Advertisement
Pajak dan BBM Meroket, Krisis Ekonomi Lebanon Ramadan 2026 Mencekik
Serangan udara Israel di Lebanon telah memicu migrasi massal ribuan orang yang melarikan diri ke Suriah, sebuah negara yang sudah hancur akibat bertahun-tahun konflik. Antara - Anadolu\\r\\n\\r\\n
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Masyarakat Lebanon harus menyambut momentum Ramadan dan Paskah 2026 dengan beban hidup yang semakin berat. Harga bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan menembus 300.000 pound Lebanon per liter atau sekitar Rp59.000, sementara pajak pertambahan nilai (PPN) naik menjadi 12%. Kondisi ini memicu gelombang protes dari warga yang menilai kebijakan tersebut semakin menekan kehidupan ekonomi rakyat.
Reuters melaporkan, krisis Ekonomi Lebanon Ramadan 2026 ini diperparah kebijakan pemerintah yang berdalih kenaikan pajak dan BBM diperlukan untuk mendanai lonjakan gaji pegawai publik yang disebut meningkat hingga 19 kali lipat. Meski parlemen belum sepenuhnya mengesahkan kebijakan tersebut, dampaknya sudah terasa di pasar domestik dengan laju inflasi yang kembali tak terkendali dan memukul daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.
Advertisement
Ekonom Jassim Ajaka memprediksi harga berbagai komoditas pokok berpotensi naik hingga 25% akibat efek berantai dari kenaikan biaya produksi dan distribusi. Kekhawatiran serupa diungkapkan Ali Ismail, seorang pedagang yang mencemaskan lonjakan ongkos transportasi barang dari wilayah pegunungan ke pesisir dalam beberapa pekan ke depan.
Sektor pertanian pun tak luput dari tekanan. Presiden Serikat Petani, Ibrahim Tarshishi, menyebut meski cuaca hangat membantu produktivitas panen, pendapatan petani dan masyarakat tidak lagi sebanding dengan lonjakan biaya hidup. Saat ini, upah minimum di Lebanon dilaporkan hanya mampu menutup sekitar 30% dari total kebutuhan dasar satu keluarga.
BACA JUGA
Data terbaru dari World Food Programme (WFP) mencatat biaya ransum makanan standar bagi satu keluarga kini mencapai 44,2 juta pound Lebanon atau setara Rp8,3 juta. Pantauan di pasar tradisional menunjukkan harga daging dan sayuran telah naik 10% hingga 15% bahkan sebelum memasuki bulan suci.
Berdasarkan data Numbeo, ibu kota Beirut kini berada di peringkat ketujuh sebagai kota termahal di Timur Tengah. Situasi ini menjadi ironi bagi negara yang telah dilanda krisis finansial berkepanjangan sejak 2019.
Kebijakan pajak baru tersebut dinilai sejumlah pihak sebagai langkah tergesa-gesa yang justru memperlemah ketahanan ekonomi rakyat menjelang hari raya. Meski dihantam inflasi, semangat warga tetap terlihat dengan dekorasi Ramadan yang menghiasi sudut kota dan desa. Tradisi buka puasa bersama pun tetap dipertahankan sebagai simbol ketangguhan masyarakat Lebanon dalam menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian politik yang belum berakhir.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Produksi Sampah di Bantul Naik 8 Persen Selama Libur Lebaran
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Pembangunan Ratusan Sekolah Rakyat Dikebut, Ditarget Kelar Juli 2026
- Mobil Dinas Baru di Pemkab Gunungkidul Batal, Jalan Rusak Jadi Fokus
- Teh Bisa Kehilangan Manfaat Jika Dicampur Ini
- Ratusan Pemudik Pilih Balik Naik Kapal Perang dari Semarang
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Belajar Daring untuk Hemat Energi, Kualitas Pendidikan Dipertanyakan
Advertisement
Advertisement







