Ini Planet Terpanas di Alam Semesta dengan Suhu 3.200 Derajat Celcius

Planet WASP-189b - JIBI
29 September 2020 16:27 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Para ilmuwan melakukan studi rinci tentang planet ekstrasurya WASP-189b dengan menggunakan data dari CHEOPS.

WASP-189b adalah exoplanet yang mengorbit di sekitar bintang HD 133112, salah satu bintang terpanas yang diketahui memiliki sistem planet.

Terletak sekitar 322 tahun cahaya di konstelasi Libra, WASP-189b lebih dari satu setengah kali lebih besar dari Jupiter, planet terbesar di tata surya. Planet ini sangat menarik karena merupakan raksasa gas yang mengorbit sangat dekat dengan bintang induknya. Dibutuhkan kurang dari tiga hari untuk mengelilingi bintangnya, dan artinya itu 20 kali lebih dekat darinya daripada Bumi ke Matahari.

Monika Lendl salah satu ilmuwan yang meneliti temuan itu menjelaskan bahwa objek planet seperti WASP-189b sangat eksotis.

“Mereka memiliki sisi siang permanen, yang selalu terpapar cahaya bintang, dan karenanya, sisi malam permanen. Ini berarti iklimnya sangat berbeda dengan iklim raksasa gas Saturnus dan planet Saturnus di tata surya kita," ujarnya dikutip dari Techexplorist.

Berdasarkan pengamatan menggunakan CHEOPS, diperkirakan suhu WASP-189b sebesar 3.200 derajat Celcius. Hal itu membuatnya dijuluki sebagai "Jupiter ultra-panas".

Dengan suhu setinggi itu, besi akan meleleh dan bahkan menjadi gas dalam hitungan detik.

"Objek ini adalah salah satu planet paling ekstrem yang kami kenal sejauh ini," ujarnya lagi.

CHEOPS menggunakan pengukuran kecerahan yang sangat presisi. Dimana ketika sebuah planet lewat di depan bintangnya seperti yang terlihat dari Bumi, bintang tersebut tampak redup untuk waktu yang singkat. Fenomena ini disebut transit.

“Karena planet ekstrasurya WASP-189b sangat dekat dengan bintangnya, sisi siangnya sangat terang sehingga kita bahkan dapat mengukur cahaya yang 'hilang' ketika planet lewat di belakang bintangnya; ini disebut okultasi. Kami telah mengamati beberapa okultasi WASP-189b dengan CHEOPS. Tampaknya planet ini tidak memantulkan banyak cahaya bintang. Sebaliknya, sebagian besar cahaya bintang diserap oleh planet, memanaskannya, dan membuatnya bersinar," paparnya.

Dia juga menjelaskan bintang yang mengorbit WASP-189b sangat berbeda dari Matahari. Bintang itu jauh lebih besar dan lebih dari dua ribu derajat Celcius lebih panas dari Matahari kita. Karena saking panasnya, bintang tampak biru dan bukan kuning-putih seperti Matahari. Hanya segelintir planet yang diketahui mengorbit bintang panas seperti itu, dan sistem ini paling terang sejauh ini. Akibatnya, ini menjadi patokan untuk studi lebih lanjut. 

Para ilmuwan percaya bahwa planet ini tidak terlalu reflektif karena tidak ada awan di siang hari. Sehingga tidak mengherankan, karena model teoretis memberi tahu kita bahwa awan tidak dapat terbentuk pada suhu setinggi itu.

Willy Benz, profesor astrofisika di Universitas Bern, berkata, mereka juga menemukan bahwa transit raksasa gas di depan bintangnya tidak simetris. Ini terjadi ketika bintang memiliki zona yang lebih terang dan lebih gelap di permukaannya.

"Berkat data CHEOPS, kami dapat menyimpulkan bahwa bintang itu sendiri berputar sangat cepat sehingga bentuknya tidak lagi bulat; tapi ellipsoidal. Bintang itu ditarik keluar di ekuatornya," ujarnya. 

Willy Benz mengatakan mereka berharap ada temuan spektakuler lebih lanjut di exoplanet berkat pengamatan dengan CHEOPS. Sementara itu, hasil temuan ini baru saja diterima untuk dipublikasikan di jurnal Astronomy & Astrophysics.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia