Juru Kunci Merapi: Awan Panas adalah Sinyal Positif

Gunung Merapi, Sabtu (2/3/2019). - Antara/Ranto Kresek
03 Maret 2019 07:00 WIB Hafit Yudi Suprobo News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Juru Kunci Merapi, Mas Bekel Anom Suraksono atau Mas Asih, mengatakan aktivitas Gunung Merapi tidak mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan erupsi 2010 atau 2006.

Mas Asih yang resmi mengemban tugas sebagai Juru Kunci Merapi pada 2011 menuturkan aktivitas Merapi yang kerap kali mengeluarkan material guguran seperti lava pijar dan awan panas cenderung merupakan sinyal positif.

“Kalau menurut saya hal tersebut positif, karena jika hal itu tidak terjadi takutnya nanti akan menyumbat dan malah berbahaya, cuman kalau orang yang tidak tahu akan mengira Merapi itu meletus,” ujar dia, Jumat (1/3/2019).

Mas Asih, anak keempat dari mendiang Mbah Maridjan, menuturkan sebagai juru kunci Merapi juga aktif berkomunikasi dengan BPPTKG dan sukarelawan Merapi.

Mas Asih kembali menegaskan aktivitas Merapi saat ini sudah sewajarnya, seperti periode sebelumnya. Status Waspada juga penting untuk peringatan. “Kalau status diturunkan takutnya warga nanti lengah. Namun masyarakat yang tinggal di lereng Merapi memang sudah sewajarnya waspada, selalu ingat akan Merapi,” ucap dia.

Mas Asih mengatakan warga masyarakat sekarang sangat tanggap dengan aktivitas yang terjadi di puncak Merapi.

“Contohnya ketika ada suara gemuruh, warga sekarang langsung sigap dan mencoba mencari informasi yang pasti. Sebelum erupsi 2006, ketika Merapi bergemuruh, warga yang sedang ngarit itu tetap melaksanakan aktivitasnya, mereka tidak takut. Setelah kejadian erupsi 2006 masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaannya,” ujar Mas Asih.

Gunung Merapi sembilan kali meluncurkan awan panas pada Sabtu (2/3/2019). Satu luncuran awan panas mencapai 2 kilometer (km). Ini adalah jarak luncur terjauh, sama seperti pada 7 Februari lalu.

Merapi kali pertama menyemburkan awan panas atau dikenal dengan istilah wedhus gembel pada 29 Januari. Sejak saat itu sampai kemarin, luncuran awan panas sudah terpantau 23 kali.

Luncuran terjauh adalah 2 km, pertama pada  7 Februari 2018 pukul 18.28 WIB ke arah hulu Kali Gendol dengan durasi 215 detik.

Merapi kembali meluncurkan awan panas dengan jarak maksimal 2 km pada Sabtu kemarin secara beruntun pukul 04.51 WIB, 04.54 WIB, 05.03 WIB, 05.07 WIB, dan 05.10 WIB. Merapi kembali menyemburkan wedhus gembel pada 05.33 WIB, dan 05.40 WIB dengan jarak luncur 800 meter dan 900 meter.  Pada pukul 13.25 WIB, awan panas kembali meluncur sejauh 1,1 km ke arah Kali Gendol. Malamnya, pada pukul 20.45 WIB, awan panas meluncur sejauh 1,35 km.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menuturkan 23 luncuran awan panas sejak 29 Januari masih relatif kecil dibandingkan dengan aktivitas Merapi pada 2006. Kala itu, luncurannya terjadi sampai puluhan kali dalam sehari.

Jarak luncur awan panas saat ini juga masih dalam radius aman untuk masyarakat.

“Jarak aman masih 3 kilometer, kami belum akan menambah. Ancaman bahaya 4,5 kilometer, jika nanti jarak luncur di luar mencapai 3 kilometer, kami akan kaji lagi,” kata dia, di kantor BPPTKG, Sabtu.

Hanik mengatakan jarak dan jumlah luncur awan panas tergantung material magma dan gas. Pada saat akumulasi dari dalam jumlahnya banyak, luncuran awan panas yang muncul banyak. Begitu pula jika magma dan gas sedikit, luncuran awan panas yang terjadi sedikit.