IHSG Menguat Usai Data PDB, Saham DCII hingga AMMN Melonjak
IHSG ditutup naik 0,50% ke level 6.351 usai rilis PDB kuartal II 2026. DCII, BREN, dan AMMN memimpin penguatan saham big caps.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA--Pemerintah membutuhkan biaya besar untuk penerapan vaksin Covid-19.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku butuh dana besar untuk memproduksi Vaksin Covid-19 hingga melakukan imunisasi kepada masyarkat.
Ia mencontohkan, jika harga vaksin 15 dolar AS dan jumlah penduduk sekitar 300 jiwa, maka membutuhkan dana sekitar 4,5 miliar dolar AS.
"Bayangkan ini produksinya 320 sampai 380 juta imunisasi, jarum suntiknya kan musti ada juga segitu banyak, belum tenaga kerjanya, belum beli vaksinnya karena hari ini kan kita belum bisa ciptakan," ujar Erick dalam sebuah perbincangan yang disiarkan Youtube Kumparan, Jumat (7/8/2020).
Kendati begitu, menurut Erick, sumber dana tersebut sudah dibahas oleh pemerintah. Saat ini akan menggunakan dana dari Kementerian Kesehatan untuk produksi hingga tahap imunisasi Vaksin Covid-19.
"Saya rasa ini yang sudah kita rapatkan kemarin, dari anggaran Kemenkes yang tersisa Rp24,9 miliar ya mungkin sebagian buat downpayment vaksin dulu," terang dia.
Dalam pengelolaan dana tersebut, Mantan Bos Klub Inter Milan ini bakal menggandeng BPK hingga BPKP agar prosesnya sesuai dan tak ada penyelewengan dana.
"Kita juga ada pendampaingan melekat dari kejaksaan untuk memastikan proses administrasi aman dan tidak ada celah pemain yang mau mencari keuntungan,"
Selain itu, Erick juga meminta kepada semua pihak untuk bersinergi dalam proses imunisasi kepada masyarakat.
Ia pun menargetkan, pada Januari hingga Februari 2021 Indonesia sudah mulai bisa melakukan proses suntik vaksin sebanyak 30 juta sampai 40 juta vaksin
"Itu lah yang kami kemarin pastikan, bahwa Menkes, Mendikbud, TNI/Polisi, dan PMI harus bersatu pada saat imunisasi," katanya.
Sebelumnya diberitakan, Erick Thohir yang juga Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir memastikan, Bio Farma mampu memproduksi Vaksin Covid-19 hingga 250 juta dosis per tahun pada akhir tahun 2020.
Hal itu dinyatakan Mantan Bos Inter Milan tersebut saat meninjau laboratorium dan fasilitas produksi Bio Farma, perusahaan induk BUMN di bidang farmasi, di Bandung, Jawa Barat, Selasa (4/8/2020).
Kunjungan ini sekaligus untuk memastikan kesiapan uji klinis fase ketiga calon Vaksin Covid-19 hasil kolaborasi bersama Sinovac.
"Hari ini saya memastikan Bio Farma saat ini sudah siap memproduksi 100 juta dosis vaksin Covid-19 per tahun dan di akhir tahun siap memproduksi 250 juta dosis per tahun," ujarnya dalan keterangannya pada Selasa (4/8/2020).
Dalam upaya percepatan penanganan pandemi, Erick menyatakan, salah satu fokus utama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional adalah melipatgandakan ketersediaan vaksin dan terapi pengobatan yang sangat krusial untuk menanggulangi pandemi.
Terkait hal itu, Bio Farma telah memproduksi vaksin sejak 1890 dan dipercaya lebih dari 150 negara dalam memroduksi 15 jenis vaksin, dengan pangsa pasar 75 persen vaksin polio yang menyebar di seluruh dunia. Bio Farma juga memastikan bahwa produknya halal, dan sudah digunakan di beberapa negara Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
IHSG ditutup naik 0,50% ke level 6.351 usai rilis PDB kuartal II 2026. DCII, BREN, dan AMMN memimpin penguatan saham big caps.
Pemerintah menyiapkan water bombing, helikopter, pesawat, hingga modifikasi cuaca untuk menghadapi karhutla Bromo di tengah El Nino.
Polda Metro Jaya menaikkan kasus kematian Sutrimo ke penyidikan. Polisi akan melakukan ekshumasi jenazah pada Rabu (12/8/2026).
Polda Metro Jaya memeriksa Bigmo terkait dugaan promosi likuid vape bersama anak. Simak kasus dan aturan iklan rokok elektronik.
SD Negeri 1 Bantul terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas melalui penyelenggaraan layanan pendidikan terpadu
Potensi produksi nanas yang cukup melimpah di sekitar Desa Lembeng, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, menjadi peluang