BMKG Terbitkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi hingga 4 Meter pada 15-18 Oktober
BMKG memperingatkan potensi gelombang hingga 4 meter pada 15-18 Oktober 2026. Nelayan dan pelaku transportasi laut diminta waspada.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA - Iklan rokok dan akses pembelian yang mudah dinilai memicu kenaikan angka perokok pemula di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Edy Suandi Hamid.
Dia memaparkan kenaikan tersebut berkisar 240 persen pada usia 10-14 tahun dan 140 persen pada usia 15-19 tahun, yang dipicu oleh dua hal tersebut.
“Global Youth Tobacco Survey tahun 2019 menyatakan 40,6 persen pelajar Indonesia di umur 13-15 tahun pernah merokok,” ujar Edy di Jakarta, Jumat (19/3/2021).
Dalam diskusi bertema "Pentingnya Pelarangan Total Iklan, Promosi dan Sponsor (IPS) Rokok di Perguruan Tinggi untuk mewujudkan Target Penurunan Prevalensi Perokok Pemula," Edy memaparkan dari jumlah anak-anak tersebut banyak diantaranya yang tidak dicegah saat membeli rokok.
Baca juga: Akhir Pekan, KAI Daop 6 Yogyakarta Jalankan KA Sancaka dan Mutiara Timur
Konsumsi tembakau sejak tahun 1970 dipengaruhi rendahnya harga rokok, peningkatan jumlah penduduk, pendapatan rumah tanggan dan proses mekanisme industri rokok, menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia.
Bahkan adanya iklan rokok dan akses mudah mendapatkannya, serta harga yang masih murah meski sering terjadi kenaikan cukai rokok menjadi penyebab laju jumlah perokok muda terhitung 2008-2018.
Angka perokok pemula banyak terlihat di masyarakat pedesaan, dan paling banyak terlihat di Kota Lampung, kata Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta itu.
Bahkan menurut Edy, adanya pandemi Covid-19 tidak menurunkan jumlah perokok, malah konsumsinya menjadi meningkat, karena banyak yang bekerja dari rumah.
Menurut Edy, menurunkan angka perokok pemula tidak cukup di lingkungan kampus, melainkan mulai dari pendidikan dasar.
“Menurunkan perokok pemula tidak cukup mencegah di perguruan tinggi saja, namun harus diseriusi dari tingkat dasar,” kata dia.
Dia menyoroti jumlah perokok pemula yang semakin banyak akan menjadikan bencana demografi, dengan adanya masalah yang ditimbulkan baik dari sisi ekonomi dan kesehatan.
Baca juga: 35 Warga Jogokariyan Positif Covid-19, Jogja Belum Tentukan Zona Merah
Oleh karenanya, pendidik di tingkat manapun diimbau proaktif memberikan panutan dan keteladanan untuk tidak merokok dan menjauhinya.
Sementara penasihat Indonesia Institute for Social Development Sudibyo Markus menyebut pengendalian tembakau bersifat mendesak, dan diperlukan upaya lintas sektoral untuk mencapainya.
Selain menerapkan kawasan tanpa rokok, utamanya di lingkungan pendidikan dan lembaga publik, diperlukan juga political will atau membangun keinginan politik untuk mengubah regulasi agar mencegah anak-anak maupun remaja jadi perokok pemula.
“Masyarakat, termasuk kalangan menengah ke bawah pun seharusnya tak mendapat kemudahan akses terhadap rokok. Hal ini dikarenakan, banyak masyarakat kurang mampu yang menjadi konsumen rokok, yang seharusnya uang tersebut digunakan untuk membeli makanan sehat,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
BMKG memperingatkan potensi gelombang hingga 4 meter pada 15-18 Oktober 2026. Nelayan dan pelaku transportasi laut diminta waspada.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Jumat 16 Oktober 2026 tersedia untuk 5 rute. Simak jam keberangkatan dan tarif Rp80.000 per penumpang.
Jadwal KA Bandara YIA, Jumat 16 Oktober 2026, tersedia 24 perjalanan dari YIA ke Stasiun Tugu dan sebaliknya. Cek jam keberangkatan lengkapnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jam keberangkatan dari Jogja dan Kutoarjo.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 16 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap dari Stasiun Palur hingga Jogja/Tugu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 16 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.