Advertisement
Dibuang di Merapi & Goa Parangtritis, 2 Jenazah Korban Jagal Kartasura Hingga Kini Masih Misteri
Yulianto, tukang pijat di Kartasura, Sukoharjo, yang membunuh tujuh orang satu dekade lalu. (Solopos - dok)
Advertisement
Harianjogja.com, SOLO-- Kasus pembunuhan jagal Kartasura Yulianto hingga kini masih menyisakan mister ihwal keberadaan jenazah korban pembunuhan.
Jenazah dua korban pembunuhan oleh jagal Kartasura, Sukoharjo, Yulianto, satu dekade lalu hingga kini tak ditemukan. Dua jenazah itu dibuang di Gunung Merapi dan goa di Pantai Parangtritis, DIY.
Advertisement
Informasi yang dihimpun Solopos.com-jaringan Harianjogja.com, dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo terungkap Yulianto, warga Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, menghabisi tujuh orang. Salah satunya Kopda Santoso, anggota Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan.
Namun dari tujuh orang itu, penyidik Polres Sukoharjo hanya menemukan lima jenazah korban. Sedangkan dua jenazah lain tak berhasil ditemukan lantaran dibuang di lereng Gunung Merapi dan di goa di Parangtritis, DIY.
“Jumlah korban di persidangan terungkap ada tujuh orang. Ada yang di lereng Merapi, ada yang di Parangtritis, ada yang di Kartasura. Itu yang saya ingat. Yang ditemukan lima korban. Yang dua korban tak ditemukan,” ujar Sutarto, mantan penasihat hukum Yulianto, saat dihubungi Solopos.com melalui telepon seluler, Senin (24/8/2020).
Dibuang di Jurang
Tidak ditemukannya dua jenazah korban jagal Kartasura, Sukoharjo, itu menurut Sutarto, lebih karena faktor alam. Lokasi pembuangan jenazah di lereng gunung dan satu lagi di sebuah goa di Parangtritis.
Jenazah korban pembunuhan yang dibuang di Parangtritis ditimbun tanah dan sebagainya. Sedangkan korban di lereng Gunung Merapi dibuang di jurang di lokasi tersebut.
BACA JUGA: Pasien Positif Corona Datang Periksa, Satpam & Pegawai Puskesmas Kotagede Ketularan
Menurut Sutarto, dalam proses persidangan Yulianto mengaku menghabisi dua orang itu di lokasi kejadian yakni Parangtritis dan Gunung Merapi. Kedua korban dengan jagal Kartasura Sukoharjo Yulianto saling kenal.
Mereka sudah beberapa kali ke lokasi kejadian dengan alasan ritual. Dalam proses itu, Yulianto mengaku yang membiayai perjalanannya. “Menurut pengakuan Yulianto pada waktu itu korban dan dia kenal baik. Mereka beberapa kali ke Parangtritis dan Gunung Merapi untuk ritual. Ongkos transportasi akomodasi dari Yulianto.
"Lah itu kan sudah berkali-kali. Lah ketika ditagih, itu kan alasannya berbagai macam. Terus Yulianto punya niat untuk menghabisi,” kata dia.
Sutarto menerangkan penyidik Polres Sukoharjo pernah melakukan upaya pencarian dua jenazah itu di lokasi kejadian. Namun usaha itu sia-sia karena kondisi medan.
Lima Jenazah
Di sisi lain lima jenazah korban jagal Kartasura, Sukoharjo, Yulianto berhasil ditemukan. Dua jenazah di antaranya dikubur di dalam rumah, jenazah lain dikubur dekat kandang kambing.
“Seingat saya yang dikubur di dalam rumah itu jenazah almarhum Santoso, sedangkan yang dekat kandang kambing itu korban dari warga sipil. Kalau tiga jenazah lain korban dari Yulianto saya lupa ditemukan di mana. Sudah sepuluh tahun, saya tidak ingat. Ada kliping pemberitaannya sebenarnya, tapi entah di mana kliping dokumen saya,” urai dia.
Diinformasikan sebelumnya, kasus pembunuhan tukang pijat di Kartasura, Sukoharjo, Yulianto, terungkap pada 21 Agustus 2010. Yulianto divonis hukuman mati oleh majelis hakim PN Sukoharjo. Yulianto dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana terhadap tujuh orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Solopos.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pejabat Kongres: AS Belum Punya Pertahanan Memadai Hadapi Drone Shahed
- BGN Pecat Kepala SPPG Tanjung Kesuma Terkait Dugaan Pencabulan Anak
- YouTuber Resbob dan Bigmo Jadi Tersangka Fitnah Azizah Salsha
- ABK Penyelundup 2 Ton Sabu di Batam Divonis 5 Tahun Penjara
- Update Mudik Lebaran 2026: Masih Ada 2,37 Juta Tiket Kereta Api KAI
Advertisement
Tanah Bergerak di Pajangan Bantul, 20 Rumah Rusak dan 1 Roboh
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Warga DIY Diajak Tanam Cabai Mandiri Guna Jaga Stabilitas Harga
- Gagal Salip Pikap, Pemotor di Wonogiri Alami Patah Kaki
- Pernah Jadi Kompleks IRGC, Sekolah di Iran Hancur Diserang AS
- Ini Tanda Tekanan Emosional Sudah Perlu Bantuan Profesional
- Dinkes DIY Temukan 57 Kasus Positif Campak, Targetkan Imunisasi Merata
- Austria Jajaki Kerja Sama Bangun IKN sebagai Kota Hutan Modern
- Ini Daftar Kategori Obat dan Makanan Ilegal Terlaris di Online 2025
Advertisement
Advertisement








