Advertisement
PBB Khawatirkan Keselamatan Warga Sipil Akibat Perang di Sudan
Eskalasi kekerasan ke warga di El Fasher picu kekhawatiran Badan PBBSeorang anak mencoba mencari makanan dari ember di kamp pengungsian di El Fasher, wilayah Darfur Utara, Sudan, pada 9 Juli 2025. (ANTARA/Xinhua - UNICEF)
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas laporan Peningkatan kekejaman dan penyiksaan terhadap warga sipil yang melarikan diri dari El Fasher, Sudan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan pihaknya telah menerima laporan yang semakin meningkat tentang pelanggaran serius terhadap warga sipil seiring berlanjutnya pertempuran di negara bagian Darfur Utara, Sudan.
Advertisement
"Para relawan lokal telah secara publik melaporkan adanya eksekusi, kekerasan seksual, penghinaan, pemerasan, dan serangan, di antara bentuk-bentuk pelanggaran sistematis lainnya termasuk terhadap orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran setelah Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) merebut ibu kota negara bagian tersebut El Fasher pekan lalu," papar OCHA.
Kantor kemanusiaan tersebut mengatakan analisis citra satelit menunjukkan setidaknya dua kuburan massal di dekat sebuah masjid dan bekas rumah sakit anak-anak, serta beberapa lokasi yang menunjukkan tanda-tanda operasi pembuangan mayat.
BACA JUGA
Dana Kependudukan PBB (UN Population Fund/UNFPA) melaporkan bahwa perempuan dan anak perempuan menghadapi pemerkosaan, penculikan, dan kekerasan ekstrem lainnya saat melarikan diri dari El Fasher.
Sejumlah sumber lokal melaporkan bahwa sekitar 1.300 orang dengan luka tembak tiba di Kota Tawila, yang terletak 40 kilometer dari El Fasher setelah diserang saat melarikan diri dari kota tersebut, kata OCHA.
Organisasi Migrasi Internasional (International Organization for Migration/IOM) melaporkan bahwa hingga Selasa (4/11), hampir 82.000 orang telah melarikan diri dari El Fasher dan daerah sekitarnya sejak kota tersebut jatuh ke tangan RSF pada 26 Oktober.
IOM menyebutkan bahwa Tawila merupakan daerah tujuan bagi sebagian besar pengungsi yang meninggalkan ibu kota negara tersebut, dan kebutuhan kemanusiaan di daerah itu jauh melebihi sumber daya yang tersedia.
Komisariat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) melaporkan bahwa Chad, negara tetangga Sudan yang berada di sebelah barat, kini menjadi tempat perlindungan penting bagi mereka yang melarikan diri dari konflik Sudan. Negara itu menampung sekitar 1,4 juta pengungsi, sebagian besar berasal dari Darfur.
"Dengan meningkatnya kekerasan di El Fasher, diperkirakan akan terjadi gelombang pengungsi besar lainnya ke Chad, yang akan semakin membebani komunitas yang menampung mereka," kata UNHCR.
Mendorong komunitas internasional untuk segera meningkatkan dukungan terhadap respons pengungsi di Chad, UNHCR menyatakan, "Sektor-sektor krusial seperti kesehatan, air, sanitasi, dan perlindungan kekurangan sumber daya, menyebabkan ribuan orang tidak mendapatkan dukungan yang memadai,"
OCHA kembali menyerukan penghentian segera permusuhan di Sudan dan meminta semua pihak mematuhi kewajiban mereka sesuai dengan hukum humaniter internasional, termasuk perlindungan warga sipil serta memastikan petugas kemanusiaan dan bantuan dapat mencapai mereka yang membutuhkan dengan aman dan tanpa hambatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Cuaca DIY Minggu 18 Januari 2026: Jogja Hujan Lebat, Sleman Petir
Advertisement
Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif
Advertisement
Berita Populer
- BPBD Tangani Dampak Puting Beliung di Kotayasa Banyumas
- Jadwal DAMRI Bandara YIA-Jogja Sabtu 17 Januari, Tarif Rp80.000
- Jadwal SIM Keliling Jogja Sabtu 17 Januari 2026
- Harga Emas Sabtu 17 Januari, Galeri24 dan UBS Menguat
- Jadwal Bus KSPN Malioboro-Pantai Baron Sabtu 17 Januari 2026
- Jadwal SIM Keliling Bantul Sabtu 17 Januari 2026
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Beroperasi Sabtu 17 Januari
Advertisement
Advertisement



