Kemenkes Kerahkan 160 Nakes ke NTT, Fokus Tangani Trauma Warga
Kemenkes mengirim 160 nakes TCK ke NTT untuk memperkuat layanan kesehatan mental dan psikososial masyarakat terdampak gempa.
Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak, Senin (24/8/2026) (Antara/HO-Badan Geologi)
Harianjogja.com, JAKARTA— Fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama sekitar 25 jam telah berakhir. Meski demikian, masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api aktif tersebut diminta tetap waspada dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menyampaikan kondisi aktivitas masyarakat di Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, masih berjalan normal setelah erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026.
Tenaga Ahli Utama Bakom RI Muhamad Hidayat mengatakan kondisi tersebut diketahui setelah tim melakukan pemantauan langsung di Pulau Sebesi. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan situasi Gunung Anak Krakatau dari wilayah yang berada paling dekat dengan gunung tersebut.
"Pada 8 September 2026 pukul 09.00 WIB saya berada di Pulau Sebesi melakukan penyeberangan ke Pelabuhan Canti. Tepat di samping kami adalah lokasi Gunung Anak Krakatau," ujar Hidayat di lokasi pada hari ini.
Aktivitas Warga Pulau Sebesi Tetap Normal
Hidayat mengatakan tim sebelumnya juga melakukan pemantauan pada Senin malam dari Pulau Sebesi. Dari hasil pemantauan tersebut, aktivitas masyarakat setempat masih berlangsung seperti biasa.
Pulau Sebesi merupakan wilayah yang paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. Jarak pulau tersebut dengan gunung api aktif itu sekitar kurang lebih 20 kilometer.
Menurut Hidayat, aktivitas penyeberangan masyarakat lokal juga masih berjalan normal. Warga tetap melakukan perjalanan dari Pulau Sebesi menuju Pelabuhan Canti maupun sebaliknya.
Kendati aktivitas masyarakat masih normal, pemerintah tetap meminta warga meningkatkan kewaspadaan. Salah satu imbauan yang disampaikan adalah menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah.
"Tetap menjaga kewaspadaan, itu tetap diimbau oleh pemerintah desa dan daerah," kata Hidayat.
Warga Diminta Tak Terpancing Informasi Hoaks
Selain kewaspadaan terhadap kondisi di lapangan, masyarakat juga diminta berhati-hati terhadap informasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang beredar melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.
Hidayat meminta masyarakat tidak langsung mempercayai kabar yang belum memiliki sumber jelas. Informasi yang tidak terverifikasi dikhawatirkan dapat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
"Hindari berita-berita hoaks atau disinformasi. Cek kembali informasi di kanal-kanal resmi pemerintah seperti Badan Geologi, BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah setempat," ujarnya.
Ia menegaskan informasi dari lembaga pemerintah yang berwenang perlu menjadi rujukan utama masyarakat. Dengan demikian, perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat diketahui berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Hidayat, penggunaan sumber informasi resmi menjadi penting setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat di sekitar kawasan gunung api diharapkan tidak mengambil kesimpulan berdasarkan kabar yang beredar tanpa verifikasi.
Ia berharap kondisi Gunung Anak Krakatau terus membaik sehingga masyarakat di wilayah sekitar tetap dapat menjalankan aktivitas dengan aman dan terlindungi.
Hidayat juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendoakan agar situasi Gunung Anak Krakatau tetap kondusif. Ia berharap masyarakat Indonesia senantiasa mendapatkan perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kemenkes mengirim 160 nakes TCK ke NTT untuk memperkuat layanan kesehatan mental dan psikososial masyarakat terdampak gempa.
DPRD DIY meminta DTSEN tidak diterapkan kaku karena data bansos harus diuji dengan kondisi riil warga, termasuk pekerja informal dan pengguna pinjol.
Gus Kikin memastikan tetap menjaga kedekatan dengan PWNU Jatim meski lebih banyak bertugas di Jakarta sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.
Sultan HB X menyoroti pengelolaan MBG di Sleman, terutama penyimpanan bahan makanan dan waktu memasak setelah 70 siswa diduga keracunan.
Kapal induk Giuseppe Garibaldi kini berada di Laut Arab menuju Indonesia dan dijadwalkan tiba 17 September sebelum berganti nama menjadi KRI Gajah Mada.
Astrid dan BI Solo menyerahkan sarana produksi kepada Kelompok Wanita Kreatif Surakarta untuk mengembangkan kain perca menjadi produk fashion bernilai ekonomi.