ASO 2022 dan Penyelarasan Kurikulum STIKOM Yogyakarta terhadap Perubahan Teknologi Digital

Lokakarya Daring Kurikulum PT Komunikasi (Penyiaran, Periklanan, Hubungan Masyarakat, dan Ilmu Komunikasi) Berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM): Membaca dan Menelaah Tren Industri Media Digital serta Komunikasi Digital di Tengah Pandemi COVID-19. - Istimewa
26 Juli 2021 16:27 WIB Media Digital News Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Berbagai narasumber dalam Lokakarya Daring Kurikulum PT Komunikasi (Penyiaran, Periklanan, Hubungan Masyarakat, dan Ilmu Komunikasi) Berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM): Membaca dan Menelaah Tren Industri Media Digital serta Komunikasi Digital di Tengah Pandemi COVID-19 yang dihelat oleh STIKOM Yogyakarta mengungkapkan fakta menarik adanya perubahan teknologi telekomunikasi, media, dan informatika (Telematika) wajib diikuti dengan penyelarasan kurikulum pada berbagai Perguruan Tinggi Komunikasi termasuk di lingkungan STIKOM Yogyakarta. Lokakarya daring tersebut diselenggarakan pada 22-23 Juli 2021 melalui aplikasi Zoom dan ditayangkan juga melalui YouTube.

 Narasumber yang telah hadir yaitu: Agung Suprio, S.I.P., M.I.P. (Ketua Komisi Penyiaran Indonesia/KPI Pusat), Dr. Muhammad Sulhan (Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi/ASPIKOM Pusat), Prabu Revolusi (Deputy News Director MNC Group), Dr. Edial Rusli, S.E.,M.Sn. (Dosen fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta), Dyna Herlina Suwarto, M.Sc. (Founder Rumah Cinema Yogyakarta, PhD Candidate of Film and Television Studies University of Nottingham, Dosen FIS UNY), serta Hestu Saputra (Sutradara dan Alumni AKINDO YPK). Narasumber utama lainnya yang siap hadir yaitu: Iwan Pribadi,  M.A. (Program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites UNESCO), Soni Triantoro (Executive Producer Narasi TV,  2017-2020 Editor in Chief Hipwee online Magazine), Erlin Nur Azizah,  S.E (Founder & CEO jendela.id Digital Mar.Comm Agency), dan Diego Soryandana (Alumni STIKOM Yogyakarta, Sutradara Film Iklan). Bertindak sebagai moderator yakni Supadiyanto, M.I.Kom. selaku Pembantu Ketua I STIKOM Yogyakarta dan pembawa acara Risa Karmida, M.A (dosen tetap Prodi D3 Penyiaran).

Agung Suprio menyatakan bahwa berlakunya Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja terhitung sejak 2 November 2020, salah satunya mengatur mengenai kebijakan Analog Switch Off (ASO) terhadap semua perusahaan penyiaran analog maksimal pada 2 November 2022 mendatang. Artinya, penyiaran digital menjadi babak baru dalam ekosistem penyiaran nasional. “Saat ini ada 80 TV yang sudah punya IPP Tetap. Justru saingan para pengelola TV saat ini adalah para konten kreator. Konten is king,” paparnya dalam forum ilmiah yang dihadiri peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Narasumber lainnya Muhammad Sulhan menegaskan bahwa kurikulum berbagai perguruan tinggi komunikasi di Indonesia harus adaptatif untuk menyesuaikan berbagai perubahan teknologi digital. ASPIKOM Pusat berkewajiban untuk memayungi para anggotanya yang terdiri berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk melahirkan lulusan yang kompetibel dengan kebutuhan pasar.

Prabu Revolusi yang hadir pada kesempatan tersebut juga menguatkan bahwa kajian komunikasi digital harus dimunculkan untuk memberikan solusi atas masalah kompleks dalam industri media yang saat ini sudah berubah. Dalam kajiannya, Prabu Revolusi mengkaji tentang adanya transformasi dari media lama ke industri media baru.

Tokoh-tokoh lainnya, Edial Rusli, Dyna Herlina Suwarto, Hestu Saputra, Iwan Pribadi, Soni Triantoro, Erlin Nur Azizah,  dan Diego Soryandana sepakat bahwa lahirnya berbagai media baru, teknologi digital, internet, media sosial, dan beragam turunannya membuat perubahan besar-besaran tren konsumsi media; apalagi adanya pandemi COVID-19 yang belum selesai saat ini; membutuhkan hadirnya Sumber Daya Manusia yang andal dalam mengelola industri media digital.

Industri media digital dan komunikasi digital menjadi sebuah keniscayaan saat ini dan di masa depan. Adanya pandemi COVID-19 sejak akhir tahun 2019 sampai sekarang, memang menimbulkan "dampak tsunami besar" pada berbagai bidang kehidupan. Namun justru menggerakkan sektor industri media digital dan komunikasi digital saat ini. Gulung tikarnya berbagai perusahaan media maupun non media selama pandemic COVID-19 menjadi keprihatinan bersama. Banyak juga kalangan pekerja yang harus kehilangan pekerjaan mereka. Digitalisasi industri media dan komunikasi menjadi kebutuhan yang mendesak untuk menjawab berbagai persoalan di atas.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Yogyakarta sebagai metamorfosis dari Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) YPK yang sudah berdiri sejak 17 Januari 1995 silam sampai sekarang (lebih 26 tahun), telah memiliki almuni 2.603 lulusan yang kini telah menunjukkan performa dan pengabdian mereka pada berbagai medan industri media, komunikasi, penyiaran, perfilman, periklanan, dan hubungan masyarakat; maupun pada sektor kreatif, instansi pemerintah, maupun swasta; baik di dalam negeri maupun luar negeri; memiliki cita-cita besar untuk menyukseskan adanya digitalisasi media sebagai medan ilmu tanpa batas; karena mampu menjadi domain perkawinan lintas disiplin ilmu, lintas sektoral, lintas regulasi, dan lintas kepentingan menuju tercapainya peradaban bangsa yang semakin maju, sejahtera, dan visioner.

Seluruh peserta yang berasal dari beragam perguruan tinggi tersebut antusias mengikuti lokakarya daring tersebut. Terbukti dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan pada sesi tanya jawab. Adapun daftar peserta berasal dari: Universitas Muhammadiyah Papua, Universitas Islam Makassar, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Jember, Universitas Islam Makassar, Universitas Widya Mataram, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, Universitas Islam Sultan Agung Semarang, Universitas Islam Makassar, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Universitas Kader Bangsa, Universitas Satya Negara Indonesia, Universitas Pelita Harapan, IBI Kwik Kian Gie, Universitas Islam Makassar, Universitas Tidar,  Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta,  Universitas Amikom Yogyakarta, Universitas Widya Mataram Yogyakarta, AKRB Yogyakarta, Universitas Pelita Harapan, dan lainnya. (ADV)