Advertisement
CIA Disebut Bangun Kehadiran Permanen AS di Venezuela
Bendera Amerika Serikat. - Ist/Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Amerika Serikat melalui Badan Intelijen Pusat (CIA) disebut tengah menyiapkan langkah senyap untuk membangun kehadiran permanen di Venezuela, sebagai bagian dari upaya memengaruhi arah masa depan politik negara Amerika Latin tersebut. Informasi ini dilaporkan CNN pada Selasa (27/1) dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Laporan itu mengungkapkan koordinasi intens antara CIA dan Departemen Luar Negeri AS guna merancang bentuk aktivitas Amerika Serikat di Venezuela, baik untuk kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam skema tersebut, Departemen Luar Negeri diperkirakan akan memegang peran sebagai representasi diplomatik resmi AS di negara itu dalam jangka panjang.
Advertisement
Sebelum pembukaan kedutaan secara resmi, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut kemungkinan mengandalkan kantor cabang CIA sebagai pintu masuk awal. Kantor ini akan berfungsi menjalin kembali kontak informal dengan berbagai faksi politik di Venezuela, sekaligus membuka jalur komunikasi awal yang belum dapat ditempuh melalui mekanisme diplomasi formal.
Sumber yang dikutip CNN menyebutkan, CIA juga berpeluang memberikan pengarahan intelijen kepada sejumlah pejabat Venezuela, khususnya terkait pihak-pihak yang dinilai sebagai lawan strategis Amerika Serikat, seperti China, Rusia, dan Iran.
BACA JUGA
“Mendirikan kantor cabang adalah prioritas utama. Sebelum jalur diplomatik dibuka, kantor cabang dapat membantu membangun saluran penghubung, yang akan dilakukan dengan intelijen Venezuela, dan itu memungkinkan terjadinya percakapan yang tidak bisa dilakukan oleh para diplomat,” kata seorang mantan pejabat pemerintah AS yang mengetahui rencana tersebut, seperti dikutip CNN.
Situasi politik Venezuela sendiri memanas setelah pada 3 Januari Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke negara tersebut dan menangkap Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian dibawa ke New York atas tuduhan terlibat dalam kasus yang disebut otoritas AS sebagai “narko-terorisme.”
Dalam persidangan di pengadilan New York, Maduro dan Flores menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan. Menyusul operasi tersebut, pemerintah Venezuela mengajukan permintaan digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna membahas tindakan Amerika Serikat.
Mahkamah Agung Venezuela kemudian mengambil langkah sementara dengan mengalihkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez. Ia secara resmi dilantik sebagai presiden sementara dalam sidang Majelis Nasional pada 5 Januari, di tengah dinamika politik dan tekanan internasional yang terus berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Vape Disebut Pintu Masuk Narkoba, Ini Penjelasan BNN
- BPJS Nonaktif Tetap Dilayani, Jamkesda Jogja Disiapkan
- Kasus TBC Jogja 1.333 Orang, Dinkes Perkuat Skrining Kontak
- Pengaduan Kopdes Merah Putih Kini Bisa Lewat Call Center
- Bupati Bantul Larang Mercon dan Perang Sarung Saat Ramadan
- Dana Desa Rp200 Juta Disiapkan untuk Ketahanan Pangan Tirtohargo
- 34.143 Warga Sleman Keluar dari BPJS Kesehatan, Pemkab Reaktivasi
Advertisement
Advertisement







