Media Asing Soroti Demo di Indonesia dan Simbol Salam Tiga Jari

Jumali
Jumali Kamis, 29 Oktober 2026 13:17 WIB
Media Asing Soroti Demo di Indonesia dan Simbol Salam Tiga Jari

Kondisi di Jalan Malioboro pada Rabu (28/10/2026) malam. Harian Jogja-Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Demonstrasi di Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia pada Rabu (28/10/2026) menjadi perhatian media internasional. Kantor berita AFP dan Reuters serta media Hong Kong South China Morning Post (SCMP) menyoroti tuntutan demonstran terkait kondisi ekonomi, korupsi, kebakaran hutan, dan kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

Salah satu simbol yang mencuri perhatian adalah salam tiga jari yang diacungkan para demonstran. Gestur tersebut dikenal sebagai simbol perlawanan dalam waralaba film distopia The Hunger Games.

Dalam aksi tersebut, massa juga membawa poster berisi kritik terhadap pemerintah, termasuk tuntutan penanganan kebakaran hutan yang dinilai belum memadai. Isu kabut asap menjadi salah satu pemicu kemarahan demonstran karena dampaknya dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia hingga negara tetangga.

AFP Soroti Salam Tiga Jari dan Kritik terhadap Prabowo

Kantor berita Prancis, AFP, melaporkan demonstrasi di Jakarta diwarnai berbagai poster bernada protes. Sejumlah pesan menyoroti kesulitan ekonomi, korupsi, dan penanganan kebakaran hutan.

Salah satu poster bertuliskan, “Lapar? Makan orang kaya!” Poster lainnya memuat pesan, “Jika kami terbakar, kalian juga akan terbakar bersama kami.”

AFP juga menyoroti poster yang mengkritik Presiden Prabowo Subianto. Salah satunya berbunyi, “Hei Wok! Tak seorang pun membayar kami. Kami semua membencimu secara cuma-cuma.” Poster lain bertuliskan, “Tidak ada udara bersih di bawah pemerintahan kotor.”

Dalam laporannya, AFP turut menyinggung penurunan popularitas Prabowo berdasarkan survei serta tuduhan korupsi dan kekhawatiran mengenai kecenderungan otoritarianisme. Penilaian tersebut merupakan konteks yang dilaporkan media itu di tengah aksi demonstrasi.

AFP mewawancarai seorang demonstran bernama Sekar, 37, yang mengaku datang untuk melindungi mahasiswa yang mengikuti aksi. Ia mengatakan keprihatinannya terhadap masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan kabut asap selama berbulan-bulan, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga.

“Saya datang ke sini dari rumah dengan niat untuk melindungi para mahasiswa,” kata Sekar kepada AFP.

Ketegangan juga terjadi di sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Menurut laporan tersebut, polisi menembakkan gas air mata setelah terjadi aksi saling dorong. Sebagian demonstran dilaporkan melempar botol air plastik dan membakar sampah di jalan.

Massa mulai membubarkan diri setelah hujan turun, sekitar enam jam sejak demonstrasi dimulai.

Demonstran Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat Nasional

Selain kritik terhadap kondisi ekonomi dan pemerintahan, penanganan kebakaran hutan menjadi tuntutan utama demonstran.

Panitia aksi yang menamakan diri Komite Sadar mendesak pemerintah menetapkan status darurat nasional untuk menangani kebakaran hutan yang memicu kabut asap.

Besarnya dampak kebakaran juga menjadi sorotan. Pemantau deforestasi Nusantara Atlas memperkirakan sekitar 1,9 juta hektare lahan di Indonesia terdampak kebakaran selama Januari hingga September 2026.

Angka tersebut berasal dari analisis citra satelit Nusantara Atlas. Lembaga tersebut menjelaskan bahwa angka luas lahan terdampak kebakaran tidak serta-merta berarti seluruh vegetasi di area tersebut habis terbakar. <Cite refs={["turn407392search2","turn407392search4"]}/>

AFP turut mengutip kesaksian Annette Mau, 47, dari Aliansi Ibu-ibu Indonesia mengenai dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, termasuk bayi.

Di sisi lain, pemerintah menyatakan telah mengerahkan lebih dari 72.000 personel untuk memadamkan kebakaran. Pemerintah juga disebut mengerahkan lebih dari 2.100 dokter dan tenaga kesehatan serta mendistribusikan 5,3 juta masker.

Angka pengerahan personel, tenaga kesehatan, dan distribusi masker tersebut perlu dibaca sebagai keterangan yang dilaporkan dalam naskah sumber dan dikonfirmasi kembali kepada instansi pemerintah terkait.

Reuters Soroti Dampak Kabut Asap hingga Malaysia dan Singapura

Kantor berita Reuters juga memberitakan demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil di Jakarta serta sejumlah kota lain. Aksi tersebut menyoroti kebijakan pemerintahan Prabowo, termasuk penanganan kebakaran hutan.

Reuters melaporkan kebakaran hutan dan kabut asap telah meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pernapasan serta mencemari udara di negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Sejumlah demonstran mengenakan masker gas dan membawa poster yang mendesak pemerintah menetapkan kebakaran sebagai bencana nasional. Salam tiga jari juga terlihat di tengah aksi sebagai simbol protes yang terinspirasi dari The Hunger Games.

Reuters mewawancarai Anggi Aurien, 28, yang mengenakan masker gas selama tiga jam saat mengikuti demonstrasi. Ia memprotes kebakaran yang mengancam satwa liar. Massa juga membawa poster bergambar orangutan dan potongan gambar Presiden Prabowo dari karton.

“Satwa tidak bisa berpikir sendiri. Jika kita membunuh mereka, apa bedanya kita dengan mereka?” ujar Anggi.

Laporan Reuters juga menyebutkan pemerintah menyatakan telah memberikan bantuan kepada provinsi yang terdampak kabut asap dan mengambil langkah terhadap perusahaan yang terkait dengan kebakaran. Pemerintah mengatakan pemantauan terhadap situasi kebakaran akan terus dilakukan.  

SCMP Angkat Suara Mahasiswa dari Kalimantan

Media Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), menyoroti krisis kabut asap sebagai salah satu pemicu kemarahan mahasiswa terhadap pemerintahan Prabowo.

Dalam laporan berjudul Indonesia’s haze crisis becomes rallying point for student anger at Prabowo, SCMP mengisahkan perjalanan Yosafat Menteng dari Kalimantan ke Jakarta bersama lima mahasiswa lainnya untuk mengikuti demonstrasi.

Yosafat berasal dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah, salah satu kota yang terdampak kabut asap. Ia menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya.

Yosafat dan rekan-rekannya datang ke Jakarta untuk memprotes penanganan kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia dan negara-negara tetangga.

“Mahasiswa di Kalimantan mendesak pemerintah untuk menetapkan kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua sebagai bencana nasional,” ujarnya.

SCMP juga melaporkan demonstran menuntut pemerintah menangani kebakaran hutan, meninjau prioritas belanja negara, serta memperhatikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok.

Sorotan tiga media tersebut memperlihatkan bahwa demonstrasi pada 28 Oktober 2026 tidak hanya berkaitan dengan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Krisis kebakaran hutan dan kabut asap turut menjadi isu utama yang dibawa demonstran, terutama karena dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.  

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online