Tiga Tahun Perang, Ekonomi dan Kehidupan Gaza Nyaris Lumpuh

Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho Kamis, 08 Oktober 2026 22:57 WIB
Tiga Tahun Perang, Ekonomi dan Kehidupan Gaza Nyaris Lumpuh

Warga Palestina melintas di jalan yang dikelilingi bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan./Antara-Xinhua-Rizek Abdeljawad

Harianjogja.com, JAKARTA—Tiga tahun agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mengubah Jalur Gaza secara menyeluruh. Wilayah yang sebelumnya dihuni sekitar dua juta orang kini menghadapi kehidupan ekonomi yang lumpuh, layanan publik yang runtuh, ruang hidup yang menyempit, serta ketergantungan besar pada bantuan untuk bertahan hidup.

Dampak perang terlihat hampir di seluruh aspek kehidupan. Rumah dan infrastruktur dasar hancur, sementara akses masyarakat terhadap pendidikan dan layanan kesehatan turut terputus.

Perang juga menggerus aktivitas ekonomi, menghilangkan pekerjaan dan pendapatan. Masyarakat Gaza dipaksa menata ulang hampir seluruh aktivitas sehari-hari hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Melansir Al Jazeera, Kamis (8/10/2026), Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 74.245 warga Palestina tewas selama tiga tahun perang.

Meski gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, kekerasan belum sepenuhnya berhenti. Sebanyak 1.462 warga Palestina disebut tewas sejak gencatan senjata tersebut berlaku, sementara serangan dan aktivitas militer Israel masih berlangsung di berbagai wilayah Gaza.

Warga Gaza Berjuang Memenuhi Kebutuhan Dasar

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada September 2026 sebanyak 94% penduduk Gaza masih membutuhkan tempat tinggal dan bantuan kebutuhan rumah tangga.

Sebanyak 65% rumah tangga hidup di tenda atau tempat penampungan sementara setelah kehilangan atau meninggalkan rumah mereka.

Persoalan lain muncul dari akses terhadap air. PBB mencatat 91% rumah tangga yang dinilai pada awal Agustus mengalami tingkat kerawanan air sedang hingga tinggi. Angka tersebut meningkat dari 84% pada Juni.

Gaza juga belum memiliki jaringan listrik yang berfungsi normal. Rumah tangga dan layanan penting bergantung pada generator, sementara ketersediaan bahan bakar, oli mesin, dan suku cadang semakin terbatas.

Kerusakan jalan dan jaringan komunikasi semakin memperumit mobilitas masyarakat serta akses terhadap layanan dasar. Mengumpulkan air, mengisi daya telepon, memasak, mencuci, hingga berpindah dari satu layanan ke layanan lain kini membutuhkan sumber daya dan perencanaan yang sebelumnya tidak diperlukan.

Ekonomi Gaza Nyaris Runtuh

Kehancuran fisik Gaza berjalan beriringan dengan kerusakan ekonomi. Konferensi PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) memperkirakan 92% unit kegiatan ekonomi Gaza telah rusak atau hancur sejak Oktober 2023.

Tingkat pengangguran mencapai 78%. Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) per kapita Gaza pada 2025 hanya US$212 atau sekitar 17% dari level 2022.

Sektor pertanian dan industri masing-masing hanya beroperasi pada sekitar 6% dari tingkat produksinya pada 2022. Kondisi lebih parah terjadi pada sektor konstruksi yang hanya tersisa 1%.

Keterbatasan pergerakan barang turut memperburuk kondisi ekonomi. Sebagian besar perdagangan Gaza dengan dunia luar secara historis melewati perlintasan yang dikendalikan Israel.

Dampaknya terasa langsung pada harga barang. Pada September 2026, harga-harga masih sekitar 200% lebih tinggi dibandingkan sebelum Oktober 2023.

Hilangnya pekerjaan dan pendapatan membuat aktivitas ekonomi semakin bergantung pada bantuan, utang, serta pekerjaan informal berskala kecil.

Peneliti ekonomi Rami al-Zaygh mengatakan perang telah "mendorong mundur ekonomi beberapa dekade jauh ke belakang". Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya kembali pekerjaan-pekerjaan lama serta jenis pekerjaan baru yang mengandalkan peralatan sederhana dan sumber daya seadanya.

Krisis bahkan menjalar ke sistem pembayaran. Kelangkaan uang tunai membuat masyarakat semakin mengandalkan pembayaran digital dan dompet elektronik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online