Advertisement
BRIN Jelaskan Penyebab Sinkhole Marak di Indonesia
Sejumlah warga melihat dari jauh fenomena sinkhole yang terjadi di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (6/1/2026). ANTARA - Fandi Yogari
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah peristiwa muncul di berbagai wilayah Indonesia. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menjelaskan bahwa kondisi geologi tertentu membuat beberapa daerah lebih rentan terhadap munculnya lubang runtuhan.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/1/2026) Adrin menyebut sinkhole merupakan proses alamiah yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping (limestone) di bawah permukaan tanah. Proses ini berlangsung sangat lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara maupun permukaan tanah.
Advertisement
Proses Pembentukan Sinkhole
Menurut Adrin, air hujan yang meresap ke dalam tanah akan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping. Pelarutan ini membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan.
BACA JUGA
"Seiring waktu, aliran air permukaan dan air tanah membuat rongga semakin besar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya," ujarnya.
Saat hujan deras mengguyur, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis. Ketika tidak lagi mampu menahan beban, lapisan tersebut runtuh secara tiba-tiba sehingga muncul lubang besar di permukaan tanah yang dikenal sebagai sinkhole.
Daerah Rawan Sinkhole
Fenomena ini relatif sering terjadi di wilayah Indonesia yang memiliki bentang alam karst atau lapisan batugamping tebal. Beberapa daerah yang masuk kategori rawan antara lain di Gunungkidul (DI Yogyakarta), Pacitan (Jawa Timur) dan Maros (Sulawesi Selatan).
Daerah-daerah tersebut secara geologi memiliki lapisan batugamping di bawah permukaan yang mudah larut oleh air.
Tantangan Mitigasi dan Deteksi Dini
Adrin mengakui bahwa tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mengetahui tanda awal kemunculannya. Proses terbentuknya rongga terjadi perlahan dan tidak tampak di permukaan.
Meski demikian, teknologi dapat membantu upaya deteksi dini.
"Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik bisa digunakan untuk memetakan sebaran, ukuran, dan kedalaman rongga bawah tanah. Teknik ini memberi citra bawah permukaan sehingga potensi sinkhole dapat diantisipasi," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BRIN Jelaskan Penyebab Sinkhole Marak di Indonesia
- OKI Kecam Penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh Pejabat Israel
- Prancis Tegaskan Greenland Bukan Milik AS di Tengah Klaim Trump
- Akun Instagram Laras Faizati Dimusnahkan, iPhone 16 Disita Pengadilan
- Arus Kendaraan di Jalan Tol Meningkat Jelang Libur Isra Mikraj
Advertisement
Pemkot Jogja Gelontorkan Rp135 M untuk Proyek Infrastruktur
Advertisement
Way Kambas Tutup Sementara Wisata Alam karena Konflik Gajah Liar
Advertisement
Berita Populer
- Doa Malam Isra Mikraj 27 Rajab dan Tata Cara Membacanya
- Pemkab Sleman Bangun 3.989 Titik PJU Senilai Rp21,1 Miliar
- Digitalisasi Musisi Jalanan Malioboro, Kini Bisa Diapresiasi Nontunai
- Jadwal Lengkap Proliga Pekan Kedua di Medan
- Pelatih Timnas Indonesia John Herdman Bidik Sejarah di Piala AFF 2026
- Huawei Ungguli Apple di Pasar Ponsel China
- Selamat! Banyuraden Raih Peringkat II Desa Terbaik Nasional 2025
Advertisement
Advertisement



