Mahasiswa Jerman Siapkan Demo, Tolak Wajib Militer dan Penghematan
Kelompok muda Jerman Gen Z Regelt menyiapkan demo 31 Oktober dan menuntut pendidikan, perlindungan iklim, serta penolakan wajib militer.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. /Reuters
Harianjogja.com, SEOUL—Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meminta pengembangan teknologi senjata nirawak berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dipercepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pyongyang untuk memperkuat kemampuan tempur dan memodernisasi angkatan bersenjatanya.
Arahan itu disampaikan Kim saat menghadiri pembukaan pameran bertajuk "Pengembangan Teknologi Penerbangan Nirawak 2026" di Pyongyang, Jumat (30/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, dia menilai peralatan militer nirawak semakin berperan penting dalam operasi militer modern.
"Mengingat tren perkembangan yang sedang berlangsung, di mana peralatan militer tak berawak telah muncul sebagai aset utama dalam operasi militer di medan perang dan cakupan kegunaannya terus meluas dari hari ke hari, maka diperlukan pengembangan pesat terhadap teknologi-teknologi kunci di bidang ini, mengintegrasikan sistem senjata tak berawak ke dalam kerangka kecerdasan buatan tingkat tinggi, serta mengoptimalkan kemampuan operasionalnya; dengan menganggapnya sebagai tugas prioritas utama dalam membangun angkatan bersenjata modern," kata Kim.
Seperti dilaporkan kantor berita Korea Utara, KCNA, Kim menilai senjata nirawak semakin menjadi instrumen penting dalam peperangan. Penggunaannya juga terus berkembang seiring perubahan pola operasi militer.
Dia menyebut penguasaan teknologi pesawat nirawak menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Menurut Kim, Korea Utara perlu mencapai keunggulan mutlak dalam bidang tersebut untuk menghadapi perkembangan peperangan modern.
Dalam pameran tersebut, Kim memaparkan strategi pertahanan nasional yang diarahkan untuk memperluas sekaligus memperkuat teknologi penerbangan nirawak. Dia juga menjelaskan sejumlah langkah penting untuk mempercepat pelaksanaan strategi tersebut.
Kim turut menekankan perlunya peningkatan kekuatan militer Korea Utara. Dia berpendapat perdamaian hanya bisa dijamin melalui kekuatan militer.
Pemimpin Korut itu mengatakan negaranya telah menjalankan fungsi sebagai negara berkekuatan nuklir, sembari mempercepat modernisasi persenjataan konvensional. Dia juga meminta para ilmuwan Korea Utara menghasilkan kemajuan signifikan dalam pengembangan drone dan teknologi AI untuk kebutuhan pertahanan.
Dorongan pengembangan senjata nirawak tersebut muncul di tengah ketegangan keamanan di Semenanjung Korea. Sebelumnya, Korea Utara menuding militer Korea Selatan sengaja memperburuk situasi di wilayah perbatasan kedua negara.
Pyongyang juga menilai peningkatan aktivitas militer Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) berisiko memicu bentrokan bersenjata secara tiba-tiba.
"Kegiatan militer yang sering dilakukan pihak lawan di perbatasan Korea Utara meningkatkan risiko terjadinya konflik bersenjata tak terduga dan menimbulkan konsekuensi dahsyat, karena para penjahat militer Korea Selatan dengan sengaja memperburuk ketegangan di wilayah perbatasan Korea Utara-Korea Selatan," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korut dalam pernyataan pada Jumat.
Menurut KCNA, juru bicara tersebut menuding AS dan Korsel berusaha mempertahankan keunggulan militer dengan memperluas jaringan aliansi serta menggelar latihan militer bersama menggunakan berbagai alasan.
Kementerian Pertahanan Korut juga menilai aktivitas militer kedua negara semakin menyerupai kondisi pertempuran sesungguhnya, termasuk melalui latihan yang disebut melibatkan serangan preventif. Pyongyang menganggap kegiatan tersebut sebagai ancaman serius yang membutuhkan langkah penanggulangan lebih kuat.
"Setiap tindakan bermusuhan yang melanggar hak keamanan negara merupakan sasaran dari pelaksanaan hak kedaulatan yang adil oleh angkatan bersenjata Republik Demokratik Rakyat Korea," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kementerian itu menegaskan Korea Utara tidak berniat membatasi langkah-langkah untuk mempertahankan sistem pencegahan dan memperkuat kendali atas situasi di Semenanjung Korea maupun wilayahnya.
Ketegangan kedua negara juga berkaitan dengan insiden ledakan ranjau di zona demiliterisasi pada 21 September lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka, dengan dua di antaranya mengalami luka serius.
Berdasarkan investigasi bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, Korea Selatan menyimpulkan ranjau tersebut sengaja dipasang pasukan Korea Utara di sisi selatan garis demarkasi militer.
Seoul menyebut insiden itu sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata. Korea Selatan juga menuntut Korea Utara menyampaikan permintaan maaf dan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
Namun, Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un sekaligus direktur departemen urusan umum di Partai Buruh Korea Utara, membantah tuduhan itu. Dia menyebut temuan militer Korea Selatan sebagai rekayasa dan menuding insiden tersebut merupakan provokasi yang dibuat oleh Seoul sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kelompok muda Jerman Gen Z Regelt menyiapkan demo 31 Oktober dan menuntut pendidikan, perlindungan iklim, serta penolakan wajib militer.
DPRD Kulon Progo mendorong pemerataan perbaikan jalan untuk memperlancar distribusi hasil pertanian, usaha UMKM, dan ekonomi warga.
Suara Ibu Indonesia Yogyakarta menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah dalam aksi kreatif di Titik Nol Kilometer Jogja.
PSS Sleman membenahi detail bertahan dan menyerang demi membalas kekalahan dari Garudayaksa FC pada pekan ke-8 Super League 2026/2027.
UGM melatih petani di Wonosari, Gunungkidul, mengenali dan mengendalikan hama serta penyakit tanaman pangan dan hortikultura.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap mendukung pengembangan Kabupaten Magelang sebagai sentra sapi perah baru untuk memperkuat upaya mencapai swasembada susu