Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Bergantung pada Perjanjian Abraham

Newswire
Newswire Jum'at, 24 Juli 2026 01:07 WIB
Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Bergantung pada Perjanjian Abraham

Foto ilustrasi bendera Amerika Serikat. - Freepik

Harianjogja.com, ISTANBUL—Rencana kerja sama nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi masih bergantung pada keputusan Riyadh untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham. Presiden AS Donald Trump, Kamis (23/7), menegaskan persyaratan tersebut melalui pernyataan yang diunggah di platform Truth Social.

Trump menyebut kesepakatan nuklir sipil yang disusun antara Departemen Energi Amerika Serikat dan Arab Saudi hanya mencakup pemanfaatan nonmiliter dan tidak mengizinkan pengayaan material. Menurut dia, persetujuan terhadap kerja sama itu sepenuhnya terkait dengan keikutsertaan Arab Saudi dalam Perjanjian Abraham.

"Kesepakatan Nuklir Sipil (Tidak akan ada pengayaan material!) yang dibuat antara Departemen Energi Amerika Serikat dan Arab Saudi, yang hanya berkaitan dengan penggunaan non-militer seperti yang sudah dimiliki Iran dan UAE (dan negara lain), akan disetujui," tulis Trump di platform Truth Social.

Trump kembali menegaskan syarat tersebut dalam pernyataan berikutnya.

"Perjanjian tersebut sepenuhnya bergantung pada bergabungnya Arab Saudi ke dalam Perjanjian Abraham yang sangat dihormati dan sukses," tulis Trump, seraya menambahkan bahwa AS "tidak menentang Fasilitas Nuklir Sipil (Non-Pengayaan)."

Perjanjian Abraham merupakan kesepakatan normalisasi hubungan yang ditandatangani Israel dengan sejumlah negara mayoritas Muslim pada masa jabatan pertama Trump sebagai Presiden AS.

Hingga kini terdapat empat negara yang telah bergabung dalam perjanjian tersebut, yakni Bahrain, Maroko, Sudan, dan Uni Emirat Arab.

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjelaskan bahwa kesepakatan kerja sama nuklir itu tetap harus memperoleh persetujuan Kongres Amerika Serikat. Dia juga menegaskan akan ada mekanisme pengamanan dalam pelaksanaannya.

"Setiap perjanjian yang akan kita buat dengan negara mana pun di dunia tentang energi nuklir sipil akan memiliki pengamanan untuk memastikan bahwa itu tidak dapat diubah menjadi program senjata," kata Rubio kepada wartawan di Filipina.

Sehari sebelumnya, Rabu (22/7), Departemen Energi AS mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian kerja sama nuklir.

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Menteri Energi AS Chris Wright bersama Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman. Menurut pernyataan resmi Departemen Energi AS, kedua pihak meneken perjanjian kerja sama nuklir damai yang dikenal sebagai Perjanjian 123, bersamaan dengan perjanjian pengamanan bilateral.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online