Advertisement

Di Tengah Tekanan AS, Kuba Bebaskan 51 Tahanan Lewat Mediasi Vatikan

Jumali
Jum'at, 13 Maret 2026 - 12:17 WIB
Jumali
Di Tengah Tekanan AS, Kuba Bebaskan 51 Tahanan Lewat Mediasi Vatikan Narapidana - Ilustrasi - Freepik

Advertisement


Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kuba mengumumkan keputusan untuk membebaskan 51 narapidana melalui proses mediasi yang difasilitasi oleh Vatikan. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dari Amerika Serikat terhadap pemerintahan komunis di Havana.

Melalui pernyataan resmi yang dikutip dari Reuters, Kementerian Luar Negeri Kuba menyebut pembebasan tersebut dilakukan sebagai bagian dari hubungan diplomatik yang telah lama terjalin antara Kuba dan Takhta Suci.

Advertisement

"Dalam semangat niat baik dan hubungan yang erat dan lancar antara negara Kuba dan Vatikan, yang komunikasinya secara historis telah terjaga mengenai peninjauan dan pembebasan tahanan, pemerintah Kuba telah memutuskan untuk membebaskan 51 orang yang dijatuhi hukuman penjara dalam beberapa hari mendatang," katanya.

Otoritas Kuba juga menjelaskan bahwa para tahanan yang dipilih untuk dibebaskan merupakan narapidana yang telah menjalani sebagian besar masa hukuman serta menunjukkan perilaku baik selama menjalani masa tahanan.

Diplomasi di Tengah Tekanan Politik

Langkah pembebasan tahanan tersebut menjadi sorotan karena waktunya bertepatan dengan meningkatnya ketegangan hubungan antara Kuba dan Amerika Serikat.

Keputusan ini muncul seusai pertemuan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla dengan pemimpin Gereja Katolik di Vatikan sekitar dua pekan sebelumnya. Pertemuan itu dipandang sebagai upaya memanfaatkan jalur diplomasi keagamaan untuk meredakan ketegangan politik.

Secara historis, Vatikan memang beberapa kali berperan sebagai mediator dalam dinamika hubungan internasional Kuba. Pada 2025, misalnya, pemerintah Kuba membebaskan lebih dari 550 tahanan sebagai bagian dari kesepakatan yang dimediasi oleh Gereja Katolik.

Sejak 2010, Havana juga mengklaim telah memberikan pengampunan kepada ribuan narapidana melalui berbagai program amnesti dan pembebasan bersyarat. Namun sejumlah organisasi hak asasi manusia tetap mempertanyakan langkah tersebut karena masih adanya dugaan penahanan terhadap aktivis politik.

Hingga kini belum ada rincian resmi apakah 51 tahanan yang akan dibebaskan termasuk tahanan politik atau hanya narapidana kasus kriminal umum.

Ketegangan dengan Washington

Situasi politik Kuba semakin sensitif setelah hubungan dengan Washington kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan melontarkan pernyataan keras mengenai kondisi ekonomi Kuba yang dinilai semakin rapuh.

"Mereka kehabisan tenaga, mereka tidak punya uang," ujar Trump dalam sebuah pernyataan kepada pers di negara bagian Florida, seraya mengisyaratkan kemungkinan perubahan kekuasaan di negara Karibia tersebut.

Di tengah spekulasi tentang adanya komunikasi tidak resmi antara pejabat Amerika Serikat dan Raúl Guillermo Rodríguez Castro, cucu mantan Presiden Kuba Raúl Castro, pemerintah Kuba memilih bersikap tertutup.

Pemerintah di Havana membantah adanya perundingan resmi dengan Washington, tetapi tidak secara tegas menolak kemungkinan komunikasi informal antara pihak-pihak terkait.

Kini perhatian internasional tertuju pada apakah langkah kemanusiaan melalui mediasi Vatikan ini mampu meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Karibia atau justru menjadi awal perubahan besar dalam dinamika politik Kuba.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

THR Bermasalah? KSPSI Gunungkidul Minta Buruh Berani Melapor

THR Bermasalah? KSPSI Gunungkidul Minta Buruh Berani Melapor

Gunungkidul
| Jum'at, 13 Maret 2026, 13:17 WIB

Advertisement

InJourney Siapkan Agenda Wisata Sambut Libur Lebaran

InJourney Siapkan Agenda Wisata Sambut Libur Lebaran

Wisata
| Kamis, 12 Maret 2026, 22:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement