Haul Gus Dur Ke-11: Jiwa Gus Dur Tetap Bersemayam di Khalayak

Istri mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, Nyai Sinta Nuriyah saat ziarah di makam Gus Dur, di kompleks pemakaman di area Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. - Antara/dokumen
31 Desember 2020 21:07 WIB Sirojul Khafid News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masa sulit selama pandemi Covid-19 menjadi momen mengingat kembali alhamrhum Abdurahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur.

Putri ketiga Gus Dur, Anitta Hayatunnufus Rahman, mengatakan walau telah meninggal, jiwa ayahnya tetap bersemayam di banyak orang. Gus Dur tidak pernah pergi dari ingatan setiap orang.

“Agak aneh apabila kita mau mengingat Gus Dus,” kata Anita pada acara haul ke-11 Gus Dur yang ditayangkan secara daring dari Jogja, Jombang, dan Jakarta pada Rabu (30/12/2020).

“Saat melihat ketidakadilan terjadi di Bumi Indonesia, kita mengingat Gus Dur. Saat ada penindasan kepada anak bangsa, kita mengingat Gus Dur. Saat ada pembungkaman terhadap kaum rentan, kita mengingat Gus Dur.”

Anita juga menyatakan saat banyak orang mulai kehilangan harapan, seperti di masa pandemi Covid-19, kenangan-kenangan akan Gus Dur kembali teringat. Sosok Gus Dur merupakan sosok yang menggaungkan cinta, asih, toleransi, penghormatan, pesaudaraaan, perasaan, dan rasa aman. “Selama tidak berhenti berjuang, harapan selalu ada, mungkin kita tidak merasakan, tapi anak cucu akan merasakannya nanti,” kata Anita.

Dalam masa pandemi Covid-19 yang berdampak pada banyak pihak, Anita mengapresiasi banyak masyarakat yang saling tolong-menolong. Bahkan tanpa dikomando dan tidak jarang lebih sigap daripada pemerintah. Hal ini sejalan dengan tema Haul Ke-11 Gus Dur yaitu Persatuan dan Solidaritas untuk Satu Negeri dan Satu Cinta.

Di sambutan lain, Imam Besar Masjid Istiqlal Nazarudin Umar bercerita bahwa Gus Dur merupakan sosok yang berani menyingkirkan kepentingan subyektif dan meninggalkan ego untuk berjuang di jalan Allah. Orang yang sudah pada tahap tersebut, walaupun meninggal secara fisik tapi jiwanya masih tetap hidup. “Sebenarnya Gus Dur itu tidak wafat, bahkan [dia] tetap mendapatkan rizkinya di sini [dunia] dan di sana [akhirat],” kata Nazarudin.

Semasa Gus Dur masih hidup, Nazarudin merupakan salah satu rekannya dalam hal spiritual. Suatu hari, Nazarudin menemani Gus Dur mencari makam Syekh Jamaludin, guru dari Walisongo. Makam tersebut berada di pedalaman Sulawesi Selatan. Mobil model sedan yang mereka kendarai tidak bisa menmbus jalan yang masih jelek.

“Malam itu enggak bisa ditembus, balik lagi. Tahun berikutnya datang lagi akhirnya tembus,” kata Nazarudin.

Saat itu, Gus Dur menjelaskan kepada warga dan pemerintahan setempat bahwa tempat tersebut makam Shekh Jamaludin, guru Walisongo. Sejak saat itu, jalur dan lokasi sekitar makam diperbaiki. Sekarang banyak orang yang ziarah. “Dari Malaysia, Brunei, dan Jawa Timur banyak yang ke sana,” kata Nazarudin.

Cerita tentang kebersamaan dengan Gus Dur juga dimiliki oleh Makruf Islamuddin, pengasuh Pondok Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah. Kala itu, Gus Dur dan Makruf bertemu di sebuah acara sebagai sesama pengisi materi. Sejak saat itu, mereka saling berkunjung satu sama lain.

Makruf merupakan salah satu pendakwah yang menggunakan medium nyanyian dan alat musik, sesuatu yang belum begitu lumrah kala itu. Banyak pengkritik yang menyatakan musik haram dan suara perempuan merupakan aurat. Pada sebuah acara, Gus Dur memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa dahulu Walisongo menggunakan wayang untuk syiar agama Islam.

Secara tidak langsung, Gus Dur mendukung cara Makruf dalam berdakwah menggunakan alat musik organ. “Asal organ-nya jangan dibawa masuk masjid saja,” kata Makruf menirukan perkataan Gus Dur kala itu.

Selain sambutan dan pemaparan materi dari tiga orang di atas, adapula perwakilan dari berbagai agama yang memberikan testimoni terkait Gus Dur. Adapula perwalikan dari masyarakat adat Sedulur Sikep, Sunda Wiwitan, dan para musisi. Acara diakhiri dengan penampilan dari band Efek Rumah Kaca.