Advertisement
Muhammadiyah: Beli Rokok Gampang Picu Kenaikan Perokok Pemula
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Iklan rokok dan akses pembelian yang mudah dinilai memicu kenaikan angka perokok pemula di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Edy Suandi Hamid.
Dia memaparkan kenaikan tersebut berkisar 240 persen pada usia 10-14 tahun dan 140 persen pada usia 15-19 tahun, yang dipicu oleh dua hal tersebut.
Advertisement
“Global Youth Tobacco Survey tahun 2019 menyatakan 40,6 persen pelajar Indonesia di umur 13-15 tahun pernah merokok,” ujar Edy di Jakarta, Jumat (19/3/2021).
Dalam diskusi bertema "Pentingnya Pelarangan Total Iklan, Promosi dan Sponsor (IPS) Rokok di Perguruan Tinggi untuk mewujudkan Target Penurunan Prevalensi Perokok Pemula," Edy memaparkan dari jumlah anak-anak tersebut banyak diantaranya yang tidak dicegah saat membeli rokok.
Baca juga: Akhir Pekan, KAI Daop 6 Yogyakarta Jalankan KA Sancaka dan Mutiara Timur
Konsumsi tembakau sejak tahun 1970 dipengaruhi rendahnya harga rokok, peningkatan jumlah penduduk, pendapatan rumah tanggan dan proses mekanisme industri rokok, menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia.
Bahkan adanya iklan rokok dan akses mudah mendapatkannya, serta harga yang masih murah meski sering terjadi kenaikan cukai rokok menjadi penyebab laju jumlah perokok muda terhitung 2008-2018.
Angka perokok pemula banyak terlihat di masyarakat pedesaan, dan paling banyak terlihat di Kota Lampung, kata Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta itu.
Bahkan menurut Edy, adanya pandemi Covid-19 tidak menurunkan jumlah perokok, malah konsumsinya menjadi meningkat, karena banyak yang bekerja dari rumah.
Menurut Edy, menurunkan angka perokok pemula tidak cukup di lingkungan kampus, melainkan mulai dari pendidikan dasar.
“Menurunkan perokok pemula tidak cukup mencegah di perguruan tinggi saja, namun harus diseriusi dari tingkat dasar,” kata dia.
Dia menyoroti jumlah perokok pemula yang semakin banyak akan menjadikan bencana demografi, dengan adanya masalah yang ditimbulkan baik dari sisi ekonomi dan kesehatan.
Baca juga: 35 Warga Jogokariyan Positif Covid-19, Jogja Belum Tentukan Zona Merah
Oleh karenanya, pendidik di tingkat manapun diimbau proaktif memberikan panutan dan keteladanan untuk tidak merokok dan menjauhinya.
Sementara penasihat Indonesia Institute for Social Development Sudibyo Markus menyebut pengendalian tembakau bersifat mendesak, dan diperlukan upaya lintas sektoral untuk mencapainya.
Selain menerapkan kawasan tanpa rokok, utamanya di lingkungan pendidikan dan lembaga publik, diperlukan juga political will atau membangun keinginan politik untuk mengubah regulasi agar mencegah anak-anak maupun remaja jadi perokok pemula.
“Masyarakat, termasuk kalangan menengah ke bawah pun seharusnya tak mendapat kemudahan akses terhadap rokok. Hal ini dikarenakan, banyak masyarakat kurang mampu yang menjadi konsumen rokok, yang seharusnya uang tersebut digunakan untuk membeli makanan sehat,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Catat Gempa Magnitudo 7 di Kalimantan Utara, Pusat di Daratan
- Operasi SAR KLM Nur Ainun Balqis Dihentikan, 2 Korban Masih Hilang
- Kawanan Gajah Liar Rusak Perumahan Karyawan di Siak, Tiga Motor Hancur
- DPR Nilai Penganiayaan Anak oleh Brimob Brutal, Desak Proses Pidana
- BBPOM Bagikan Kiat Pilih Takjil Aman Selama Ramadan
Advertisement
Pendidikan Khas Kejogjaan Ditargetkan Masuk Semua Sekolah DIY
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
- Syuting Lisa BLACKPINK di Kemang Dijaga Polisi, Warga Antusias
- MUI Ingatkan Risiko Jika Produk AS Dikecualikan dari Label Halal
- Nutrisi Ibu Hamil Tentukan Otak dan Imunitas Anak Sejak Janin
- Bos Kartel El Mencho Tewas Ditembak, Meksiko Dilanda Kerusuhan
- NPC Sleman Pindah Sekretariat ke Kompleks Pemkab Demi Atlet
- Masjid Nurul Ashri Hidupkan Ramadan lewat Pendidikan Politik
- KPK Pastikan Menag Tak Terjerat Pidana Seusai Lapor Jet Pribadi
Advertisement
Advertisement







