Sudah Sembilan Orang di Klaten Meninggal karena Serangan Tawon

Petugas Damkar Klaten menunjukkan sarang tawon yang sudah dibasmi di sela-sela Sosialisasi Penanggulangan Tawon di Pendapa Pemkab Klaten, Senin (14/1/2019). - Solopos / Ponco Suseno
16 November 2019 09:57 WIB Newswire News Share :


Harianjogja.com, KLATEN -- Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, serangan tawon Vespa affinis telah merenggut sembilan nyawa di Klaten. Dua korban di antaranya meninggal pada November ini.

Salah satu korban yakni Lanjarwati, 62, warga Dukuh Tegalyoso, Desa Sembung, Kecamatan Wedi. Lanjarwati meninggal setelah diserang koloni tawon Vespa affinis di bagian leher, Selasa (12/11/2019) sekitar pukul 17.00 WIB.

Kepala Desa Sembung, Sunarto, mengatakan Lanjarwati disengat tawon saat mencari pakan kambing di samping rumahnya. Diduga karung berisi pakan yang dibawa Lanjarwati mengenai pohon yang terdapat sarang tawon berukuran besar.

Akibatnya Lanjarwati diserang tawon. Setelah berhasil melepaskan diri dari serangan tawon, dia pulang. Meski sempat mendapatkan perawatan dari mantri kesehatan, kondisi Lanjarwati terus memburuk hingga meninggal dunia.

“Posisi sarang tawon itu hanya satu meter dari permukaan tanah. Diduga korban tidak mengetahui keberadaan sarang tawon itu,” kata Sunarto saat dihubungi Solopos.com, Jumat (15/11/2019).

Setelah kejadian itu, keberadaan sarang tawon berdiameter sekitar 40 sentimeter tersebut dilaporkan ke Unit Damkar Klaten untuk dimusnahkan pada Rabu (13/11/2019) malam.

Korban lainnya, Ny. Warsomo, 84, warga Dukuh Tegalduwur, Desa Wadunggetas, Wonosari, Klaten, meninggal dunia sepekan setelah diserang tawon Vespa affinis pada Rabu (6/11/2019). Ny. Warsomo, 84, diserang tawon saat buang air kecil di halaman depan rumah yang berupa kebun.

Diduga, Ny. Warsomo menyenggol semak-semak yang terdapat sarang tawon Vespa affinis berukuran besar di kebun tersebut. Ny. Warsomo berhasil mengusir tawon yang menyerangnya setelah mengibaskan karung beras.

Ny. Warsomo sempat dilarikan ke mantri desa untuk mendapatkan perawatan akibat luka serangan tawon. Sarang tawon itu yang menyerang Ny. Warsomo lantas dimusnahkan komunitas pada Kamis (7/11/2019).

Sementara Ny. Warsomo tak kunjung sembuh. Keluarga kemudian membawa nenek tersebut ke RSU PKU Muhammadiyah Delanggu pada Senin (11/11/2019). Ny. Warsomo meninggal dunia pada Selasa (12/11/2019).

Berdasarkan data yang dihimpun dari unit Damkar Klaten, laporan keberadaan sarang tawon Vespa affinis melonjak pada 2019. Pada 2017, petugas Damkar memusnahkan 217 sarang tawon.

Pada 2018, Damkar memusnahkan 207 sarang tawon. Sementara pada Januari-13 November 2019, petugas Damkar memusnahkan 232 sarang tawon. Selain Damkar Klaten, selama ini ada komunitas yang membantu pemusnahan sarang tawon.

Sementara jumlah korban meninggal dunia akibat serangan tawon sejak merebak pada 2017 lalu hingga kini mencapai sembilan orang. Dua orang meninggal dunia akibat diserang tawon pada 2017.

Selanjutnya pada 2018 ada lima orang meninggal akibat diserang tawon lalu dua orang lagi meninggal dunia akibat diserang tawon pada 2019.

Hampir semua korban diserang tawon Vespa affinis. Sarang tawon ini berukuran besar dengan satu koloni bisa berisi ratusan hingga ribuan tawon. Ciri-ciri tawon Vespa affinis yakni badan berwarna gelap, panjang rata-rata 3 sentimeter, serta memiliki sabuk berwarna kuning pada bagian perutnya.

Jenis tawon itu memiliki karakter umum cepat mengembangkan koloni dengan diameter sarang bisa lebih dari 60 sentimeter. Tawon tersebut bersifat predator salah satunya memangsa ulat dan berfungsi sebagai pengendali hama. Jenis tawon itu juga memakan bangkai.

Petugas Unit Damkar Satpol PP Klaten, Eddy Setiawan, mengatakan ada kecenderungan peningkatan laporan pemusnahan sarang tawon tersebut saat memasuki musim hujan. Hanya, belum diketahui secara persis penyebab melonjaknya keberadaan sarang tawon saat memasuki musim hujan.

“Ketika musim kemarau, jarang bahkan tidak ada laporan. Justru pada musim hujan seperti ini mulai ada laporan masuk,” kata dia.