Anies Kirim Surat Ke UNESCO agar Jakarta Jadi Kota Literatur Dunia

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kiri) bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMNErick Thohir (kanan) saat menghadiri kegiatan penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara Jakarta Experience Board atau PT Jakarta Tourisindo (JXB), Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), dan PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ) di Halaman Museum Fatahillah, Taman Sari, Jakarta Barat, Rabu (28/4 - 2021) / Dok. Humas Pemprov DKI Jakarta
01 Mei 2021 16:47 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan proposal pencalonan Jakarta sebagai UNESCO World Book City (WBC) atau UNESCO Kota Buku Dunia pada 2023. Pengajuan ini diklaim seiring dengan kenaikan literasi warga.
Proposal pencalonan ini telah dikirimkan kepada UNESCO pada 15 April 2021. Jakarta mengusung tagline Eja.kar.ta Everybody’s Reading.
Anies menerangkan langkah itu diambil berkaca pada kenaikan tingkat literasi warga Ibu Kota beberapa waktu terakhir.  Hingga 2020, tercatat 19 persen penerbit di Indonesia berada di Jakarta dan telah mendaftarkan 14.906 ISBN. Jakarta juga berkontribusi pada 25 persen koleksi digital nasional. 
Angka ini, menurut Anies, relatif signifikan menempatkan Indonesia sebagai negara produktif dalam industri penerbitan di Asia Tenggara pada 2019. Dalam kegiatan literasi, Jakarta sempat menjadi tempat penyelenggaraan sejumlah acara seperti Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta International Literary Festival (JILF), dan Jakarta Content Week (Jaktent).
“Kami juga mendirikan di banyak lokasi dan titik di ruang publik yang menyediakan buku bagi warga, yang bisa dibaca di tempat. Ini sesuai dengan tema yang kami ajukan, Everybody’s Reading,” kata Anies melalui keterangan tertulis, Sabtu (1/4/2021).
Anies mengatakan pencalonan ini tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia. Indonesia, menurut dia, dibangun melalui perjuangan dan dengan imajinasi. Imajinasi tentang sebuah negara merdeka, negara yang melindungi warganya, yang mempersatukan semua komponen bangsa, dan menyelenggarakan keadilan sosial.
“Imajinasi itu dibangun melalui kata, melalui kalimat. Disebarkan melalui buku, majalah, koran, media massa. Apalagi di Jakarta ini, di kota ini penerbit buku pertama berdiri dan menjadi tempat perhelatan diskusi-diskusi besar kebangsaan,” tuturnya.
Pengajuan proposal ini dilakukan oleh Komite Jakarta Kota Buku yang dibentuk oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, melalui Keputusan Gubernur Nomor 742 Tahun 2020.
Sejumlah kutipan para penulis Indonesia saat ini sudah bisa dilihat di sejumlah media luar ruang yang dikelola Pemprov DKI Jakarta, di antaranya di beberapa stasiun MRT Jakarta. Kutipan-kutipan terpilih tersebut adalah dari Wiji Thukul, Sapardi Djoko Damono, Laksmi Pamuntjak, Agustinus Wibowo, Avianti Armand, M. Aan Mansyur, Yusi Avianto Pareanom.
Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengikuti pencalonan untuk menjadi City of Literature 2021, di mana proposal paling lambat harus diterima UNESCO pada Juli 2021. Untuk itu, saat ini Komite Jakarta Kota Buku tengah dalam proses penulisan proposal untuk bisa memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia