DAMPAK TELEVISI : Anak 2 Tahun Minta Dibelikan Banyu Setan

Sumber ilustrasi foto: /www.google.co.id - img
04 Februari 2014 08:30 WIB News Share :

Demam acara hiburan joged di televisi ternyata juga merasuki anak-anak. Bahkan anak balita hafal lagu yang sejatinya untuk orang dewasa. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com, Andreas Tri Pamungkas.

Opo ora eman duite,
Gawe tuku banyu setan,
Opo ora mikir yen mendem,
Iku biso ngrusak pikiran

Ojo diteruske mendeme,
Mergo ora ono untunge,
Yo cepet marenono mendemmu,
Ben dowo umurmu

Tutupen botolmu, tutupen oplosanmu,
Emanen nyawamu,
Ojo mbok terus-teruske
Mergane, ora ono gunane

Lirik lagu berjudul Oplosan yang awalnya dipopulerkan Eny Sagita itu saat ini makin digandrungi. Bahkan sejak dibawakan oleh Soimah di acara Yuk Keeps Smile (YKS) di Trans TV, segala usia akrab dengan lagu tersebut.
Bahkan bocah berusia dua tahun bisa menghapal lagu tersebut meski sejatinya belum lancar berbicara.
Nauli Sitorus, nama bocah perempuan itu. Suatu sore, ia diajak ibunya Retno Prihati menjenguk saudaranya yang sakit di Rumah Sakit Kariyadi, Semarang. Tak ada teman sebanyanya, Nauli terus ngelendot sama ibunya itu. Sekali, dia berjingkrak mencuri perhatian dengan bernyanyi lagu Oplosan.

Sulit awalnya untuk menerjemahkan apa yang diucapkannya. Namun lamat-lamat, gerak bibirnya mudah diidentifikasi. “Eman-eman duite...Banyu Setan,” begitu Nauli menyanyikan secara tak beraturan, akhir pekan lalu.
Berada di depan televisi, ketika acara YKS mengudara, merupakan kebiasan Nauli. Matanya yang tadinya sayu karena mengantuk, spontan akan terbelangak ketika mendengar acara itu dimulai. Siaran itu rupanya benar-benar membuat bocah itu terkesima. Kalau sudah begitu, Nauli tidak bisa diganggu lagi.

Retno bercerita, acara YKS menjadi acara kegemaran anak keduanya tersebut. Demam lagu itu pun dibawa sampai kemanapun Nauli pergi. Bahkan pernah saat diajak ibunya ke pasar, Nauli merengek meminta untuk dibelikan banyu setan. “Ma...ma, beli banyu setan,” begitu Nauli meminta kepadanya.

Retno hanya bisa tertawa ketika anaknya itu merengek. Sulit baginya untuk mengalihkan perhatian Nauli agar bisa meminta yang lain. Bocah yang masih lugu itu pun tidak pernah tahu apa arti banyu setan itu.
Namun, suatu kali, Retno justru merasa seolah diingatkan ketika banyak belanja kebutuhan. Anaknya itu tiba- tiba menyanyikan “Eman-eman duite”. Tak terlalu dipusingkannya, Retno menganggap hal itu seolah untuk mengingatkan dia agar tidak boros membeli kebutuhan bulanan yang tidak penting.

Tayangan YKS itu belum usai, mata Nauli masih melotot. Bahkan, ia beranjak ikut berdiri ketika Caesar mengajak penonton di studio berjoged. Tak karuan dia menirukannya, Pokoke Joged!

Acara itu ternyata sekaligus juga dapat menjadi dongengnya sebelum tidur, tak perlu capek-capek ibunya menceritakan Kancil Mencuri Timun. Merobohkan badannya di pangkuan ibunya, Nauli tak lama terlelap seperti ketika tertidur dan mendengar tayangan itu dalam tidurnya, ia langsung terbangun.

“Biasa seperti ini. Setelah lelah ikut berjoged, ia tertidur begitu saja setelah menonton YKS,” ucapnya.
Hal semacam ini banyak dialami oleh anak-anak. Avrila Maharani, contoh lainnya. Begitu lagu Pokoke Joged dipopulerkan menggantikan Oplosan yang dinilai KPI tak layak karena mengumbar erotisme, bocah perempuan berusia tiga tahun itu terus terngiang dengan lagu itu. “Pokoke Joged, Pokoke Joged, Pokoke Joged,” teriak keras anak itu rutin setiap pagi.

Anak tetangga lain yang berada di Kampung Kumendaman, Mantrijeron, Jogja, seolah menyahut teriakan itu. Anak-anak lainnya di suatu minggu silih berganti menyanyikan lagu itu seolah berlomba.

Keprihatinan terhadap tayangan YKS sebelumnya diwujudkan dalam sebuah petisi. Bahkan hingga saat ini sebanyak 36.000 masyarakat ikut menandatangani petisi yang berjudul Mempetisi TransTV @TRANSTVI_CORP: Segera Hentikan Penayangan YKS. Petisi tersebut dibuat pertama kali oleh Rifqi Alfian dari Gresik.

Dalam petisi yang dibuat pada 31 Desember 2013 tersebut, terbubuh beberapa kalimat seperti ini: “Sudah menjadi keresahan kita semua melihat tayangan di layar kaca kita penuh dengan tayangan tidak mendidik. Tayangan-tayangan di televisi pun bukannya semakin baik malah justru semakin rusak dengan tayangan-tayangan terbarunya. Mungkin awalnya kita kesal dengan sinetron-sinetron yang tidak mendidik, lalu muncul acara baru yang lebih merusak seperti acara musik pagi di beberapa stasiun tv yang membodohkan dengan host-host yang mengeluarkan kata-kata kasar, vulgar, bahkan sumpah serapah.”