Epidemiolog Sebut GeNose Tak Mungkin Gantikan Tes PCR & Antigen

GeNose. - Kemenristek
27 Desember 2020 09:47 WIB Fitri Sartina Dewi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Epidemilog Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyoroti pemberian izin edar untuk alat pendeteksi Covid-19 besutan para ahli UGM, GeNose dari Kementerian Kesehatan.

Pandu mempertanyakan validitas dari alat pendeteksi tersebut dan menyebut bahwa tidak mungkin alat tersebut menggantikan tes swab PCR dan rapid test antigen dalam mendeteksi Covid-19.

Dia pun meminta agar dilakukan kajian ulang atas validitas dari alat pendeteksi Covid-19 itu sebelum dipakai secara luas di publik.

BACA JUGA : Peroleh Izin Edar, GeNose Buatan UGM Bisa Deteksi Covid

"Tidak mungkin menggantikan tes swab PCR dan Antigen. Masih perlu dikaji ulang secara terbuka untuk isu validitas nya sebelum dipakai luas di publik," ujanya melalui akun media sosial twitter @drpriono1, Minggu (27/12/2020).

Pada cuitan sebelumnya, Pandu juga menyatakan bahwa istilah AI (Artificial Intelligence) dan ML (Machine Learning) tidak bisa menggantikan logika dan substansi keilmuan yang ingin diterapkan.

"Misalnya untuk diagnostik Covid-19. Pengujian validasinya juga tetap mengikuti metode riset yang benar. Harapannya hasil nya bisa akurat," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, alat pendeteksi Covid-19 besutan para ahli UGM, GeNose, mengantongi izin edar dan segera diproduksi massal sehingga mempercepat penyaringan orang terinfeksi Covid-19.

Ketua tim pengembang GeNose, Prof. Kuwat Triyana, mengatakan izin edar GeNose dari Kemenkes turun pada Kamis (24/12/2020).

“Alhamdulillah, berkat doa dan dukungan luar biasa dari banyak pihak GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) untuk mulai dapat pengakuan oleh regulator, yakni Kemenkes, dalam membantu penanganan Covid-19 melalui skrining cepat,” kata Kuwat dalam rilis UGM, Sabtu (26/12/2020).

BACA JUGA : GeNose Buatan UGM dapat Izin Edar, Indonesia Bakal Jadi

Menurut Kuwat setelah izin edar diperoleh maka tim akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN dan Kemenristek/BRIN untuk didistribusikan. Mereka berharap agar dengan jumlah GeNose C19 yang masih terbatas ini dapat memberikan dampak maksimal.

“Dengan 100 unit batch pertama yang akan dilepas, kami berharap dapat melakukan 120 tes per alat atau atau totalnya 12 ribu orang sehari. Angka 120 tes per alat itu dari estimasi bahwa setiap tes membutuhkan 3 menit termasuk pengambilan nafas sehingga satu jam dapat mentes 20 orang dan bila efektif alat bekerja selama 6 jam,” urainya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia