Kini Sudah Longgar, RS Covid-19 di Jakarta Sempat Kolaps karena Hantaman Corona Gelombang Dua

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. - ANTARA/Ricky Prayoga
15 Agustus 2021 06:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kondisi 140 rumah sakit rujukan COVID-19 di Jakarta sempat kolaps akibat hantaman ledakan COVID-19 gelombang kedua sepanjang Juli 2021 lalu.

Hal ini terindikasi dari melebihi batasnya jumlah yang harus dirawat dibandingkan dengan kapasitas perawatan, meski saat itu daya tampung rumah sakit ditambah oleh Anies dari semula hanya enam ribu tempat tidur menjadi 11 ribu tempat tidur dengan memanfaatkan sejumlah ruangan rumah sakit yang masih kosong.

Anies dalam rekaman video Pemprov DKI Jakarta, Sabtu, menyebut meski telah ditambah, jumlah pasien yang datang tetap jauh lebih banyak dari fasilitas kesehatan. Pada ledakan gelombang kedua kasus harian di Jakarta sempat menyentuh 14.000 kasus per hari, kemudian kasus harian itu stagnan di angka sekitar 12.000 sehari. Sementara jumlah kasus aktif di puncak ledakan COVID-19 pada 16 Juli 2021 lalu mencapai 113.000 kasus.

"Di awal gelombang dua itulah, pada saat kita berkejaran dengan penambahan kasus baru, ini pentingnya menahan kasus baru dan kasus aktif, karena kapasitas kesehatan kita bukannya tidak ada batas, jelas ada batasnya. Bila batas itu terlewati, maka kapasitas kesehatan kita kolaps, jumlah yang harus dirawat lebih banyak dari jumlah tempat tidur dan kamar untuk perawatan," kata Anies.

Akan tetapi, kata Anies, walau sempat berada di posisi sulit, namun ledakan COVID-19 gelombang kedua di Jakarta berhasil diredam lewat berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang kemudian menjadi PPKM level 4 setelah adanya penurun kasus di Jakarta.

BACA JUGA: Dosen UGM: Lindungi Hewan Peliharaan dari Covid-19!

"Kini alhamdulilah beban kapasitas kesehatan kita sudah turun di mana keterisian tempat tidur di seluruh rumah sakit di Jakarta hanya 33 persen saja, sementara keterisian tempat tidur di ruang ICU 59 persen," ucap Anies.

Berdasarkan pemantauan, pada puncak ledakan kedua keterisian tempat tidur memang di atas 90 persen, bahkan sejumlah rumah sakit sampai membuat tenda darurat untuk menampung pasien.

Dan karena banyaknya RS yang sudah kosong, Anies memutuskan sebagian fasilitas kesehatan itu kini dialihkan untuk pasien non COVID-19.

"Karena beban kapasitas sudah turun, maka kapasitas perawatan COVID-19 diturunkan untuk memberi ruang bagi pasien non Covid," ucapnya.

Anies menyebut bahwa penurunan beban rumah sakit sekarang ini berimbas langsung pada turunnya tingkat kematian akibat COVID-19 karena banyak pasien yang mendapatkan perawat yang lebih maksimal.

Saat ini jumlah jenazah yang dimakamkan dengan protap COVID-19 berkisar dari 40 hingga 50 orang. Angka ini sudah merosot drastis jika dibandingkan dengan kondisi pada ledakan kedua, dimana jumlah pemakaman dengan protap COVID -19 mencapai 400 sehari.

Perlu diingat, pemakaman menggunakan tata cara khusus ini dilakukan pada pasien yang telah dinyatakan positif COVID-19 dan kepada pasien meninggal dunia sebelum hasil tes PCR dikeluarkan.

"Sejak pertengahan bulan Juni 2021, angka pemakaman dengan protap Covid naik pesat, hingga puncaknya di tanggal 10 Juli 2021. Pada saat itu, 400 saudara kita dimakamkan dengan protokol Covid setiap harinya. Sedangkan kematian terkonfirmasi COVID-19 yang sudah keluar hasil tesnya sempat mencapai angka 200-an setiap hari," tutur Anies.

Sumber : Antara