BMKG Imbau Waspadai Potensi Bencana Hidrometeorologi di Wilayah DIY

Rumah yang terdampak longsor di Dusun Jatibungkus, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Jumat (21/12/2018). - Ist/Dok BPBD Gunungkidul
25 Januari 2019 23:37 WIB Yogi Anugrah News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau agar masyarakat waspada dengan potensi bencana hidrometeorolgi seperti longsor, banjir, dan angin kencang. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga 30 Januari mendatang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Mlati, Agus Sudaryatno menjelaskan berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer Selasa (22/1/2019), terdapat aliran massa udara basah dari Samudra Hindia yang masuk ke wilayah Jawa.

"Bersamaan dengan itu, masih kuatnya Monsun Dingin Asia beserta hangatnya suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia menyebabkan tingkat penguapan dan pertumbuhan awan cukup tinggi," kata dia pada Rabu (23/1/2019).

Selain itu, dari pantauan pergerakan angin, pihaknya mendeteksi adanya daerah pertemuan angin yang konsisten. Bahkan dalam beberapa hari terakhir lokasinya memanjang dari wilayah Sumatera bagian selatan, Laut Jawa, Jawa Timur, Bali dan terus ke timur hingga NTB dan NTT.

Lebih lanjut, ia menambahkan, dalam beberapa hari ke depan potensi cuaca ektrem bisa terjadi di beberapa wilayah.

"Hujan dengan potensi sedang dan lebat dan angin kencang yang dapat mencapai kecepatan di atas 46 kilometer per jam bisa saja terjadi," kata dia.

Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai potensi genangan, banjir dan longsor yang bisa saja terjadi. Selain itu, pihaknya juga mengimbau agar tidak berlindung di bawah pohon. Sebab, angin kencang yang terjadi bisa saja merubuhkan pohon maupun baliho.

"Masyarakat yang berada di pesisir pantai juga diimbau waspada ancaman gelombang tinggi. Potensi gelombang tinggi itu berkisar antara 2,5 meter hingga 5 meter dan diperkirakan terjadi di perairan selatan DIY," ucap dia.

Sementara itu, Kasi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Lelono mengaku telah memetakan lokasi mana saja yang berpotensi longsor maupun banjir. Terutama banjir lahar hujan yang bisa terjadi di sungai yang berhulu di lereng Merapi.

"Namun, untuk banjir lahar hujan potensinya belum tinggi, sebab, jumlah material di lereng Merapi masih sedikit. Apalagi kedalaman sungai sudah dalam dan banyak pohon yang sedikit menghambat aliran air sehingga potensinya kecil," jelas dia.

Saat ini, pihaknya juga telah menyiapkan 20 early warning system (EWS) yang terpasang di lereng Merapi. Dia memastikan EWS tersebut dalam kondisi baik.

"Lokasi EWS untuk lahar dan awan panas di Kali Gendol, Opak, Kuning, Krapyak dan Boyong, demikian juga dengan longsor yang potensinya juga cukup besar di Sleman. Ada total 33 EWS longsor yang dipasang, tiga merupakan EWS utama lainnya EWS sederhana," ungkap dia.

Oleh karena itu, dia meminta agar masyarakat sadar terhadap bencana dan masyarakat bisa merespon sesuai dengan arahan.

"Setiap dusun sudah kami beri SOP, jadi harapannya, jika ada bencana baik itu Merapi atau yang lainnya bisa merespon sesuai SOP," ucap dia.