Sering Diguncang Gempa, Jumlah Sirine Peringatan di Jateng Belum Ideal

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwa Pramana. (Antara/Wisnu Adhi)
15 Januari 2019 10:57 WIB Imam Yuda Saputra News Share :

Harianjogja.com, SEMARANG--Alat pendeteksi berupa sirine peringatan akan bahaya tsunami di Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah (Jateng) masih sangat minim. Padahal di perairan selatan Jawa sering terjadi gempa dalam beberapa pekan terakhir. Gempa ini juga berpotensi tsunami.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sarwa Pramana menyebutkan di sepanjang garis pantai selatan Jateng saat ini hanya terdapat 69 alat sirine pendeteksi tsunami yang terpasang. Jumlah itu dirasa masih sangat minim mengingat kebutuhan  ideal mencapai 144 buah.

“Idealnya Jateng punya 144 alat pendeteksi tsunami. Itu kan alatnya dipasang mengapung di sejumlah titik yang dianggap rawan tsunami. Nanti akan mengeluarkan bunyi jika ada potensi tsunami. Nah di Jateng baru ada 69 alat yang sudah terpasang,” ujar Sarwa saat dijumpai Semarangpos.com, Jumat (11/1/2019).

Sarwa menyebutkan 69 sirine itu terpasang di wilayah Kabupaten Cilacap sebanyak 47 unit, Purworejo 12 unit, dan Kebumen 10 unit. Sementara di wilayah Kabupaten Wonogiri belum ada sama sekali.

“Peralatan itu yang menyediakan pemerintah pusat. Seharusnya di semua lokasi ada. Makanya saat ini kami sedang mengajukan ke pemerintah pusat agar di semua lokasi terpasang alat itu,” imbuh Sarwa.

Ada sekitar 609.464 penduduk di 23 kecamatan di Jateng yang jiwanya terancam jika bencana tsunami terjadi. Ribuan jiwa itu tinggal di garis pantai Pulau Jawa yang berada di wilayah Jateng sepanjang 289, 07 kilometer (km).

“Satu alat itu memliki daya jangkau sejauh dua kilometer, makanya yang sekarang terpasang masih sangat minim. Cuma ada 49 persen dari kebutuhan yang kita perlukan,” tutur Sarwa.

Belum terpasang alat pendeteksi tsunami di seluruh titik yang rawan bencana tsunami ini menandakan pemerintah belum sepenuhnya memprioritaskan kegiatan penanggulangan bencana. Padahal, bencana tsunami merupakan ancaman terbesar bagi masyarakat pesisir Indonesia.

"Sekarang bumi semakin tua. Pertandanya dari mulai Gunung Agung meletus lalu memunculkan gempa di NTB, Palu, Pantai Anyer sampai gempa beruntun di Tasikmalaya. Bahkan, kami bersama BMKG telah memperkirakan ada 11 kecamatan di Cilacap yang berpotensi terkena ancaman tsunami," tuturnya.

Dalam waktu dekat pihaknya akan mengirimkan surat permintaan kepada pemerintah pusat untuk mengusulkan supaya BMKG berupaya menambah jumlah alat pendeteksi tsunami. Sebab, seiring adanya gempa di Pulau Jawa, gelombang tsunami masih berpotensi terjadi di kawasan pesisir.

Sumber : Solopos.com