Advertisement
Gaung Investasi Mobil Listrik Tak Sesuai Realita, Begini Faktanya
Menko Marves Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan meresmikan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (4/6/2022). - Ist/dokumen PT PLN
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Para menteri Kabinet Presiden Joko Widodo hingga kini masih mengkampanyekan pengembangan kendaraan listrik yang merupakan bagian proyek besar hilirisasi mineral, khususnya nikel.
Realitanya, hingga kini investasi mobil ataupun kendaraan listrik di Indonesia, masih sangat minim. Padahal target pemerintah sebagaimana tertuang dalam Permenperin No.6/2022, tahun ini Indonesia harus menggaet berbagai investasi jumbo mobil listrik.
Advertisement
BACA JUGA: Tahun Ini, Hyundai Berencana Menambah 3 Charging Station di DIY
Pada 2025, Indonesia ditargetkan bisa memproduksi sekitar 400.000 unit mobil listrik berbasis baterai. Bahkan untuk motor listrik, target itu tembus 6 juta unit pada tahun yang sama.
Kondisi eksisting ternyata jauh panggang dari api. Untuk mobil listrik, kekuatan produksi hingga tahun ini baru mencapai 29.000 unit per tahun dari tiga perusahaan.
Sementara untuk roda dua, 48 perusahaan mengklaim telah melokalisasi produk motor listrik. Kapasitas produksi baru mencapai 1,4 juta unit per tahun.
Lebih miris lagi, sewaktu melihat realisasi investasi yang dijaring. Nilai investasi seluruh produsen kendaraan listrik itu baru menembus Rp3,28 triliun.
Total investasi itu tampak jomplang dibandingkan gelontoran dana pengembangan EV yang dijaring Thailand. Untuk satu pabrikan EV saja, Thailand bisa mengantongi investasi hingga Rp9 triliun.
Dikutip dari Reuters, Thailand telah menerima invesetasi dari beberapa pabrikan EV asal China secara total mencapai Rp21,9 triliun. Investasi itu antara lain diinisiasi Great Wall Motors (GWM) yang menggelontorkan dana hingga Rp9,8 triliun.
Selanjutnya ada BYD yang sudah membangun fasilitas produksi dengan target operasi awal tahun depan. BYD mengucurkan dana sekitar 17,9 miliar baht, setara Rp7,8 triliun. Sisanya masih terdapat SAIC Motor hingga Hozon.
Di sisi lain, baru belakangan pihak pemerintah mulai mengakui sulitnya menjala investasi kendaraan listrik. Bahkan, Badan Koordinasi Penanaman Modal/Kementerian Investasi mengungkapkan sukarnya mendadani lahan investasi otomotif berbasis elektrik untuk dilirik investor.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM Nurul Ichwan mengakui kesulitan itu terletak pada rantai pasok electric vehicle (EV) yang belum kuat. Persoalannya, Indonesia belum memiliki kemantapan ekosistem, terutama komponen baterai.
"Jadi, kalau misalnya kita sudah punya baterainya, sebenarnya untuk menghasilkan manufaktur di EV nya, itu gampang, banyak orang yang mau datang," kata Nurul di sela-sela agenda Asean Business & Investment Forum 2023 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (2/9/2023).
Lebih jauh, pemerintah pun mulai mengakui “jualan” investasi Tesla yang semakin buyar. Sebelumnya, sewaktu pemerintah menggulirkan program pengembangan kendaraan listrik yang menurunkan beragam kebijakan, Tesla dan Elon Musk seakan jadi nama yang paling sering dilontarkan.
Terlebih lagi, Presiden Joko Widodo beserta kabinet pernah secara langsung bertemu Elon Musk di markas Tesla. Hingga pada akhirnya Tesla memilih Malaysia untuk membenamkan investasi meski hanya berupa hub distribusi Asean.
Hingga detik terakhir, Menko Marves Luhut Pandjaitan pun masih memungkiri bahwa Tesla tidak memilih Indonesia bagi basis produksi mobil listrik. Alhasil, pasca lawatan kembali ke Amerika Serikat, gagalnya Tesla ke Indonesia mulai diakui.
“Kami membahas Tesla dengan sangat detail menghabiskan waktu sekitar 2 jam 30 menit dengan Elon di kantornya. Ya dia memberikan pesan yang sangat jelas tentang apa yang terjadi ekonomi global dan apa yang menjadi kekhawatiran tentang kelebihan kapasitas saat ini,” ujar Luhut dalam Bloomberg CEO Forum at Asean dikutip melalui kanal YouTube Bloomberg Live, Rabu (6/9/2023).
Luhut menyebut Elon Musk mengatakan Tesla tidak akan melakukan investasi dalam waktu satu sampai dua tahun ke depan. Dia pun memaklumi hal tersebut dan mengatakan Indonesia tidak masalah jika Tesla belum bisa investasi di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
- Antrean Truk di Ketapang Mengular 12 Jam, Sopir Keluhkan Layanan
Advertisement
Libur Lebaran, Kendaraan ke Gunungkidul Naik 25 Persen
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Ansyari Lubis Minta PSS Sleman Tampil Maksimal Lawan Kendal Tornado
- Prancis Kucurkan Rp1,36 Triliun Hadapi Krisis Energi
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026: Tarif Rp8.000
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Red Notice Diajukan ke Interpol, Buru 2 Pelaku Pembunuhan WNA Belanda
Advertisement
Advertisement







