pilihan keluarga mereka.

Banyak dari mereka yang terkubur di bawah aturan darurat berasal dari bagian lain negara itu.

"Pertama kali, dia dimakamkan begitu jauh," kata Bahadli tentang alasan dirinya ingin memindahkan makam ayahnya.
Kemudian, dia tidak yakin pemakaman ayahnya dilakukan dengan cara-cara yang benar sesuai agamanya.

Irak telah menjadi salah satu negara yang paling terpukul di Timur Tengah oleh Covid-19, dengan lebih dari 280.000 infeksi dan hampir 8.000 kematian.
Pada 4 September, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kemungkinan penularan saat menangani jenazah manusia rendah.

Beberapa hari kemudian, setelah tekanan dari keluarga, otoritas Irak mengumumkan mereka akan mengizinkan jenazah dipindahkan hanya oleh tim kesehatan khusus.

Tapi penguburan ulang justru berjalan kacau. Di pemakaman khusus korban Covid-19 di gurun di luar Najaf, ratusan keluarga mulai berdatangan pada Kamis malam untuk menggali anggota keluarga mereka dan membawa pulang jenazahnya.

Mereka membawa sekop sendiri, keranjang untuk menyendok pasir, dan peti kayu baru untuk membawa orang meninggal. Suara isak tangis dan doa duka bercampur dengan denting beliung bergema di pasir.

Tidak ada profesional medis atau pemandu pemakaman di lokasi untuk membantu keluarga menemukan atau menggali jenazah dengan benar.

Dalam beberapa kasus, keluarga menggali kuburan yang ditandai dengan nama kerabat, hanya untuk menemukan peti mati kosong, atau jenazah yang berbeda.

Ada juga beberapa mayat tidak dibungkus dengan kain kafan, yang diharuskan oleh Islam sebagai tanda penghormatan. Temuan itu memicu kecaman dan kemarahan.

"Para penggali kuburan tidak memiliki keahlian atau bahan yang tepat," kata Abdallah Kareem, yang saudaranya, Ahmed meninggal karena komplikasi Covid-19.

"Mereka bahkan tidak tahu bagaimana menemukan kuburan," katanya.

Kareem, yang datang dari sekitar 230 km ke selatan di provinsi Muthanna, Irak, memilih untuk tidak menguburkan kembali saudaranya jika hal itu melanggar dekrit agama.

Dalam Islam, almarhum harus dimakamkan secepatnya, biasanya dalam waktu 24 jam.

Seorang ulama Najaf mengungkapkan kremasi dilarang keras dan pemakaman kembali hampir tidak pernah terdengar - meskipun tidak selalu dilarang jika tubuh tetap utuh.

Terlepas dari kerumitannya, keluarga tetap lega bisa menjalankan penguburan secara tradisional.

“Sejak ayah saya dimakamkan di sini, saya terus mengulang kata-katanya di kepala saya sebelum dia meninggal: 'Nak, cobalah untuk menguburkan saya di pemakaman keluarga, jangan biarkan saya terlalu jauh dari kerabat saya,’” kata Hussein, seorang pelayat lain yang hanya memberikan nama depannya.

Pria berusia 53 tahun itu menggali tubuh ayahnya dengan tangan untuk dipindahkan ke pemakaman Wadi al-Salam yang luas, tempat jutaan Muslim Syiah dimakamkan.

"Mimpi yang menghantui saya selama beberapa bulan terakhir ini telah terwujud," kata Hussein

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia