Lindu Megathrust & Ancaman Tsunami 57 Meter

Ilustrasi tsunami. (JIBI/REUTERS - Kim Kyung/Hoon)
04 April 2018 08:25 WIB Budi Cahyana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Peneliti di Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi tsunami setinggi 57 meter bisa menghantam sebagian Banten. Pengurangan risiko bencana mutlak diperlukan.

Kemungkinan terburuk bencana alam itu diungkapkan Widjo Kongko, peneliti tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Menurut dia, potensi tsunami setinggi 57 meter ada di Kabupaten Pandeglang, Banten. Tsunami dengan ketinggian bervariasi juga bisa mencapai Jakarta Utara (lihat grafis).

Tsunami besar itu bisa muncul dengan satu syarat, yakni terjadinya lindu megathrust di kedalaman laut yang dangkal.

“Pandeglang dan Jawa Barat serta daerah selatan paling dekat dengan sumber gempa bumi dan tsunami. Ancaman di Pandeglang cukup besar, bisa di atas 57 meter, dan jangka waktunya cuma kurang dari setengah jam [dari gempa],” ujar Widjo dalam diskusi sumber-sumber gempa bumi dan potensi tsunami di Jawa bagian barat di Gedung BMKG, Jakarta, seperti dilansir detik.com, Selasa (3/4/2018).

Megathrust adalah sebutan aktivitas di zona subduksi. Megathrust terjadi ketika lempeng satu mendorong lempeng lain sehingga lempeng pertama bergerak turun dan yang kedua naik. Akibatnya, terjadi gempa besar.

Gempa megathrust terjadi pada lempeng dangkal yang dekat dengan permukaaan Bumi sehingga menimbulkan gempa besar, mulai dari 8-9 Skala Richter (SR). Megathrust menyebabkan gempa dan tsunami besar dalam sejarah umat manusia, salah satunya tsunami Aceh dan sebagian Asia Selatan pada Desember 2004.

Zona megathrust meliputi tiga area besar, yakni Andaman Megathrust, Sumatra Megathrust, dan Java Megathrust. Zona ini sangat luas membentang lebih dari 5.500 kilometer dari utara Myanmar menuju barat daya di wilayah Sumatra, berlanjut ke selatan Jawa dan berakhir di Australia. Di zona ini terdapat Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang saling menumbuk.

Pusat Studi Gempa Nasional telah menerbitkan buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia 2017 yang memuat profil potensi megathrust di Indonesia. Peta tersebut menyatakan laju tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang menunjam ke bawah Pulau Jawa berkisar 60-70 milimeter per tahun.

Gempa di Banten pada akhir Januari lalu juga merupakan dampak megathrust di zona subduksi selatan Jawa dan Selat Sunda.

“Jawa Barat adalah sumber gempa besar, bisa mencapai 8,8 atau 9 sehingga jika gempa terjadi di lautan dangkal, tsunami besar akan terjadi,” kata Widjo.

Pandeglang merupakan wilayah paling terancam karena merupakan kabupaten paling dekat dengan laut selatan. Ancaman tsunami akibat megathrust di Jawa lebih gede ketimbang Aceh lantaran kedalaman laut di Jawa bagian barat lebih dalam daripada Aceh.

“Semakin dalam, volume air yang dipindahkan dari gempa bumi semakin besar sehingga tsunami lebih tinggi.”

Selain di Pandeglang, tsunami itu diprediksi akan mencapai beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. “Di Jakarta, tsunami sekitar 2,5 sampai tiga meter, masuk dalam waktu tiga sampai lima jam,” ucap Widjo.

Tak Bisa Diramal
Potensi itu harus diwaspadai meski hingga sekarang belum ada teknologi yang mampu meramalkan kapan gempa akan muncul.

“Kapan gempa dan tsunami terjadi? Tentu kami tidak bisa memastikan karena belum ada alat yang bisa mendeteksi. Kami selalu mengadakan kajian ilmiah untuk melihat potensi yang ada. Tentu yang paling penting adalah kita telah mengetahui secara umum, meskipun belum detail kajiannya. Intinya, migitasi perlu kita siapkan sejak awal,” ucap Sekretaris Utama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Untung Merdijanto.

Dia mengharapkan seluruh pejabat pemerintah di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dapat menguatkan mitigasi bencana untuk antisipasi.

Awal bulan ini, rumor gempa besar yang mengancam Jakarta berembus kencang di medsos. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan klarifikasi dengan menyatakan waktu terjadinya gempa tak bisa diprediksi.

“Meski para ahli mampu menghitung perkiraan magnitudo maksimum gempa di zona megathrust, teknologi saat ini belum mampu memprediksi dengan tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya gempa megathrust tersebut,” ujar Dwikorita.

Dengan pengetahuan yang tepat, tsunami bisa ditangkal dan ancaman jumlah korban jiwa bisa ditekan. Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto ketika memaparkan metode mitigasi gempa dan tsunami di UGM, Agustus 2017 mengatakan Thailand mampu menerapkan teknik yang mangkus untuk menangkal dampak buruk tsunami bagi keselamatan jiwa.
Pesisir di Thailand Selatan terkena tsunami pada 2004, tetapi tidak ada nyawa yang melayang. Musababnya, wilayah tersebut banyak ditumbuhi hutan bakau atau mangrove.

“Di Thailand Selatan ada mangrove yang sangat tebal. Bahkan tsunami tidak mampu menembus.”