Puluhan Babi di Klaten Diserang Virus yang Belum Ada Obatnya, Sehari Bisa Langsung Mati

Ilustrasi. - Freepik
05 Januari 2021 05:17 WIB JIBI News Share :

Harianjogja.com, KLATEN - Kasus babi mati mendadak terjadi di Klaten. Puluhan babi di Klaten mati mendadak karena terserang virus African Swine Fever (ASF) yang diketahui belum ada obat penangkalnya hingga sekarang.

Pelaksana Tugas (PLt) Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Awik Purwanti, mengatakan timnya telah menelusuri penyebab banyaknya hewan babi yang mati mendadak di kawasan Jogonalan, Agustus 2020-September 2020.

Sesuai hasil penelusuran bersama Balai Besar Veteriner Jogja menyebutkan kematian hewan babi di Jogonalan karena terserang penyakit ASF. Di waktu berikutnya, kasus kematian babi dengan penyebab virus serupa juga terjadi di Ngawen. Sejak Agustus 2020-awal Januari 2021, babi yang mati karena positif ASF sedikitnya mencapai 20 ekor.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Sudah Disebar sebelum Izin BPOM Keluar, Ini Penjelasannya

"Penyakit ini berasal dari luar daerah. Kasus kali pertama terjadi di Medan di tahun 2019. Setelah itu ke NTT, Bali, Sleman (Jogja). Gejala babi yang terkena virus ini nafsu makan berkurang [menyerang limpa]. Yang diserang hanya indukan atau babi yang sudah besar [tidak bersifat zoonosis]. Jika sudah terserang, dalam satu hari itu bisa langsung mati. Nah, kasus ini sudah ada di Jogonalan dan Ngawen. Kami hanya berbicara soal penyakitnya itu. Kalau maraknya bangkai babi yang dibuang di sungai di Klaten, biar polisi saja," kata Awik Purwanti, saat ditemui wartawan di kantornya, Senin (4/1/2021).

Kepala DPKPP Klaten, Widiyanti, mengatakan penanganan dan pencegahan ASF dengan mengoptimalkan biosecurity. Hal itu disebabkan karena penyakit jenis ini belum ditemukan obatnya.

"Upayanya berupa desinfektasi, memperketat orang yang keluar-masuk kandang babi, tidak membeli ternak dari daerah wabah. Ternak babi yang mati segera dikubur [tak dibuang]. Terkait antisipasi perkembangan ASF, yakni dilakukan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)," katanya.

Pembuangan Bangkai

Terpisah, Kasatreskrim Polres Klaten, AKP Andriansyah Rithas Hasibuan, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Edy Suranta Sitepu, mengatakan jajarannya telah menangkap pelaku pembuangan bangkai babi di Jatinom, yakni AW. Sehari-harinya, AW bekerja sebagai peternak babi.

Baca juga: Bantah Kabar Kondisi Kritis, Keluarga Pastikan Kesehatan Syekh Ali Jaber Membaik

"Kami telah memeriksa enam saksi. Motif kenapa pelaku membuang tiga bangkai babi ke sungai karena AW dilanda kebingungan. Yang bersangkutan ini bingung karena hewan babinya sudah mati 11 ekor dalam satu pekan. Delapan ekor sudah dikubur. Sedangkan tiga ekor dibuang di sungai di Jatinom. Pekerjanya yang disuruh menggali tanah sudah tak sanggup lagi karena malam hari. Akhirnya, tiga ekor babi yang sudah mati dibuang begitu saja di sungai di Jatinom," katanya.

AKP Andriansyah Rithas Hasibuan masih mendalami kasus pembuangan bangkai babi di sungai tersebut. Terhadap pembuang babi terancam dijerat UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup atau Perda No. 12/2003 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (K3).

"Pengakuan pembuang bangkai babi itu, hewan ternaknya terserang penyakit merah. Sebanyak 11 babi yang mati semuanya indukan. Sedangkan, babi yang masih kecil masih hidup. Matinya memang mendadak. Ini kami masih menelusurinya apakah penyebabnya benar ASF itu atau tidak [pembuang bangkai babi di sungai terancam hukuman penjara tiga tahun dan denda Rp3 miliar (UU No. 32/2009) atau terancam kurungan tiga bulan dan/atau denda Rp50 juta (Perda No. 12/2003)]," katanya.

Sumber : Solopos.com