Advertisement
Firli Bantah Ada Pimpinan KPK Terlibat Suap Penyidik Robin
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri memberikan keterangan pers seusai Pelantikan Pegawai di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (1/6/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri membantah keterlibatan pimpinan lembaga antirasuah dalam kasus dugaan suap penanganan perkara di Tanjungbalai.
Firli mengklaim KPK sudah serius mengusut kasus suap yang melibatkan Robin. Penyidik lembaga antikorupsi, kata Firli, bahkan sudah memeriksa beberapa saksi termasuk internalnya sendiri untuk mengusut kasus suap Robin.
Advertisement
"Tidak ada bukti bahwa atasannya terlibat perkara SRP [Stepanus Robin Pattuju]," kata Firli kepada wartawan, dikutip Selasa (12/10/2021).
BACA JUGA : Peras Wali Kota Tanjung Balai, Penyidik KPK AKP Stefanus
Dalam sidang lanjutan kasus suap penaganan perkara, mantan Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial menyebut dirinya sering dipaksa Robin untuk segera memberikan uang suap.
Hal tersebut diungkapkan Syahrial saat bersaksi itu dalam persidangan kasus suap penanganan perkara di Tanjungbalai secara daring pada Senin, (11/10/2021).
Syahrial menyebut, Robin meminta agar uang suap itu cepat diberikan, karena 'atasan' memintanya. Syahrial menyebut 'atasan' yang dimaksud adalah pimpinan KPK.
Dalam perkara ini, Stepanus Robin Pattuju didakwa menerima uang sejumlah Rp11,02 miliar dan US$36 ribu dari sejumlah pihak.
Uang itu diterima oleh Stepanus dari para pihak yang diduga terlibat perkara di KPK. Uang itu diberikan agar Stepanus membantu para pemberi yang tengah terjerat perkara di KPK.
Secara perinci, Stepanus menerima Rp1,69 miliar dari Wali Kota nonaktif Tanjungbalai M Syahrial.
Kemudian, Stepanus menerima uang dari Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin melalui pihak swasta Aliza Gunadi. Jumlah uang yang diterima yakni Rp3,09 miliar dan US$36 ribu.
Ketiga, Stepanus juga disenut menerima uang dalam kasus penerimaan gratifikasi Rumah Sakit Bunda di Cimahi Jawa Barat dari Wali Kota nonaktif Cimahi Ajay Muhammad Priatna sejumlah Rp507,39 juta.
Stepanus juga disenut menerima uang dari Direktur Utama PT Tenjo Jaya Usman Effendi sejumlah Rp525 juta. Terakhir, Stepanus disebut menerima uang Rp5,17 miliar dari mantan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.
BACA JUGA : Firli: Penyidik KPK yang Jadi Tersangka Suap Punya Nilai
Atas perbuatannya, Stepanus didakwa melanggar Pasal 12 huruf a jo. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kelurahan Gowongan Jogja Rilis Buku untuk Edukasi Anak Pilah Sampah
Advertisement
Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global
Advertisement
Berita Populer
- Dua Kalurahan di Gunungkidul Gagal Cairkan Rp222 Juta Dana Desa
- Mulai 2028, Inggris Terapkan Pajak Jalan per Mil untuk Mobil Listrik
- Penamaan Jembatan Kabanaran Dipersoalkan, Pemprov DIY Angkat Bicara
- Dua Film RI Raih Penghargaan di QCinema 2025
- Prabowo Targetkan Perbaikan 60 Ribu Sekolah Tahun Depan
- Raperda Perfilman Jadi Sorotan DPRD DIY Tahun Depan
- Popbela.com Mantapkan Diri sebagai Media Fashion Tepercaya
Advertisement
Advertisement



