Kim Jong Un Dorong Modernisasi Senjata Nirawak Korea Utara

Newswire
Newswire Jum'at, 30 Oktober 2026 18:07 WIB
Kim Jong Un Dorong Modernisasi Senjata Nirawak Korea Utara

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. /Reuters

Harianjogja.com, SEOUL—Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meminta pengembangan teknologi senjata nirawak berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dipercepat. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pyongyang untuk memperkuat kemampuan tempur dan memodernisasi angkatan bersenjatanya.

Arahan itu disampaikan Kim saat menghadiri pembukaan pameran bertajuk "Pengembangan Teknologi Penerbangan Nirawak 2026" di Pyongyang, Jumat (30/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, dia menilai peralatan militer nirawak semakin berperan penting dalam operasi militer modern.

"Mengingat tren perkembangan yang sedang berlangsung, di mana peralatan militer tak berawak telah muncul sebagai aset utama dalam operasi militer di medan perang dan cakupan kegunaannya terus meluas dari hari ke hari, maka diperlukan pengembangan pesat terhadap teknologi-teknologi kunci di bidang ini, mengintegrasikan sistem senjata tak berawak ke dalam kerangka kecerdasan buatan tingkat tinggi, serta mengoptimalkan kemampuan operasionalnya; dengan menganggapnya sebagai tugas prioritas utama dalam membangun angkatan bersenjata modern," kata Kim.

Seperti dilaporkan kantor berita Korea Utara, KCNA, Kim menilai senjata nirawak semakin menjadi instrumen penting dalam peperangan. Penggunaannya juga terus berkembang seiring perubahan pola operasi militer.

Dia menyebut penguasaan teknologi pesawat nirawak menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Menurut Kim, Korea Utara perlu mencapai keunggulan mutlak dalam bidang tersebut untuk menghadapi perkembangan peperangan modern.

Korut Targetkan Modernisasi Teknologi Pertahanan

Dalam pameran tersebut, Kim memaparkan strategi pertahanan nasional yang diarahkan untuk memperluas sekaligus memperkuat teknologi penerbangan nirawak. Dia juga menjelaskan sejumlah langkah penting untuk mempercepat pelaksanaan strategi tersebut.

Kim turut menekankan perlunya peningkatan kekuatan militer Korea Utara. Dia berpendapat perdamaian hanya bisa dijamin melalui kekuatan militer.

Pemimpin Korut itu mengatakan negaranya telah menjalankan fungsi sebagai negara berkekuatan nuklir, sembari mempercepat modernisasi persenjataan konvensional. Dia juga meminta para ilmuwan Korea Utara menghasilkan kemajuan signifikan dalam pengembangan drone dan teknologi AI untuk kebutuhan pertahanan.

Korut Tuduh AS dan Korsel Perburuk Ketegangan Perbatasan

Dorongan pengembangan senjata nirawak tersebut muncul di tengah ketegangan keamanan di Semenanjung Korea. Sebelumnya, Korea Utara menuding militer Korea Selatan sengaja memperburuk situasi di wilayah perbatasan kedua negara.

Pyongyang juga menilai peningkatan aktivitas militer Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) berisiko memicu bentrokan bersenjata secara tiba-tiba.

"Kegiatan militer yang sering dilakukan pihak lawan di perbatasan Korea Utara meningkatkan risiko terjadinya konflik bersenjata tak terduga dan menimbulkan konsekuensi dahsyat, karena para penjahat militer Korea Selatan dengan sengaja memperburuk ketegangan di wilayah perbatasan Korea Utara-Korea Selatan," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korut dalam pernyataan pada Jumat.

Menurut KCNA, juru bicara tersebut menuding AS dan Korsel berusaha mempertahankan keunggulan militer dengan memperluas jaringan aliansi serta menggelar latihan militer bersama menggunakan berbagai alasan.

Kementerian Pertahanan Korut juga menilai aktivitas militer kedua negara semakin menyerupai kondisi pertempuran sesungguhnya, termasuk melalui latihan yang disebut melibatkan serangan preventif. Pyongyang menganggap kegiatan tersebut sebagai ancaman serius yang membutuhkan langkah penanggulangan lebih kuat.

"Setiap tindakan bermusuhan yang melanggar hak keamanan negara merupakan sasaran dari pelaksanaan hak kedaulatan yang adil oleh angkatan bersenjata Republik Demokratik Rakyat Korea," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Kementerian itu menegaskan Korea Utara tidak berniat membatasi langkah-langkah untuk mempertahankan sistem pencegahan dan memperkuat kendali atas situasi di Semenanjung Korea maupun wilayahnya.

Insiden Ranjau Picu Saling Tuduh Korea Utara-Korea Selatan

Ketegangan kedua negara juga berkaitan dengan insiden ledakan ranjau di zona demiliterisasi pada 21 September lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka, dengan dua di antaranya mengalami luka serius.

Berdasarkan investigasi bersama Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa, Korea Selatan menyimpulkan ranjau tersebut sengaja dipasang pasukan Korea Utara di sisi selatan garis demarkasi militer.

Seoul menyebut insiden itu sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata. Korea Selatan juga menuntut Korea Utara menyampaikan permintaan maaf dan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Namun, Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un sekaligus direktur departemen urusan umum di Partai Buruh Korea Utara, membantah tuduhan itu. Dia menyebut temuan militer Korea Selatan sebagai rekayasa dan menuding insiden tersebut merupakan provokasi yang dibuat oleh Seoul sendiri.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online