Begini Dua Skenario Berakhirnya Pandemi Covid-19 Menurut Epidemiolog

Petugas medis melakukan perawatan pasien di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, Minggu (4/7/2021). - Antara/Hendra Nurdiyansyah
11 Desember 2021 14:27 WIB Indra Gunawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut dua skenario tentang berakhirnya pandemi Covid-19.

Pertama, skenario pandemi akan selesai di akhir 2022 atau skenario buruk, pandemi baru berakhir pada 2025.

 “Saat ini kita masih di atas, meskipun ada tren menurun, tapi belum jelas trennya akan seperti apa. Belum benar-benar mengarah ke terkendali,” katanya saat dihubungi JIBI, Jumat (10/12/2021).

Dikatakan pandemi Covid-19 secara global saat ini ada di gelombang ke-3 dunia. Dicky mengungkap nanti ada tiga kategori, terkendali, endemi atau epidemi.

“Endemi bukan berarti tidak berbahaya, yang membedakan treshold-nya saja. Seperti misalnya demam berdarah, kalau threshold terlewati ini bisa jadi wabah besar. Ini yang perlu kita hindari,” ujarnya.

Dicky mengingatkan akan adanya efek long Covid. “Bisa diperkirakan secara ekonomi akan ada beban 5-10 tahun ke depan. Selesai pandemi Covid akan ada dampak ikutan panjang bisa 10-20 tahun ke depan,” imbuhnya. Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah potensi ledakan."

“Meskipun ada yang memiliki imunitas, tapi level indonesia ini dalam transimisinya di penularan komunitas di level 4 WHO. Itu yang terburuk, artinya kita tidak dapat mendeteksi sebagian besar kasus infeksi,” katanya.

Menurut Dicky, kemungkinan pandemi berakhir pada 2022, namun itu baru bisa terjadi jika beberapa kondisi terpenuhi. "Kalau akhir tahun 2022 kemungkinan (pandemi berakhir) itu ada dengan asumsi bahwa cakupan vaksinasi yang 2 dosis dunia itu setidaknya bisa dicapai. Ya tidak usah 70 persenlah, menurut saya 60 persen atau 50+ lah, tapi merata di seluruh dunia," katanya lagi.

Sementara untuk negara-negara maju diharapkan sudah jauh melebihi target, seperti minimal mencapai angka 80 persen untuk dosis kedua atau sudah memulai pemberian dosis ketiga. 

"Jika kondisi sudah demikian, dunia baru bisa sedikit berharap status pandemi akan dicabut oleh WHO," kata dia. "Di situlah besar harapan kita memasuki masa kasus itu sudah terkendali, sehingga beban di faskes sudah jauh, bahkan secara konsisten setidaknya, dua bulan atau satu bulan itu sudah terkendali," kata dia.

Sumber : JIBI/Bisnis.com