Advertisement
Trump Ancam Iran Jika Tindas Demonstran, Ketegangan Memuncak
Presiden Ameriksa Serikat (AS), Donald Trump. - Reuters/Jonathan Ernst
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan respons keras jika aparat terus menindak dan menewaskan demonstran di tengah gelombang protes besar akibat krisis ekonomi.
Dalam wawancara dengan radio Hugh Hewitt pada Kamis (8/1/2026), Trump menyatakan kesiapannya untuk "menggempur" Iran jika otoritas setempat terus menggunakan kekerasan mematikan terhadap warga sipil.
Advertisement
Laporan dari Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mengungkap data mengkhawatirkan terkait unjuk rasa yang telah menyebar ke 92 kota dalam 10 hari terakhir.
- Korban Jiwa: Tercatat 36 orang tewas, terdiri dari 34 demonstran dan 2 petugas keamanan.
BACA JUGA
- Korban di Bawah Umur: Empat di antara korban tewas adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun.
- Kondisi Lapangan: Puluhan warga terluka akibat penggunaan peluru karet dan plastik oleh aparat di 27 provinsi.
"Saya sudah memperingatkan mereka bahwa jika mereka mulai membunuh orang—yang biasanya mereka lakukan saat kerusuhan—kami akan menghantam mereka dengan sangat keras," tegas Trump menanggapi situasi tersebut.
Aksi massa yang meletus sejak akhir Desember 2025 awalnya dipicu oleh hiperinflasi dan krisis ekonomi akut. Namun, gerakan ini dengan cepat bertransformasi menjadi tuntutan perubahan rezim di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Otoritas Iran merespons ancaman AS melalui Sekretariat Dewan Pertahanan Tertinggi. Mereka menuduh Washington sengaja memanaskan situasi domestik dan menegaskan bahwa kedaulatan Iran adalah harga mati yang tidak boleh dilanggar oleh pihak luar.
Ancaman Trump kali ini dipandang lebih serius oleh komunitas internasional menyusul tindakan drastis AS menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Saat ini, Maduro mendekam di penjara New York setelah operasi yang memicu kontroversi hukum internasional.
Langkah terhadap Venezuela tersebut menciptakan kekhawatiran global bahwa AS di bawah kepemimpinan Trump mungkin akan menerapkan operasi serupa terhadap negara-negara yang berseberangan dengan kepentingannya, termasuk Kolombia dan Iran. Situasi ini menempatkan hubungan Washington-Teheran pada titik terendah, di saat Iran sendiri sedang berjuang menghadapi ketidakstabilan internal yang parah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Tebing Tanjakan Clongop Longsor Lagi, Akses Gunungkidul-Klaten Putus
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
- Belajar Daring untuk Hemat Energi, Kualitas Pendidikan Dipertanyakan
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Anak Balita Tiba-Tiba Menolak Makan, Ini Penyebabnya
- Mobil Dinas Dipakai Mudik, Tunjangan ASN Temanggung Langsung Dipangkas
- Kementerian Pertahanan Pastikan Pemberlakuan WFH Karyawan
- Rabu Tak Lagi ke Kantor, ASN di Jatim Mulai WFH Rutin
Advertisement
Advertisement







