Seperti Ini Perayaan Idulfitri di Berbagai Negara Saat Pandemi Covid-19

Ilustrasi - Antara
25 Mei 2020 16:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Perayaan Idulfitri tahun ini tak seperti sebelumnya karena ratusan juta orang berada di bawah aturan tinggal di rumah yang ketat akibat masih tingginya penyebaran Covid-19.

Sebanyak 1,8 miliar muslim di dunia harus salat dan berdoa di rumah. Mereka yang memiliki akses internet melakukan panggilan video sebagai pengganti silaturahim dengan keluarga mereka.

Timur Tengah

Beberapa negara di Timur Tengah termasuk Turki, Irak, dan Yordania, memberlakukan jam malam  sepanjang liburan Idulfitri. Meski sebagian negara melakukan pelonggaran, namun kekhawatiran akan pandemi dan kejatuhan ekonomi tetap menghadang.

Saudi Arabia, misalnya, tempat kota suci Mekah dan Madinah berada, dikunci sepenuhnya. Warga hanya diizinkan meninggalkan rumah mereka untuk membeli makanan dan obat-obatan.

Di Yerusalem lain lagi. Polisi Israel mengatakan mereka membubarkan sebuah "demonstrasi ilegal" dan menangkap dua orang di luar masjid Al-Aqsa.

Tempat itu ditutup oleh otoritas muslim untuk salat sejak pertengahan Maret lalu. Situs itu tidak akan dibuka kembali sampai setelah liburan Idulfitri. Jemaah yang mencoba memasuki kompleks akhirnya bertengkar dengan polisi.

Masjid Al-Aqsa adalah situs paling suci ketiga bagi umat Islam dan biasanya menerima puluhan ribu jemaah selama Idulfitri. Kompleks Puncak Bukit juga merupakan situs paling suci bagi orang Yahudi yang mengenalnya sebagai Temple Mount.

Situs tersebut telah lama menjadi titik api dalam konflik Israel-Palestina.

idulfitri di iran

Salat Idulfitri di Iran./Istimewa

Iran

Iran, yang terus memerangi wabah paling mematikan itu di Timur Tengah, mengizinkan salat bersama di beberapa masjid tetapi membatalkan salat Idul Fitri tahunan di Teheran yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Iran sendiri telah melaporkan lebih dari 130.000 kasus dan lebih dari 7.000 kematian.

Sedangkan di Indonesia, negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, melaporkan hampir 22.000 infeksi dan 1.350 kematian. Angka itu yang terbesar di Asia Tenggara.

Secara umum pemerintah memberlakukan penguncian untuk memutus rantai pandemi sehingga  tidak ada salat berjamaah di masjid atau bahkan lapangan terbuka. Demikian  juga dengan saling kunjungan keluarga meski di sejumlah tempat terjadi pelanggaran.

"Wabah ini tidak hanya meredam semangat Idul Fitri, tetapi juga telah membuat tradisi yang sama sekali berbeda," kata Andieka Rabbani, seorang mahasiswa di Jakarta.

Tahun ini, seperti banyak orang Indonesia umumnya hanya melihat keluarga dan teman melalui panggilan video.

Warga berusaha menerbangkan balon asap di Desa Blumbungan, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (24/5/2020). Tradisi itu guna memeriahkan perayaan Idul Fitri. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Malaysia

Di negara tetangga yang mayoritas penduduknya Muslim, Malaysia, kegiatan bisnis sebagian besar telah dibuka kembali setelah dikunci selama berminggu-minggu. Tetapi pertemuan massal masih dilarang dan orang-orang tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan kembali ke kota asal mereka untuk liburan.

Polisi telah memutarbalikkan  lebih dari 5.000 mobil dan memperingatkan hukuman keras bagi mereka yang mencoba melanggarnya.

Warga Malaysia hanya diperbolehkan mengunjungi kerabat yang tinggal di dekatnya dan hanya berlaku hari Minggu. Jumlah peserta pertemuan pun dibatasi untuk 20 orang saja.

Masjid telah dibuka kembali tetapi, terbatas pada jemaah dalam jumlah kecil hingga 30 orang. Malaysia sendiri telah melaporkan 7.185 infeksi dan 115 kematian.

