Laptop AI Axioo Hype AI G3 Mulai Rp8 Jutaan, Bobot 1,25 Kg
Laptop AI Axioo Hype AI G3 hadir mulai Rp8 jutaan. Simak spesifikasi, prosesor Intel dengan NPU, bobot 1,25 kg, baterai dan perlindungan 3 tahun.
Rudal Iran- Photo by Moslem Daneshzadeh on Unsplash via MUI.or.id\r\n\r\n
Harianjogja.com, JAKARTA— Qasem Basir, rudal balistik anti-kapal jarak menengah Iran, dilaporkan untuk pertama kalinya digunakan dalam konflik dengan Amerika Serikat pada 5 September 2026.
Rudal tersebut disebut digunakan untuk menyerang kapal induk bertenaga nuklir USS George Washington dan sebuah kapal perusak berpeluru kendali di sekitar Selat Hormuz.
Jika laporan itu terkonfirmasi, serangan tersebut dapat menjadi debut tempur Qasem Basir sekaligus penggunaan pertama rudal itu dalam misi anti-kapal.
Namun, keterlibatan Qasem Basir masih belum terverifikasi secara independen. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) hanya menyatakan dua kapal perang AS berhasil menghindari serangan Iran tanpa mengungkap identitas kapal yang menjadi sasaran maupun rincian sistem pertahanan yang digunakan.
Qasem Basir, Turunan Rudal Haj Qasem
Iran memperkenalkan Qasem Basir pada Mei 2025. Rudal ini merupakan turunan dari rudal Haj Qasem dan dilaporkan menggunakan bahan bakar padat dengan jangkauan sekitar 1.200 kilometer.
Qasem Basir juga disebut memiliki struktur komposit dan kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver. Iran mengklaim teknologi tersebut memungkinkan rudal melakukan serangan presisi terhadap sasaran di kawasan.
Sistem panduan rudal dilaporkan menggunakan navigasi inersia pada fase awal penerbangan. Pada fase akhir, Qasem Basir disebut mengandalkan sistem pencari elektro-optik atau inframerah untuk membantu menentukan sasaran.
Teknologi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap navigasi satelit yang dapat terganggu akibat peperangan elektronik.
Meski demikian, menargetkan kapal perang yang terus bergerak memiliki tingkat kompleksitas berbeda dibandingkan menyerang sasaran darat yang posisinya relatif tetap.
Mengapa Kapal Induk Sulit Diserang?
Serangan terhadap kapal induk yang sedang beroperasi membutuhkan informasi mengenai posisi sasaran yang terus diperbarui.
Data tersebut dapat diperoleh melalui berbagai sumber, termasuk radar pantai, pesawat, drone, satelit maupun kapal pengintai.
Tanpa pengawasan berkelanjutan dan pemrosesan data secara cepat, rudal jarak jauh berisiko menuju koordinat yang sudah tidak sesuai dengan posisi kapal ketika rudal tiba di kawasan sasaran.
Karena itu, keberhasilan serangan terhadap kapal induk tidak hanya ditentukan oleh kemampuan rudal.
Keseluruhan rantai pembunuhan atau kill chain juga menjadi faktor penting, mulai dari menemukan sasaran, melacak pergerakannya, menentukan koordinat, hingga memberikan panduan kepada rudal selama penerbangan.
Iran Klaim Qasem Basir Bisa Tembus Pertahanan
Pejabat Iran mengklaim Qasem Basir mempunyai tingkat akurasi sangat tinggi dan tetap dapat beroperasi di tengah peperangan elektronik.
Iran juga menyebut rudal tersebut dirancang untuk menghadapi sistem pertahanan seperti THAAD, Patriot, serta Arrow.
Selain itu, Iran mengklaim Qasem Basir dapat melakukan manuver pada fase akhir penerbangan sehingga menyulitkan sistem pencegat.
Akan tetapi, klaim tersebut belum sepenuhnya didukung bukti teknis independen. Informasi terbuka mengenai performa Qasem Basir dalam kondisi pertempuran juga masih terbatas.
Struktur berbahan serat karbon yang dikaitkan dengan rudal tersebut disebut dapat membantu mengurangi penampang radar. Namun, seberapa besar pengaruh teknologi itu terhadap kemampuan deteksi rudal belum dapat dipastikan berdasarkan bukti yang tersedia.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategis
Konfrontasi tersebut memiliki arti strategis karena berlangsung di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur paling penting bagi perdagangan energi dunia.
Peningkatan risiko terhadap kapal perang maupun kapal tanker di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan pasokan minyak dan gas global.
Beberapa jam setelah serangan yang dilaporkan terhadap kapal perang AS, CENTCOM menyatakan telah melumpuhkan tiga kapal tanker minyak yang disebut terkait dengan Iran di sekitar Pulau Kharg, Jask, dan Teluk Oman.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper memperingatkan bahwa serangan terhadap dua kapal Amerika akan menghasilkan "biaya ekonomi yang jauh lebih tinggi."
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konfrontasi Iran-AS tidak hanya berlangsung melalui serangan rudal. Konflik juga dapat merembet ke sektor pelayaran dan infrastruktur energi.
Debut Tempur Qasem Basir Masih Jadi Tanda Tanya
Sejumlah pertanyaan penting masih belum terjawab terkait serangan 5 September 2026.
Belum ada konfirmasi independen yang memastikan bahwa rudal yang digunakan dalam serangan tersebut benar-benar Qasem Basir.
Selain itu, belum diketahui bagaimana Iran memperoleh solusi penargetan terhadap kapal Amerika, sejauh mana sistem pencari rudal berfungsi, serta apakah kapal-kapal AS berhasil menghindari serangan melalui manuver atau menggunakan sistem pertahanan berlapis.
Jika keterlibatan Qasem Basir akhirnya dapat dikonfirmasi, insiden tersebut akan menjadi perkembangan penting dalam kemampuan rudal Iran dan strategi perang maritimnya.
Sebaliknya, tanpa bukti independen, laporan mengenai debut tempur Qasem Basir masih harus dipandang sebagai klaim yang belum terverifikasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Laptop AI Axioo Hype AI G3 hadir mulai Rp8 jutaan. Simak spesifikasi, prosesor Intel dengan NPU, bobot 1,25 kg, baterai dan perlindungan 3 tahun.
Operasional YIA kembali normal setelah erupsi Anak Krakatau sempat memicu penyesuaian hingga pembatalan penerbangan pada 6-7 September 2026.
99 Asmaul Husna lengkap dengan arti dan cara meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari sebagai refleksi untuk memperbaiki perilaku.
Ibu-ibu Jogja kembali menggelar aksi pukul panci dari Tugu ke UGM, menyoroti 43 ribu korban keracunan MBG dan kebijakan pemerintah.
JJLS Kelok 23 segera diuji coba. Waktu tempuh Kretek-Girijati dipangkas dari sekitar 30 menit menjadi 7,5 menit.
BMKG mencatat gempa susulan Flores M7,7 mencapai 13.863 kali hingga Rabu pagi, dengan magnitudo terbesar 6,2.