Advertisement
Iran Prediksi Perang Timur Tengah Berakhir Sebelum Nowruz
Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua - Shadati
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz yang jatuh pada 21 Maret kini menjadi salah satu penanda penting bagi perkembangan konflik di Timur Tengah. Penasihat militer senior Iran, Yahya Rahim Safavi, memprediksi konflik terbuka antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel akan berakhir sebelum perayaan tersebut.
Pernyataan Safavi yang dikutip dari Iranian Students News Agency (ISNA), memicu spekulasi luas di kalangan internasional. Prediksi itu muncul di tengah kondisi infrastruktur penting Iran yang dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan besar sejak 28 Februari.
Advertisement
Klaim “Kemenangan” dari Washington
Nada optimistis juga datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pernyataan pada Rabu (11/3/2026), Trump menyebut operasi militer yang dilakukan telah mencapai tahap puncak.
BACA JUGA
Ia mengklaim sebagian besar target strategis di wilayah Iran telah berhasil dilumpuhkan.
"Tidak akan ada lagi yang tersisa untuk diserang di sana," ujar Trump.
Meski demikian, Washington belum menunjukkan tanda-tanda akan segera menarik pasukan dari kawasan. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan tekanan maksimal akan tetap dipertahankan hingga tujuan politik utama mereka tercapai.
Sejumlah pengamat menilai tujuan tersebut mengarah pada upaya perubahan rezim atau regime change di Teheran.
Transisi Kepemimpinan di Tengah Konflik
Konflik ini juga memicu perubahan besar dalam peta politik Iran. Seusai wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei pada hari pertama serangan, kepemimpinan Iran beralih kepada putranya, Mojtaba Khamenei.
Transisi kekuasaan yang berlangsung cepat tersebut terjadi ketika Iran masih menghadapi tekanan militer dari luar.
Meski berada di tengah situasi perang, struktur militer Iran dilaporkan masih berjalan stabil. Sejumlah pejabat militer senior, termasuk Safavi, tetap menjalankan perannya dalam menjaga pertahanan negara.
Pada awal konflik, penghancuran program nuklir Iran disebut sebagai alasan utama operasi militer yang dilancarkan pihak lawan. Namun dalam perkembangannya, sejumlah pihak menilai tujuan politik yang lebih luas mulai terlihat, termasuk kemungkinan perubahan pemerintahan di Teheran.
Menunggu Nowruz di Tengah Ketegangan
Di sisi lain, Iran tetap memberikan perlawanan terhadap serangan yang terjadi. Seusai gelombang serangan pertama, Teheran dilaporkan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Kini perhatian dunia tertuju pada perkembangan situasi menjelang perayaan Nowruz. Banyak pihak menilai peluang gencatan senjata mungkin terbuka setelah klaim Amerika Serikat bahwa sebagian besar target serangan telah dihancurkan.
Namun hingga kini belum ada kepastian apakah konflik akan benar-benar mereda sebelum Nowruz, atau justru ketegangan akan kembali meningkat menjelang perayaan tahun baru Persia tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Skandal Haji Eks Menag Yaqut: Kode T0, Bayar Rp84 Juta Bisa Berangkat
- Gugatan Kalah, KPK Jebloskan Mantan Menag Yaqut ke Rutan Merah Putih
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
- Kapal Thailand Diserang di Selat Hormuz hingga Terbakar
- Friderica Widyasari Sari Terpilih Ketua OJK 2026-2031
Advertisement
THR ASN Gunungkidul Cair, Total Anggaran Rp42,7 Miliar
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- OPINI: Bulan Puasa Antara Spiritualitas dan Konsumtivisme
- DPR Setujui RUU PPRT Inisiatif untuk Lindungi ART
- Koperasi Desa Merah Putih Bantul Suplai Bahan MBG ke SPPG
- Prabowo Pastikan Stok BBM dan Gas Nasional Tetap Aman
- BNI Safari Ramadan 2026 Jadi Ajang Silaturahmi dan Berbagi
- Mulai 14 Maret Bus Dilarang Masuk Jalan Panembahan Senopati Jogja
- Psikiater Ungkap Tanda Kecanduan Judi Online yang Perlu Diwaspadai
Advertisement
Advertisement