Rohaizam Zainuddin mengatakan dia merasa bersyukur  bisa merayakan Idulfitri dengan orang tuanya yang tinggal di dekatnya, tetapi saudara perempuannya di negara bagian lain tidak bisa mudik dan berkumpul dengan keluarga.

"Kami frustasi bahwa perayaan tahun ini tidak sama," katanya. Tapi tidak ada gunanya marah. Kita hanya harus menerimanya, hidup terus berjalan,” kata ya seperti dikutip ArabNews.com, Senin (25/5/2020).

Dia dan anggota keluarganya mengenakan pakaian baru dan menyiapkan hidangan tradisional. Piring-piring kue kering disediakan untuk setiap tamu yang berkunjung di samping termometer dan pembersih tangan.

Pakistan

Di Pakistan, Idulfitri dirayakan dalam bayang-bayang virus corona. Perayaan kali ini ditandai dengan  kecelakaan pesawat penumpang di dekat Karachi pada hari Jumat yang menewaskan 97 orang.

Untuk pertama kalinya, Pakistan merayakan Idulfitri di seluruh negeri pada hari yang sama. Sebelumnya terdapat perbedaan di antara ulama soal penetapan Idulfitri.

Pakistan telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan penyebaran virus corona sejak pertengahan Maret, tetapi Perdana Menteri Imran Khan menolak untuk menutup masjid selama Ramadan meskipun ada permintaan dari dokter dan meningkatnya jumlah infeksi. Pakistan melaporkan lebih dari 52.000 kasus dan lebih dari 1.100 kematian.

Lebih dari 1.000 jemaah berkumpul dan terlihat berdoa di sebuah lapangan terbuka di Karachi kemarin. Akan tetapi hanya beberapa dari mereka yang mengenakan masker.

Di negara tetangga Afghanistan, pemerintah dan gerilyawan Taliban mengumumkan gencatan senjata tiga hari untuk menghormati liburan Idulfitri.

idulfitri di prancis

Dokumentasi Salat Idulfitri di Toulouse, Prancis  pada JUli 2012. Saat itu tidak ada pandemi Covid-19./Istimewa

Prancis

Sekitar 2.000 umat muslim berkumpul untuk salat Idul Fitri pada sebuah kompleks olahraga di pinggiran Paris Levallois-Perret. Mereka mengambil jarak satu sama lain dan mengenakan masker.

Menurut radio France-Info, mereka tidak melakukan tradisi berpelukan satu sama lainnya.

Prancis mengizinkan layanan keagamaan untuk pertama kalinya sejak Maret, tetapi organisasi Muslim terkemuka Prancis, CFCM, menyarankan masjid-masjid tetap tutup pada hari Minggu (24/5/2020).

CFCM menyatakan bahwa pengumuman dari pemerintah tidak memberi masjid cukup waktu untuk membeli masker dan cairan disinfektan untuk memastikan bahwa ritual  tidak berubah menjadi tempat menyebarnya wabah Covid-19.

Di Sudan, yang telah melaporkan lebih dari 3.600 kasus dan 146 kematian, ribuan orang berkumpul untuk salat di masjid-masjid dan daerah-daerah terbuka. Mereka melanggar jam malam dan pembatasan lain yang diberlakukan oleh pihak berwenang, media setempat melaporkan.

Negara Balkan

Sedangkan di di negara Balkan, pembatasan untuk menghindari virus corona baru tetap diberlakukan seperti di Albania, Bosnia-Herzegovina dan Kosovo. Masjid-masjid telah dibuka kembali di Ibu Kota Bosnia, Sarajevo, tetapi para jamaah harus mengenakan masker dan mempraktikkan jarak sosial. Sedangkan orang-orang yang lebih tua disarankan salat di rumah.

Naim Ternava, mufti komunitas Islam Kosovo, memimpin salat di sebuah masjid di depan sekelompok jemaah yang duduk terpisah dengan jarak 1,5 meter. Sedangkan khotbah disiarkan dengan pengeras suara.

"Saya mengajak Anda untuk bersabar sedikit lagi sampai kita mengatasi bahaya ini," katanya mengakhiri khotbahnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia