Perusahaan Diimbau Tak Membeli Obat Terapi Covid-19

WHO merekomendasikan penggunaan obat arthritis atau radang sendi Actemra dari Roche untuk pasien Covid-19. - Antara
13 Juli 2021 13:57 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Di tengah kasus Covid-19 yang terus naik, ketersediaan obat terapi Covid-19 menipis. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau perusahaan besar agar tidak membeli obat-obatan dalam jumlah besar bagi karyawannya.

“Saya paham semua orang ingin punya obat di di rumah, padahal harusnya pakai resep diberikan oleh rumah sakit. Tapi, kalau stok di rumah meski memberi rasa nyaman, akan mengurangi kans 1 orang yang butuh untuk dapat akses, dan mereka bisa mati,” tegas Budi pada Raker dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (13/7/2021).

Dia mengungkapkan, bahwa saat ini banyak perusahaan yang membeli obat-obatan terapi untuk dipaketkan ketika karyawannya positif Covid-19.

Niatnya baik, namun perlu dipahami bahwa langkah tersebut menutup kesempatan orang-orang yang sedang sangat membutuhkan.

Baca juga: Sepekan PPKM Darurat, Belum Ada Tanda Penurunan Kasus Harian Covid-19

“Diimbau perusahaan besar tidak usah membeli, kalau dia beli 10.000, ada 10.000 orang kehilangan kesempatan dapat obat. Biarkan mekanisme medis berlaku. Ini bukan untuk rasa aman!” tegasnya.

Saat ini, berdasarkan data paparan Menkes, sisa stok Azithromycin sebanyak 5.867.530, multivitamin 65.239.257 dan Favirapir 1.789.327 butir.

Sementara, obat lainnya seperti Oseltamivir masih bisa terus menunggu tambahan dari masing-masing produsen yang bertambah tiap minggunya.

Adapun, obat Remdesivir, Gammaraas IVIg, dan Actemra lebih sulit mendapatkannya karena masih harus 100 persen impor.

Untuk ketersediaan obat, masyarakat umum bisa mengecek ketersediaan melalui aplikasi Farmaplus.

Saat ini, stok obat yang terlihat ada di semua apotek Kimia Farma, dan akan diperluas termasuk ke apotek milih swasta dan pribadi.

Sumber : bisnis.com