Advertisement
Penembakan Agen Federal di Portland Picu Protes Tolak ICE
Ilustrasi. - freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Penembakan yang melibatkan agen federal di Portland, Amerika Serikat, memicu kemarahan publik dan gelombang protes menuntut penghentian operasi ICE di Oregon.
The Guardian melaporkan, dua orang ditembak di luar sebuah rumah sakit di Portland pada Kamis (8/1/2026), hanya berselang sehari setelah petugas imigrasi federal menembak mati seorang perempuan di Minneapolis.
Advertisement
Rangkaian peristiwa berdarah ini memperdalam ketegangan nasional terkait kebijakan penegakan imigrasi dan penggunaan kekuatan berlebih oleh aparat di bawah pemerintahan Trump.
Biro Kepolisian Portland (PPB) menemukan dua korban luka tembak sekitar 5 km dari lokasi awal laporan di luar Rumah Sakit Adventist. Satu korban menderita luka tembak di kaki dan satu lainnya di bagian dada.
BACA JUGA
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengeklaim bahwa agen patroli perbatasan tengah memburu seorang pria yang dicurigai sebagai imigran ilegal anggota geng asal Venezuela. Menurut versi DHS, agen melepaskan tembakan "defensif" setelah kendaraan tersangka mencoba menabrak petugas saat akan dihentikan.
Namun, narasi tersebut diragukan oleh Wali Kota Portland, Keith Wilson.
"Ada masa ketika kami bisa menerima penjelasan mereka begitu saja. Masa itu sudah lama berlalu," tegas Wilson.
Seorang saksi mata di lokasi melaporkan petugas mencoba menjebak sebuah truk Toyota sebelum melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang berusaha melarikan diri tersebut.
Insiden ini memicu kecaman keras dari jajaran pejabat Oregon. Anggota DPR AS, Maxine Dexter, mendesak agar Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) segera menghentikan seluruh operasinya di Portland karena dinilai menyebarkan "teror, kekacauan, dan kekejaman."
Senada dengan Dexter, Senator Negara Bagian Oregon, Kayse Jama, secara tegas menolak kehadiran agen federal tersebut. "Ini Oregon. Kami tidak membutuhkan kalian, kalian tidak diterima," ujar Jama mendesak penghentian operasi hingga penyelidikan tuntas.
Menyusul insiden tersebut, sekitar seratus demonstran berkumpul di Balai Kota Portland dengan meneriakkan slogan "Abolish ICE!". Portland sendiri memiliki sejarah panjang konflik dengan otoritas imigrasi federal.
Di sisi lain, Senator Jeff Merkley meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. "Trump ingin memicu kerusuhan. Jangan terpancing," peringat Merkley.
Eskalasi konflik juga merembet ke ranah hukum. FBI dilaporkan telah mengambil alih penyelidikan kasus Portland dan Minneapolis. Di Minneapolis, langkah federal yang menarik akses otoritas negara bagian (BCA) dalam penyelidikan memicu ketegangan antara Gubernur Minnesota, Tim Walz, dengan Menteri DHS, Kristi Noem.
Pemerintahan Trump berupaya membenarkan penembakan di Minneapolis dengan menuduh korban melakukan "terorisme domestik". Namun, klaim tersebut disanggah oleh aktivis masyarakat sipil karena dianggap bertentangan dengan rekaman video yang beredar luas di publik. Situasi ini kian mengindikasikan keretakan hubungan antara pemerintah federal dan pemerintah daerah di Amerika Serikat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- KPK Belum Tahan Yaqut dan Gus Alex, Tunggu Proses Lengkap
- Yaqut Resmi Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Segini Daftar Kekayaannya
- Bahlil: Tambang untuk Ormas Tetap Jalan Meski Diuji MK
- Ketegangan Baru: Uni Eropa Kritik Klaim Donald Trump atas Greenland
- Pencurian Baut Rel di Blitar Ancam Keselamatan Kereta
Advertisement
Tekan Stunting di Bantul, Edukasi Remaja Jadi Fokus Utama
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
- Insentif Guru Swasta Terancam, DPRD DIY Siapkan Skema
- Ekspor Toyota ke Venezuela Tetap Normal di Tengah Gejolak
- Dari Malioboro, Beny Bangun Usaha Kain Perca di Kulonprogo
- Libur Nataru 2025/2026, Wisata Sleman Putar Rp362 Miliar
- Jadwal KRL Solo Jogja, Jumat 9 Januari 2026
- PSG Juara Piala Super Prancis 2025 Usai Kalahkan Marseille
- Jadwal SIM Keliling Polda DIY, Jumat 9 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



