Advertisement
Industri Ganja Thailand Berubah, Ribuan Toko Tutup
Ilustrasi penggunaan daun ganja sebagai esensial oil / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Thailand memperketat regulasi ganja dengan mengembalikan penggunaannya khusus untuk medis. Dampaknya, ribuan toko ganja rekreasional terpaksa tutup sejak awal 2025.
Pemerintah menilai regulasi sebelumnya "salah kaprah" dan kini berupaya mengembalikan ganja ke jalur kesehatan. Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Pattana Promphat, menegaskan bahwa rancangan aturan baru mencakup izin penelitian, ekspor, serta pengolahan komersial terbatas.
Advertisement
Berdasarkan aturan ini, transaksi ganja hanya boleh dilakukan di fasilitas berlisensi melalui resep dokter resmi. "Bisnis terkait ganja harus beradaptasi, dan operator perlu mempertimbangkan prosesnya," ujar Pattana, dikutip dari The Nation Thailand.
Dampak langsung pada kelangsungan bisnis retail. Data per 28 Desember 2025 menunjukkan penurunan drastis jumlah pemain di industri ini:
BACA JUGA
- Total Bisnis: 18.433 unit beroperasi secara nasional.
- Lisensi Kedaluwarsa (2025): 8.636 lisensi habis masa berlaku.
- Tingkat Keberhasilan: Hanya 1.339 toko (15,5%) yang berhasil memperbarui izin.
- Angka Penutupan: Sebanyak 7.297 toko terpaksa tutup karena gagal memenuhi standar medis.
Tren penutupan ini diprediksi berlanjut, mengingat 4.587 lisensi akan berakhir pada 2026 dan 5.210 lisensi lainnya pada 2027.
Untuk mendapatkan izin baru, pelaku usaha harus bertransformasi menjadi institusi medis, apotek, atau praktik penyembuhan tradisional. Syarat yang ditetapkan meliputi:
- Kepastian Hukum: Status properti tempat usaha harus legal dan jelas.
- Infrastruktur: Wajib memiliki sistem pengendali bau dan asap agar tidak mengganggu lingkungan.
- Fasilitas Gudang: Ruang penyimpanan harus memiliki kontrol suhu, kelembapan, dan standar kebersihan tinggi.
- Tenaga Ahli: Setiap outlet wajib mempekerjakan minimal satu staf bersertifikat dari Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand.
Meskipun akses rekreasional dipangkas habis, pemerintah menjamin masa transisi tidak akan merugikan pasien. Pemilik lisensi aktif masih boleh beroperasi hingga masa berlakunya berakhir, namun wajib mengikuti aturan baru saat perpanjangan.
"Pasien yang menggunakan ganja untuk pengobatan tentu tidak akan menghadapi kelangkaan," tegas Menteri Pattana.
Langkah ini menjadi upaya strategis Thailand dalam menyeimbangkan kontrol ketat negara dengan pemenuhan hak akses kesehatan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Arus Kendaraan di Jalan Tol Meningkat Jelang Libur Isra Mikraj
- Banjir Bandang di Pulau Siau Sulawesi Utara Berdampak pada 1.377 Warga
- Dokter Peringatkan Risiko Penyakit Pekerja Lapangan Saat Banjir
- Sejumlah Negara di Eropa Imbau Warganya Tinggalkan Iran karena Protes
- Syafiq Ridhan Ali, Korban Hilang Gunung Slamet Ditemukan Meninggal
Advertisement
Mahfud: Rekrutmen Polisi Tanpa Titipan Mulai Diberlakukan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Bulgaria Siap Meramaikan FIFA Series 2026 di Indonesia
- Korban Arisan Online Geruduk Rumah LK, Kerugian Rp10 M
- Keran Air Siap Minum Aktif Lagi di Malioboro, Ini Titik Lokasinya
- Sleman Mulai Monitoring Penerapan UMK 2026 di Industri Menengah
- Pemkab Kulonprogo Genjot Pembukaan Jalan Baru di Perbukitan Menoreh
- PUKAT UGM: KUHAP Tak Atur Penampakan Tersangka dalam Konferensi Pers
- Disnakertrans Bantul Temukan Pelanggaran UMK 2026 saat Sidak
Advertisement
Advertisement




