Israel: "Suriah Berani Pakai S-300 Kiriman Rusia untuk Lawan Israel, Kami Akan Balas"

Sistem persenjataan rudal jarak jauh darat ke udara S-300 - Sputniknews/Russian Defence Ministry
25 April 2018 02:05 WIB Nugroho Nurcahyo News Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, MOSKWA-Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan Rusia belum memutuskan apakah akan memasok sistem rudal jarak jauh darat ke udara S-300 ke Suriah. Namun Israel sudah buru-buru mewanti-wanti akan membalas menyerang Suriah jika Damaskus menggunakan senjata andalan Rusia itu untuk menyerang mereka.

"Yang terpenting bagi kami adalah senjata pertahanan yang diberikan Rusia kepada Suriah tidak akan digunakan untuk melawan kami. Jika mereka [Suriah] gunakan untuk melawan kami, kami akan membalas,” kata Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman kepada Ynet, seperti dikutip Sputniknews, Selasa (24/4/2018).

Lieberman menegaskan Israel tidak ikut campur dalam urusan internal Suriah. "Tetapi di sisi lain kami tidak akan mengizinkan Iran membanjiri negara dengan sistem persenjataan canggih yang akan ditujukan terhadap Israel," ujarnya.

"Jika ada yang menyerang kami, kami akan membalas. Terlepas itu sistem persenjataan S-300, S-700 atau apa pun di sana," kata Lieberman.

Dalam sebuah wawancara dengan Army Radio, Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz meragukan potensi Rusia memasok sistem pertahanan rudal S-300 ke Suriah, sebab langkah itu akan merusak hubungan Moskwa dengan Tel Aviv.

"Saya ragu mereka akan memasok sistem pertahanan rudal ini, sebab mereka akan melewati batas tertentu dalam hubungan dengan kami," kata Radio Angkatan Udara mengutip Katz.

Sementara Pejabat senior Israel lainnya menyatakan keprihatinannya atas potensi pasokan sistem S-300 Rusia ke Suriah.

"Setiap jenis senjata yang mengancam keamanan Israel akan selalu menjadi masalah," kata Wakil Direktur Jenderal dan Direktur Departemen Luar Negeri Eurasia, Alexander Ben-Zvi.

Di saat yang sama, Ben-Zvi tidak mengklarifikasi jika Tel Aviv akan mengangkat permasalahan pasokan S-300 selama mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Rusia. Dia mencatat bahwa "hal-hal mengenai konflik Suriah terus-menerus dibahas selama pertemuan antara politisi dan diplomat Israel di Kementerian Luar Negeri dan Dewan Keamanan Rusia."

Pernyataan para pejabat Israel itu datang selang sehari setelah IDF meluncurkan serangan terhadap artileri Suriah yang dipicu adanya mortir yang jatuh di samping pagar keamanan di Dataran Tinggi Golan utara, daerah yang hingga kini masih disengketakan. Dataram Tinggi Golan, selama ini menjadi fokus perhatian dalam hubungan antara Tel Aviv dan Damaskus sejak Perang Enam Hari pada 1967.

 

Belum Diputuskan

Pada 23 Maret, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan Presiden Vladimir Putin telah membahas masalah pasokan S-300 ke Suriah dengan Kementerian Pertahanan. Namun, belum ada keputusan diambil.

Pekan lalu, Mark Heller, peneliti utama di Institute for National Security Studies di Tel Aviv University, mengatakan kepada Sputnik Israel khawatir pertahanan udara Suriah yang lebih efektif yang dibangun di sekitar peralatan Rusia akan membatasi kemampuan Israel beroperasi melawan pasukan Iran dan Hezbollah di Suriah.

Pada 14 April, Kepala Direktorat Operasional Utama Staf Umum Rusia Sergei Rudskoy mengumumkan Moskwa mungkin mempertimbangkan kembali penjualan sistem S-300 ke Damaskus di belakang serangan udara AS dan sekutu terhadap Suriah sebagai tanggapan atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh pasukan pemerintah di Kota Douma.

Sumber : Sputniknews

Ad Tokopedia